KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT.yang atas izin dan karuniaNya saya selaku Mahasiswa dapat menyelesaiakan karya tulis ini dengan keterbatasan yang saya miliki dalam penyusunan karya tulis ini.
Karya tulis ini sebagai salah satu syarat dalam memenuhi nilai pelajaran Bahasa Indonesia di SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AR-RIDHA BAGANSIAPIAPI-ROHIL tahun ajaran 2012.
Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT.yang atas izin dan karuniaNya saya selaku Mahasiswa dapat menyelesaiakan karya tulis ini dengan keterbatasan yang saya miliki dalam penyusunan karya tulis ini.
Karya tulis ini sebagai salah satu syarat dalam memenuhi nilai pelajaran Bahasa Indonesia di SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AR-RIDHA BAGANSIAPIAPI-ROHIL tahun ajaran 2012.
BAGANSIAPIAPI,ROHIL
18
NOVEMBER 2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................... 1
DAFTAR ISI............................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 3
A. Latar Belakang Masalah................................................................... 3
B. Maksud dan Tujuan.......................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 4
1. Masa lalu sebagai Bahasa Melayu.......................................... 4
BAB III
STUDI KASUS............................................................................. 8
1.
BAHASA
INDONESIA YANG BER-SINONIM DENGAN BAHASA JAWA..................................................................................... 8
2.1 Bahasa Indonesia...........................................................13
2.2 Sistem
Penulisan............................................................14
2.3 Tata Bahasa
Indonesia...................................................14
2.4 Penyempurnaan
Ejaan....................................................15
2.5 Senarai kata serapan dalam bahasa Indonesia...............17
BAB III PENUTUP.....................................................................................21
1. Peristiwa-peristiwa penting.............................................................21
DAFTAR PUSTAKA........................................................................23
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di area perkotaan (seperti di Jakarta dengan dialek Betawi serta logat Betawi).
Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih resmi, dan seringkali terselip dialek dan logat di daerah bahasa Indonesia itu dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan sesama orang sedaerah kadang bahasa daerahlah yang digunakan sebagai pengganti untuk bahasa Indonesia.
Indonesia termasuk anggota dari Bahasa Melayu-Polinesia Barat subkelompok dari bahasa Melayu-Polinesia yang pada gilirannya merupakan cabang dari bahasa Austronesia. Menurut situs Ethnologue, bahasa Indonesia didasarkan pada bahasa Melayu dialek Riau yang dituturkan di timur laut Sumatra.
B. Maksud dan Tujuan
Dengan
penyusunan karya tulis ini dapat membuktikan bahwa Bahasa khususnya Bahasa
diNegara Indonesia salah satu
dari banyak ragambahasa Melayu dan telah terbagi ke beberapa dialek disetiap Daerah di
Indonesia. Seperti peristiwa penting pada Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan
Indonesia.
Dan Bahasa Indonesia mengalami beberapa
perubahan dari waktu ke waktu seperti pada Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana
menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia dan pada Tanggal 28 Oktober s.d 3
November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres
ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh
Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman,
dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya
karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di
Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa
Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Oleh karena itu Bahasa Indonesia patut untuk
dipertahankan sebagai Bahasa Resmi Republik Indonesia .
BAB II
PEMBAHASAN
1. Masa lalu sebagai Bahasa Melayu
Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah
bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
Aksara pertama dalam bahasa Melayu atau Jawi ditemukan
di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar
ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh
Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau
sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu
yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang
digunakan di Jambi menggunakan dialek "o" sedangkan dikemudian hari
bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.
Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan
Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari,
Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada
wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera.
Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang
lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di
pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi Melayu seperti
disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.
Ibukota Kerajaan Melayu semakin mundur ke pedalaman
karena serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar Bumi Melayu,
belakangan masyarakat pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke
dalam masyarakat Minangkabau menjadi klan Malayu (suku Melayu Minangkabau) yang
merupakan salah satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hingga
ke Filipina membawa penyebaran Bahasa Melayu semakin meluas, tampak dalam
prasasti Keping Tembaga Laguna.
