DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI
…………………………………………………………….………………… 1
BAB I…………………………………………………………………………..................... 2
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang……………………………………………………………………... 2
BAB II…………………………………………………………………………………….... 3
PEMBAHASAN
1. Pengertian..................................................................................................................... 3
1.1. Ilmu
1.2. Dakwah
2. Ilmu Dakwah……………………………………………........................................... 3
2.1.Sifat-sifat
Seorang Da’i
2.2.
Sikap Seorang Da’i
2.3
Berpengetahuan Yang Cukup
3. Tujuan utama dakwah
………………………………………….…….……………. 6
4. Fiqhud-dakwah…………………………………………………………..…………. 6
5. Defenisi Ilmu dan Dakwah ………………………………………….……………… 8
5.1. Defenisi IlmuMenurut
Para Ahli
5.2. Defenisi DakwahMenurut
Para Ahli
6. Kumpulan Ayat-Ayat Dakwah ………………………………….…………………. 9
BAB III
……………………………………………………………………….……………. 11
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................
12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dakwah
yang kita ketahui artinya mengajak, menyeru umat ke jalan kebenaran,
beramal melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya agar menjadi
masyarakat yang madani.
Kegiatan
dakwah merupakan kewajiban untuk semua umat muslim di dunia. Kegiatan berdakwah
tidak hanya dilakukan melalui ceramah saja. Tapi banyak cara untuk melakukan
dakwah, bahkan media elektronik on-line seperti internet sekalipun bisa
dijadikan untuk media dakwah bagi kaum muslim sekarang ini.
Seiring
dengan perkembangan zaman, manusia dari hari ke hari semakin tidak menentu
keadaanya baik itu segi moralitas keagamaan maupun kehidupan sosial, ekonomi
atau politik. Jadi sudah sepantasnya masyarakat muslim ini untuk banyak
melakukan dakwah baik secara lisan, tulisan, melalui media, dan alat yang
menunjang untuk berdakwah lainnya. Sehingga dengan dilakukannya dakwah
setidaknya dapat memperbaiki keimanan individu, kelompok ataupun masyarakat
pada umumnya.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
1.1. Ilmu
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan
dan meningkatkan pemahamanmanusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam
manusia.Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.Ilmu
memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
1.2. Dakwah
Dakwah
adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk
beriman dan taat kepada Allah
Subhaanahu wa ta'ala sesuai dengan
garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda)
dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.
Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu"
dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan
Ilmu Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah.
2. Ilmu Dakwah
Ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara
dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti,
menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu.Orang yang
menyampaikan dakwah disebut "Da'i" sedangkan yang menjadi obyek
dakwah disebut "Mad'u".Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah
Islam adalah "Da'i".
Da’i
adalah setiap orang yang hendak menyampaikan, mengajak orang ke jalan Allah.
Setiap orang yang menjalankan aktifitas dakwah, hendaknya memilih kepribadian
yang baik sebagai seorang da’i, menurut Prof. DR. Hamka “ jayanya atau
suksesnya suatu dakwah memang sangat bergantung kepada pribadi atau pembawa
dakwah itu sendiri, yang sekarang lebih populer disebut da’i”. kepribadian
disini meliputi kepribadian yang bersifat jasmanai dan rohani meliputi:
2.1.Sifat-sifat Seorang Da’i
- iman dan taqwa kepada Allah
Syarat kepribadian sorang da’I yang terpenting adalah
iman dan taqwa kepada Allah. Oleh karena itu didalam membawa misi dakwah
diharuskan terlebih dahulu diri-sendiri dapat memerangi hawa nafsunya, sehingga
diri pribadi ini lebih taat kepada allah dan Rasulnya dibandingkan dengan
sasaran dakwahnya.
- Tulus ikhlas dan tidak mementingkan kepentingan diri pribadi
Niat yang lurus tanpa pamrih duniawiyah belaka, salah
satu syarat mutlak ang harus dimiliki seorang da’I. Sebab dakwah adalah
pekerjaan yang bersifat ubudiyah atau terkenal dengan hablullah,yakni amal
perbuatan yang berhubungan dengan Allah. Sifat ini sangat menentukan
keberhasilan dakwah, misalnya ada dalam hati ketika memberikan ceramah dengan
adanya ketidak ikhlasan dalam memberikan ceramah.