Bahasa Melayu kuno yang berkembang di Bumi Melayu
tersebut berlogat "o" seperti Melayu Jambi, Minangkabau, Kerinci,
Palembang dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam Nagarakretagama disebut Hujung
Medini artinya Semenanjung Medini.
Dalam perkembangannya orang Melayu migrasi ke
Semenanjung Malaysia (= Hujung Medini) dan lebih banyak lagi pada masa
perkembangan kerajaan-kerajaan Islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan
Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (= Semenanjung Malaysia)
yang akhirnya disebut Semenanjung Melayu atau Tanah Melayu. Tetapi nyatalah
bahwa istilah Melayu itui berasal dari Indonesia. Bahasa Melayu yang berkembang
di sekitar daerah Semenanjung Malaka berlogat "e".
Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh Portugis tahun 1512
sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur kepulauan Nusantara.
Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga
pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau
Kalimantan. Suku Dayak yang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu kuno di
Sumatera misalnya Dayak Salako, Dayak Kanayatn (Kendayan), dan Dayak Iban yang
semuanya berlogat "a" seperti bahasa Melayu Baku.
Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai
bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam
perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga
muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara.
Secara sudut pandang historis juga dipakai sebagai
nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang
dikenal sebagai rumpun Indo-Melayu terdiri Proto Melayu (Melayu Tua/Melayu
Polinesia) dan Deutero Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun masa yang
panjang sampai dengan kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu
sebagai etnik mengalami penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim)
yang sebenarnya didalamnya juga telah mengalami amalgamasi dari beberapa unsur
etnis.
M. Muhar Omtatok, seorang Seniman, Budayawan dan
Sejarahwan menjelaskan sebagai berikut: "Melayu secara puak (etnis, suku),
bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di
Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa,
Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di Sumatera Utara, ada
beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku Orang Kampong - Puak Melayu
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi diketahui
memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa kenegaraan. Lima
prasasti kuna yang ditemukan di Sumatera bagian selatan
peninggalan kerajaan itu menggunakan bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata
pinjaman dari bahasa Sanskerta, suatu bahasa Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan
penggunaan bahasa ini diketahui cukup luas, karena ditemukan pula
dokumen-dokumen dari abad berikutnya di Pulau Jawa dan Pulau Luzon. Kata-kata seperti samudra, istri, raja, putra,
kepala, kawin, dan kaca masuk pada periode hingga abad ke-15 Masehi.
Pada abad ke-15 berkembang bentuk yang dianggap
sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medieval Malay).
Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Melaka, yang perkembangannya kelak disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas di kalangan keluarga kerajaan
di sekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. Laporan Portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang dipahami oleh semua
pedagang di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan memiliki budak dari Nusantara yang menjadi
juru bahasa di wilayah itu. Ciri paling menonjol dalam ragam sejarah ini adalah
mulai masuknya kata-kata pinjaman dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam yang
mulai masuk sejak abad ke-12. Kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu,
kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Parsi seperti anggur,
cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses
penyerapan dari bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugis, diikuti oleh Belanda,
Spanyol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan masyarakat
pengguna bahasa Melayu. Bahasa Portugis banyak memperkaya kata-kata untuk
kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu, sabun,
meja, bola, bolu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi pengayaan
di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan
kemiliteran), dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperti asbak,
polisi, kulkas, knalpot, dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina juga lambat
laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak di antara mereka yang
mulai intensif di bawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga, kata-kata
Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan keperluan
sehari-hari, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad ke-17 dan Alfred Russel Wallace pada abad ke-19 menyatakan bahwa
bahasa orang Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di
"dunia timur". Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan
berbagai varian lokal dan temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa
Melayu di berbagai pelabuhan Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa setempat. Terjadi proses pidginisasi
di beberapa kota pelabuhan di kawasan timur Nusantara, misalnya di Manado, Ambon,
dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di Semarang dan Surabaya juga
menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa Melayu
Tionghoa di
Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebagai
bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak
akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secara umum dinamakan bahasa Melayu
Pasar
oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi ketika pada pertengahan abad
ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan Kesultanan Melaka)
menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Sejak saat itu dapat dikatakan
bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan
bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan
dokumentasi kata yang terdefinisi dengan jelas.
Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan terdapat
paling sedikit dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara:
bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta bahasa Melayu Tinggi
yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan
sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua
atau ketiga. Kata-kata pinjaman
BAB III
STUDI KASUS
1. BAHASA INDONESIA YANG
BER-SINONIM DENGAN BAHASA JAWA
Bahasa yang Ber-Sinonim disusun secara
Alphabet :
1. A
2. B
3. C
4. D
5. E
6. F
7. G
8. H
9. I
10. J
11. K
12. L
13. M
14. P
A
- abadi = langgeng
- abai = lirwa
- diabaikan = dilirwakaké
- mengabaikan = nglirwakaké
- abang = mas, kakang, raka
- absen = ora teka, ora mlebu
- abu = awu, lebu
- abu-abu = klawu
- acak = awur, sembarang
- acak-acakan = awur-awuran, kaco
- alir = mili, kocor
- mengalir = mili, ngocor
- mengaliri = ngilèni, ngocori
- mengalirkan = ngilèkaké
- aliran = ilèn, iliné
B
- babak belur = babak bundhas
- baca = waca, waos
- bacaan = wacan, waosan
- membaca = maca, maos
- dibacakan = diwacakaké
- badai = lésus, ampuhan
- badan = awak, salira, badan
- menyebadani = saresmi
- bagi = dum, bagi
- bagian = bagéan, pérangan
- dibagi = didum
- membagi = ngedum, mbagi
- kebagian = keduman, kebagéan
- sebagian = sapérangan
- pembagian = dum-duman, pamérangan
- bagus = becik, apik, saé
- bekal = sangu
- membekali = nyangoni
C
- cabang = pang
- bercabang = ngepang
- cabik, robek = suwèk
- cabut = bedhol, bubut
- dicabut = dibedhol, dibubuti
- tercabut = kebedhol
- caci = pisuh, dhamprat
- dicaci = dipisuhi
- mencaci = misuhi, nyacad
- cegah = penging, penggak
- dicegah = dipenging, dipenggak
- mencegah = menging, menggak
- cerca, maki = diunèk-unèkaké
- ceria = sumringah
D
- dadak, men- = dadakan, ujug-ujug
- daerah = wewengkon, praja
- dahaga - ngelak, salit
- dalam = jero, lebet
- kedalaman = jeroné
- pedalaman = dhaérah kepencil
- daun = godhong, ron
- berdaun = thukul godhong
- dayn-daunan = godhong-godhongan
- diam = meneng, mèndel
- diam-diam = meneng-meneng
- mendiami = ngenggoni
- kediaman = omah, griya
- dua puluh = rongpuluh, kalih dasa
- dua puluh lima = selawé, selangkung
E
- edar = ubeng, ider
- mengedarkan = ngubengaké
- mengedari = ngubengi, ngiteri
- beredar = mubeng, ngalih-ngalih
- peredaran = mubengé
- edisi, terbitan = weton,
- edit, mengedit = mranata
- emak, ibu = embok, biyung
- endap(an) = enep, enepan
- mengendapkan = menepaké
- emis, pengemis = wong ngemis, kéré
- empas, hempas = sebrat, kipat
- dihempaskan = dikipataké
- menghempaskan = ngipataké
F
- faedah : guna, piguna
- fajar : bang-bang wétan
- famili : pamili, Kulawarga
- faraj, fana : ora langgeng
- fasilitas : kalonggaran
- finis : finis, pungkasan
- frustasi : kuciwa
G
- gabuk, hampa = ora isi
- gadang, ber- = lèk-lèkan
- gadis = prawan, kenya
- gapura=gapura, sekèthèng
- garam=uyah, sarem
- genggam=gegem, kepel
- digenggam=digegem, dikepel
- menggenggam=nggegem, ngepel
- segenggam=sakgegem, sakepel
H
- habis = entèk, telas
- dihabiskan = dientèkaké
- menghabisi = mungkasi
- menghabiskan = ngrampungaké
- penghabisan = pungkasan
- kehabisan = kentèkan
- hadap = adhep
- menghadap = ngadhep
- menghadapi = ngadhepi
- dihadapkan = diadhepaké
- berhadapan = arep=arepan
- terhadap = marang
- hadiah = hadhiah, ganjaran
- berhadiah = ana hadhiahé
- hadir = ana, teka, wonten
- hadirin = para rawuh
- menghadiri = nekani, ngrawuhi
- hafal = apal
- menghafalkan == ngapalaké
- hafalan = apalan
- hajar, dihajar = digebug
- hajat = kajat, niyat
- berhajat = duwé kajat
I
- ia, iya = iya, inggih, injih
- mengiakan = ngiyani, mbeneraké
- ia, dia = dhèwèké
- ialah = iya kuwi, yaiku, yakuwi
- iba = mesakaké
- beriba-iba = nrenyuhaké
- iblis = dhemit, sétan
- ibu = ibu, biyung ,emak
- beribu=nduwé ibu
- ibu tiri=ibu kuwalon
- ibu jari=jempol
- ikan=iwak
J
·
jabal, menjabal = ngrampas, mbégal
·
jabar, menjabarkan = nerangaké
·
jabat, menjabat = nyekel gawéan, mengku jabatan
·
jabatan = jabatan
·
jabat tangan = salaman
·
jadah = jadah
·
jadi = dadi, dados
o
jadi-jadian = gawéan
o
kejadian = kedadéan
o
menjadikan = ndadèkaké
o
menjadi-jadi = saya ndadi
o
terjadi = kedadèn
K
- kabar = kabar, warta
- dikabarkan = dikabaraké
- kabarnya = kabaré
- mengabarkan = ngabaraké
- kabar = kabar, warta
- dikabarkan = dikabaraké
- kabarnya = kabaré
- mengabarkan = ngabaraké
- kabur (lari) = minggat
- kabut = pedhut, ampak-ampak
- kaca = kaca, pengilon
- berkaca = ngilo
- kacamata = tésmak, kacamata
- berkacamata = nganggo kacamata
- kacapiring = ceplok piring
- kacau = kisruh, semrawut
L
- leher = gulu
- lelah = kesel, sayah (K)
- lelaki = lanang, jaler (K)
- lelap = angler
- lemak = gajih
- lempar = balang, sawat
- luar = jaba
- diluar = njaba
- luar negeri = jaban rangkah
- luar-dalam = jaba-jero
- keluar = metu, medal (K)
M
- maaf=apura, pangapura,apunten, pangapunten
- dimaafkan=diapura
- mabuk=mendem, mabuk
- macam=werna, rupa, modhèl
- bermacam-macam=rupa-rupa, werna-werna
- madat=candu
- madu, selir=maru
- dimadu=dimaru
- magnet=wesi sembrani
- mahal=larang, awis
- dimahalkan=dilarangaké
- kemahalan=kelarangen
P
- pacar, kekasih = pacangan
- berpacaran = yang-yangan, sir-siran
- pada, kepada = ing, nyang, katur
- daripada = tinimbang, ketimbang
- padamu = kanggomu
- padahal = sakjané, mangka (kamangka)
·
papan = blabak
- pelangi = kluwung
- pelihara = ingu, opèn
- pelipis = pilingan
- pinggang = bangkèkan, boyol
- bertolak-pinggang = malang kerik, methènthèng
- buah pinggang = ginjel
- ikat pinggang = sabuk, setut, paningset
- pinjam = silih, ampil
- dipinjam = disilih
- meminjam = nyilih, ngampil
2. SEJARAH BAHASA DI INDONESIA
Bahasa Indonesia adalah bahasaresmiRepublik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa
Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya
setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor
Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa
kerja.
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragambahasa
Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan
Riau sekarang) dari abad ke-19. Dalam
perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja
di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal
abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda,
28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa"
apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan Proses ini menyebabkan berbedanya
Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau
maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang
terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan
dari bahasa daerah
dan bahasa asing.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih
dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa
ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar
warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia
sebagai bahasa ibu.
Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial)
dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya.
Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di
perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat
resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa
Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Fonologi dan tata
bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah.
Dasar-dasar yang penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam
kurun waktu beberapa minggu.
2.1 Bahasa Indonesia
Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari bahwa
bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai
pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah.
Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki
kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam
standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah
dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan
ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai
terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku
tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari
Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan
Wilkinson.
Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat
Melayu (dimulai tahun 1896)
van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan
Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie
voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun
1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa
instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua
tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan. Bahasa Indonesia secara resmi
diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional
atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah.
Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
"Jika mengacu pada masa
depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua
bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan
Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi
bahasa pergaulan atau bahasa persatuan."
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan
Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan
kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.
2.2 Sistem Penulisan
Huruf
besar
|
Huruf
kecil
|
Huruf
besar
|
Huruf
kecil
|
||
A
|
a
|
/ɑː/
|
N
|
n
|
/n/
|
B
|
b
|
/b/
|
O
|
o
|
/ɔ, o/
|
C
|
c
|
/tʃ/
|
P
|
p
|
/p/
|
D
|
d
|
/d/
|
Q
|
q
|
/q/
|
E
|
e
|
/e, ɛ/
|
R
|
r
|
/r/
|
F
|
f
|
/f/
|
S
|
s
|
/s/
|
G
|
g
|
/ɡ/
|
T
|
t
|
/t/
|
H
|
h
|
/h/
|
U
|
u
|
/u/
|
I
|
i
|
/i/
|
V
|
v
|
/v, ʋ/
|
J
|
j
|
/dʒ/
|
W
|
w
|
/w/
|
K
|
k
|
/k/
|
X
|
x
|
/ks/
|
L
|
l
|
/l/
|
Y
|
y
|
/j/
|
M
|
m
|
/m/
|
Z
|
z
|
/z/
|
Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa,
bahasa Indonesia tidak menggunakan kata bergender. Sebagai contoh kata ganti seperti "dia" tidak secara
spesifik menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal
yang sama juga ditemukan pada kata seperti "adik"dan
"pacar" sebagai contohnya. Untuk memerinci sebuah jenis kelamin,
sebuah kata sifat harus ditambahkan, "adik laki-laki" sebagai
contohnya.
Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti
contohnya "putri" dan "putra". Kata-kata seperti ini
biasanya diserap dari bahasa lain. Pada kasus di atas, kedua kata itu diserap
dari bahasa
Sanskerta melalui bahasa
Jawa Kuno.
Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi
bentuk jamak digunakanlah reduplikasi (perulangan kata),
tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh
"seribu orang" dipakai, bukan "seribu orang-orang".
Perulangan kata juga mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata
benda.
Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata
ganti orang pertama jamak, yaitu "kami" dan "kita".
"Kami" adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang
lawan bicara, sedangkan "kita" adalah kata ganti inklusif yang berarti
kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya.
Susunan kata dasar yaitu Subyek - Predikat -
Obyek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak
mengenal kala (tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata
keterangan waktu (seperti, "kemarin" atau "esok"), atau
petunjuk lain seperti "sudah" atau "belum".
Dengan tata bahasa yang cukup sederhana
bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, yaitu pada penggunaan imbuhan yang mungkin akan cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali
belajar bahasa Indonesia.
2.4 Penyempurnaan Ejaan
Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:Ejaan van Ophuijsen
Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu
dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad
Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896.
Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu
resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini
yaitu:
- Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaïdengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
- Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
- Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
- Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dsb.
Ejaan Republik
Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret
1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu:
- Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.
- Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
- Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
- Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.
Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)
Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun
1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah
peresmian ejaan ini.
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada
tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu
berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa
serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.
Perubahan:
Indonesia
(pra-1972) |
Malaysia
(pra-1972) |
Sejak 1972
|
tj
|
ch
|
c
|
dj
|
j
|
j
|
ch
|
kh
|
kh
|
nj
|
ny
|
ny
|
sj
|
sh
|
sy
|
j
|
y
|
y
|
oe*
|
u
|
u
|
Catatan: Tahun 1947 "oe" sudah digantikan dengan "u".