- Ramah dan penuh pengertian
Propaganda yang dapat diterima orang lain, apabila
yang mempropagandakan berlaku ramah, sopan dan rigan tangan untuk melayani
sasarannya, karena keramahan, kesopanan dan keringan-tanganannya insya-Allah
akan berhasil dakwahnya.
- Tawadlu’ (rendah diri)
Rendah diri hati bukan semata-mata merasa dirinya
terhina dibandingkan dengan derajat dan martabat orang lain, akan tetapi
seorang da’I yang sopan, tidak sombong dan tidak suka menghina dan mencela
orang lain.
- Sederhana dan jujur
Sederhana bukanlah berarti didalam kehidupan
sehari-hari selalu ekonomis dalam memenuhi kebutuhannya, akan tetapi sederhana
disini tidak bermegah-megahan, angkuh dan sebagainya, sedangkan kejujuran
adalah orang yang percaya akan ajakannya dan dapat mengikuti ajakan dirinya.
- Tidak memiliki sifat egoisme
Ego adalah watak yang menonjolkan akunya, angkuh dalam
pergaulan merasa dirinya terhormat, lebih pandai, dan sebagainya. Sifat inilah
yang harus dijauhi betul-betul oleh seorang da’I .
- Sifat semangat
Semangat berjuang harus dimiliki oleh da’I, sebab
dengan sifat ini orang akan trerhindar dari rasa putus asa, kecewa, dan
sebagainya.
- Sabar dan tawakal
Dalam melaksanakan dakwah mengalami beberapa hambatan
dan cobaan hendaklah sabar dan tawakan kepada Allah.
- Memiliki jiwa toleran
Dimana tempat da’I dapat mengadaptasikan dirinya dalam
artian posisi.
- Sifat terbuka
Apabila ada kritik dan sara hendaknya diterima dengan
gembira, mengalami kesulitan yang sanggup memusyawarahkan dan tidak berpegang
tangan kepada idenya sendiri.
- Tidak memiliki penyakit hati
Sombong, dengki, ujub, dan iri haruslah disingkirkan
dalam hati sanubari yang hendak berdakwah.
2.2.Sikap Seorang Da’i
- Berakhlak mulia
Berbudi pekerti yang baik (akhlaqul karimah) sangat
mutlak yang harus dimiliki oleh seorang da’I . Bahkan prof. DR. hamka pernah
mengatakan bahwa “alat dakwah yang sangat utama ialah akhlak”.
- Hing ngarsa asung tuladha, hing madya mangun karsa, tutwuri handayani.
Pendapat Ki Hajar Dewantoro Bapak Pendidikan Indonesia
itu harus pula dimiliki seorang da’I.Hing ngarsa asung tuladha; artinya seorang
Da’i yang merupakan orang terkemuka di tengah-tengah masyarakat haruslah dapat
menjadi tauladan yang baik bagi masyarakat. Hing madya mangun karsa; artinya
bila di tengah-tengah massa, hendaknya dapat memberikan semangat, agar mereka
senantiasa mengerjakan, mengikuti segala ajakannya. Selanjutnya tutwuri
handayani; artinya bila bertempat di belakang, mengikutinya, dengan memberi
bimbingan-bimbingan agar lebih meningkatkan amalannya.
- Disiplin dan bijakasana
Disiplin dalam artian luas sangat diperlukan oleh
seorang da’I dalam mengemban tugasnya sebagai muballigh.Begitupun bijaksana
dalam menjalankan tugasnya sangat berperan di dalam mencapai keberhasilan
dakwah.
- Wira’i dan berwibawa
Sikap yang wira’I menjauhkan perbuatan-perbuatan yang
kurang berguna dan mengindahkan amal shaleh, salah satu hal yang dapat
menimbulkan kewibawaan seorang da’i.sebab kewibawaan merupakan faktor yang
mempengaruhi seseorang akan percaya menerima ajakannya.