2.5 Senarai kata serapan dalam bahasa Indonesia
Asal
Bahasa
|
Jumlah
Kata
|
3.280
kata
|
|
1.610
kata
|
|
1.495
kata
|
|
Sanskerta-Jawa Kuno
|
677 kata
|
290 kata
|
|
131 kata
|
|
83 kata
|
|
63 kata
|
|
7 kata
|
Adapun jumlah kata-kata yang diserap dari bahasa Nusantara dalam KBBI Edisi Keempat ditunjukkan di dalam daftar berikut:
Asal
bahasa
|
Jumlah
kata
|
1109
kata
|
|
929 kata
|
|
223 kata
|
|
221 kata
|
|
153 kata
|
|
112 kata
|
|
100 kata
|
Penggolongan
Indonesia termasuk anggota dari Bahasa Melayu-Polinesia Barat subkelompok dari bahasa Melayu-Polinesia yang pada gilirannya merupakan cabang dari bahasa Austronesia. Menurut situs Ethnologue, bahasa Indonesia didasarkan pada bahasa
Melayu dialek Riau yang dituturkan di timur laut Sumatra
Distribusi geografis
Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh
Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di area perkotaan (seperti di
Jakarta dengan dialek Betawi serta logat Betawi).
Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih
resmi, dan seringkali terselip dialek dan logat di daerah bahasa Indonesia itu
dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan sesama orang sedaerah kadang bahasa daerahlah yang digunakan sebagai pengganti untuk bahasa Indonesia.
Kedudukan resmi
Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:- Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
- Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.
- Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.
- Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)
Fonologi
Bahasa Indonesia mempunyai 26 fonem yaitu 21 huruf mati dan 5 huruf hidup. Di samping itu sistem tata bahasanya sederhana, di mana:
Vokal
|
|||
Depan
|
Madya
|
Belakang
|
|
Tertutup
|
iː
|
uː
|
|
Tengah
|
e
|
ə
|
o
|
Hampir
Terbuka
|
(ɛ)
|
(ɔ)
|
|
Terbuka
|
a
|
||
Bahasa Indonesia juga mempunyai diftong /ai/, /au/, dan /oi/. Namun, di dalam suku kata tertutup seperti air kedua vokal tidak diucapkan sebagai diftong
Konsonan
|
|||||
Bibir
|
Gigi
|
Langit2
keras |
Langit2
lunak |
Celah
suara |
|
Sengau
|
m
|
n
|
ɲ
|
ŋ
|
|
Letup
|
p b
|
t d
|
c ɟ
|
k g
|
ʔ
|
Desis
|
(f)
|
s (z)
|
(ç)
|
(x)
|
h
|
Getar/Sisi
|
l r
|
||||
Hampiran
|
w
|
j
|
|||
- Vokal di dalam tanda kurung adalah alofon sedangkan konsonan di dalam tanda kurung adalah fonem pinjaman dan hanya muncul di dalam kata serapan.
- /k/, /p/, dan /t/ tidak diaspirasikan
- /t/ dan /d/ adalah konsonan gigi bukan konsonan rongga gigi seperti di dalam bahasa Inggris.
- /k/ pada akhir suku kata menjadi konsonan letup celah suara
- Penekanan ditempatkan pada suku kata kedua dari terakhir dari kata akar. Namun apabila suku kata ini mengandung pepet maka penekanan pindah ke suku kata terakhir.
Dialek dan ragam bahasa
Pada keadaannya bahasa Indonesia menumbuhkan
banyak varian yaitu varian menurut pemakai yang disebut sebagai dialek dan varian menurut pemakaian yang disebut sebagai ragam
bahasa.
Dialek dibedakan atas hal berikut:- Dialek regional, yaitu rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meski mereka berasal dari eka bahasa. Oleh karena itu, dikenallah bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta (Betawi), atau bahasa Melayu dialek Medan.
- Dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contohnya dialek wanita dan dialek remaja.
- Dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah.