- Tanggung jawab
Tanggung jawab merupakan hal penting yang harus
dimiliki seorang da’I, tanggung jawab disini maksudnya pesan yang disampaikan
da’I tersbut dapat di uji kebenarannya.
- Berpandangan luas
Seorang da’I dalam menentukan starategi dakwahnya
sangat memerlukan pandangan yang jauh, tidak fanatik terhadap satu golongan
saja dan waspada dalam menjalankan tugasnya.
2.3.Berpengetahuan Yang Cukup.
Beberapa pengetahuan, kecakapan, keterampilan tentang
dakwah sangat menentukan corak strategi dakwah.Seorang da’I dalam
kepribadiannya harus pula dilengkapi dengan ilmu pengetahuan, agar pekerjaannya
mencapai hasil yang efektif dan efisien.
3.
Tujuan
utama dakwah
Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan
kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan
dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan
perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga
raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat
atau risalah Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).
4.
Fiqhud-dakwah
Ilmu yang memahami aspek hukum dan tatacara yang
berkaitan dengan dakwah, sehingga para muballigh bukan saja paham tentang
kebenaran Islamakan tetapi mereka juga
didukung oleh kemampuan yang baik dalam menyampaikan Risalah al Islamiyah.
4.1. Dakwah
Fardiah
Dakwah Fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan
seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam
jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan
yang matang dan tersusun secara tertib.Termasuk kategori dakwah seperti ini
adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh.Termasuk dalam
hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).
4.2. Dakwah
Ammah
Dakwah Ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan
oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan
maksud menanamkan pengaruh kepada mereka.Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah
(pidato).
Dakwah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya,
ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi
tertentu yang berkecimpung dalam soal-soal dakwah.
4.3. Dakwah
bil-Lisan
Dakwah jenis ini adalah penyampaian informasi atau
pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan
obyek dakwah).dakwah jenis ini akan menjadi efektif bila: disampaikan berkaitan
dengan hari ibadah seperti khutbah Jumat atau khutbah hari Raya, kajian yang
disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan
dengan metode dialog dengan hadirin.
4.4. Dakwah
bil-Haal
Dakwah bil al-Hal adalah dakwah yang mengedepankan
perbuatan nyata.Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad'ulah)
mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da'i (juru dakwah).Dakwah jenis ini mempunyai
pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah.
Pada saat pertama kali Rasulullah Saw tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan
Dakwah bil-Haal ini dengan mendirikan Masjid Quba, dan mempersatukan
kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah
Islamiyah.
4.5. Dakwah
bit-Tadwin
Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola
dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab,
buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan
dakwah sangat penting dan efektif.
Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi
musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah
bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya tinta para ulama
adalah lebih baik dari darahnya para syuhada".
4.6. Dakwah
bil Hikmah
Dakwah bil Hikmah Yakni menyampaikan dakwah dengan
cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak
obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa
ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bi al-hikmah
merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar
persuasif.
Dalam kitab al-Hikmah fi al dakwah Ilallah ta'ala oleh
Said bin Ali bin wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian
al-Hikmah, antara lain:
Menurut bahasa:
- adil, ilmu, sabar, kenabian, Al-Qur'an dan Injil
- memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan
- ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama
- obyek kebenaran(al-haq) yang didapat melalui ilmu dan akal
- pengetahuan atau ma'rifat.
Menurut istilah Syar'i:
- valid dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui yang benar dan mengamalkannya, wara' dalam Dinullah, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat.
5. Defenisi
Ilmu dan Dakwah
5.1.
Definisi Ilmu Menurut Para Ahli
- Sekumpulan proposisi sistematis yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang benar dengan ciri pokok yang bersifat general, rational, objektif, mampu diuji kebenarannya (verifikasi objektif), dan mampu menjadi milik umum (Communality, The Liang Gie, 1991).
- Pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah- langkah pencapaiannya dipertanggung-jawabkan secara teoritis (C, Verhaak).
- ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988)
- konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi (Shapere, 1974)
- pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz, 1962)
- ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi
5.1. Definisi Dakwah Menurut Para Ahli
- Dakwah artinya: Penyiaran, propaganda, seruan untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. Dakwah juga berarti suatu proses upaya mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam atau proses mengajak manusia kejalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu agama Islam.(M. Arif)
- dakwah adalah segala bentuk aktivitas penyampaian ajaran Islam kepada orang lain dengan berbagai cara yang bijaksana untuk terciptanya individu dan masyarakat yang menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam semua lapangan kehidupan. Ali Aziz (2005:11)
- adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perinah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka dunia dan akhirat.Toha Yahya
- dakwah sebagai mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Syeh Ali Mahfudz
- bahwa amr ma’ruf nahi munkar adalah inti gerakan dakwah dan penggerak dalam dinamika masyarakat Islam.Imam Al-Ghozali(dalam Suparta, 2003:7)
Kumpulan ayat-ayat tentang dakwahyang tetuang dalam Kitab Suci Al-Qur'an;
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ
إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Q.S. Ali Imran [3]: 104)
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ
لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ
بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ
الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.Sekiranya Ahli Kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran
[3]: 110)
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ
بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl [16]:125)
وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ
بَعْدَ إِذْ أُنزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ
الْمُشْرِكِينَ
“Dan janganlah sekali-kali
mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah
ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu,
dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Tuhan.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 87)
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ
وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak akan
dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi
petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 56)
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى
اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا
أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: "Inilah
jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada
Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk
orang-orang yang musyrik".” (Q.S. Yusuf [12]: 108)
نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ
طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا
رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi
mu'minin itu pergi semuanya (ke medan perang).Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap
golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka
tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah
[9]: 122)
وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَى صِرَاطٍ
مُّسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu
benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Mu'minun [23]:
73)
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ
بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ
أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang
beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi
sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari
yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at pada Allah
dan Rasul-Nya.Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah [9]: 71)
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا
أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً
“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar
gemgira dan pemberi peringatan.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 45)
وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ
وَسِرَاجاً مُّنِيراً
“dan untuk jadi penyeru
kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S.
Al-Ahzab [33]: 46)
BAB III
KESMIPULAN
KESMIPULAN
Uraian-uraian diatas memberikan kita kejelasan bahwa
dalam melaksanakan atau mengemban tugas yang mulia ini tidaklah semudah yang
kita bayangkan agar Dakwah secara maksimal dapat tercapai dan Ilmu Dakwah dapat
dilaksanakan melalui Prakter secara langsung di dalam lingkungan Masyarakat .
DAFTAR PUSTAKA
Dermawan, Andy. Metodologi Ilmu Dakwah.LESFI.Ypgyakarta.
2002
Kusnawan, Aep. Komunikasi Penyiaran Islam.Benag
Merah Press.Bandung.
2004
Mubarok, Achmad, DR, MA. Psikologi Dakwah.
Pustaka Firdaus. Jakarta.
1999
Muhyidin, Asep, Prof, H, Drs dan Agus Ahmad Syafe,
M.Ag. Metode Pengembangan Dakwah.Pustaka Setia. Bandung. 2002
Muis, Abdul. Komunikasi Islam.
ROSDA. Bandung.2001
Syafei, Agus Ahmad. Memimpin dengan Hati yang
Selesai Jejak Langkah dan Pemikiran Baru Dakwah K.H Sukriadi Sambas, M.Si.
Pustaka Setia. Bandung.
2003
Syukir, Asmuni. Dasar-dasar Strategi Dakwah
Islam. Al-Ikhlas.Surabaya.
1983
Tasmara,
Toto. Komunikasi Dakwah. Gaya Media Pratama.Jakarta.1997
Google, WIKIPEDIA.COM, Pengertian Dakwah .
Google, TUNAS ILMU.blogspot, Kumpulan Ayat-Ayat .


Tidak ada komentar:
Posting Komentar