- Idiolek, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Sekalipun kita semua berbahasa Indonesia, kita masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.
Ragam bahasa dalam bahasa Indonesia berjumlah
sangat banyak dan tidak terhad. Maka itu, ia dibagi atas dasar pokok
pembicaraan, perantara pembicaraan, dan hubungan antarpembicara.
Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi:- ragam undang-undang
- ragam jurnalistik
- ragam ilmiah
- ragam sastra
- ragam lisan, terdiri dari:
- ragam percakapan
- ragam pidato
- ragam kuliah
- ragam panggung
- ragam tulis, terdiri dari:
- ragam teknis
- ragam undang-undang
- ragam catatan
- ragam surat-menyurat
- komunikasi resmi
- wacana teknis
- pembicaraan di depan khalayak ramai
- pembicaraan dengan orang yang dihormati
BAB III
PENUTUP
Peristiwa-peristiwa penting
- Tahun 1908 pemerintah kolonial mendirikan sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Badan penerbit ini menerbitkan novel-novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, yang tidak sedikit membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas.
- Tanggal 16 Juni 1927 Jahja Datoek Kajo menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya. Hal ini untuk pertamakalinya dalam sidang Volksraad, seseorang berpidato menggunakan bahasa Indonesia.
- Tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi Muhammad Yamin mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.
- Tahun 1933 berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
- Tahun 1936 Sutan Takdir Alisyahbana menyusun Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.
- Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu.
- Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
- Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
- Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
- Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
- Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).
- Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
- Tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
- Tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Indonesia dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
- Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
- Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
3. Kridalaksana H. 1991. Pendekatan tentang
Pendekatan Historis dalam Kajian Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Dalam
Kridalaksana H. (penyunting). Masa Lampau bahasa Indonesia: Sebuah Bunga
Rampai. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
4. Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa
Indonesia I 1939 di Solo: "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia'
jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe'
akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean
zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat
diseloeroeh Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam
baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia", dikutip di Pendahuluan KBBI cetakan ketiga.
5. Asmadi T.D. Arti Tanggal 2 Mei bagi Bahasa Indonesia. Laman Lembaga Pers Dr. Sutomo. Edisi 08
Februari 2010. diakses 5 Maret 2010.
6. Depdiknas Terbitkan Peta Bahasa Blog BahasaKita 4 Maret 2009, mirror dari
berita AntaraOnline edisi 22 Oktober 2008.
7. http://www.ohio.edu/LINGUISTICS/indonesian/index.htmlWhy Indonesian is important to learn. Situs pengajaran bahasa Indonesia di Ohio
State University.
8. Farber, Barry. J. How to learn any
language quickly, enjoyably and on your own. Citadel Press. 1991.
9. Eliot, J., Bickersteth, J. Sumatra
Handbook. Footprint. 2000.
10.
Penemuan prasasti berbahasa Melayu Kuno di Jawa Tengah
(berangka tahun abad ke-9) dan di dekat Bogor (Prasasti
Bogor) dari abad ke-10 menunjukkan adanya penyebaran
penggunaan bahasa ini di Pulau Jawa
11.
Keping Tembaga Laguna (900 M) yang ditemukan di dekat Manila, Pulau Luzon, berbahasa Melayu Kuna, menunjukkan keterkaitan wilayah
itu dengan Sriwijaya.
13.
Hal ini tidak mengherankan karena banyak dari pengusaha
penerbitan di kala itu berasal dari etnis Tionghoa.
15.
Teeuw, A (1986). Modern Indonesian Literature I.
16.
Etek, Azizah (2008). Kelah Sang Demang, Jahja Datoek
Kajo, Pidato Otokritik di Volksraad 1927 - 1939.
17.
Kontribusi Kosakata Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia artikel oleh Adi Budiwidiyanto di situs
Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses 3 November 2012
18.
Kamus Indonesia
- Daerah Jawa, Bali, Sunda, Madur, Sugiarto, dkk, PT Gramedia Pustaka Utama,
2007
19.
Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa), Tim Penyusun Balai
Bahasa Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001. ISBN 979-672-990-3