Rabu, 23 April 2014

komunikasi massa



DAFTAR ISI
DAFTAR ISI …………………………………………………………….…………………  1

BAB I ………………………………………………………………………….....................  2
PENDAHULUAN
1. LatarBelakang ……………………………………………………………………....  2

BAB II ……………………………………………………………………………………....  3
PEMBAHASAN
1.     Jenis-jenis efek komunikasi massa ...........................................................         3
1.1  Efek Primer ...............................................................................................................  3
1.2  Efek Sekunder ..........................................................................................................  4
2.     Factor yang mempengaruhi efek komunikasi massa .............................          5
1. Faktor individu ...........................................................................................................  5
2. Faktor social ................................................................................................................  6
3.     Efek pesan media massa terhadap khalayak ..........................................         6
1. Efek kehadiran media massa ....................................................................................   6
2. Efek kognitif komunikasi massa ...............................................................................   7
3. Efek afektif komunikasi massa .................................................................................   8
4.Efek behavioral komunikasi massa ...........................................................................   9

BAB III ……………………………………………………………………….……………  11
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................     12







BAB I
PENDAHULUAN
1. LatarBelakang
Pada jaman sekarang ini Televisi merupakan media massa elektronik yang mampu meyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya, dan membuat pemirsannya ‘ketagihan’ untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kesehariannya, bahkan acara “nonton tv” sudah menjadi agenda wajib bagi mereka.
Dengan berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu membius para pemirsanya (anak-anak, remaja dan orang tua) untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian rupa, dan di bubuhi dengan assesories-assesories yang menarik, sehingga membuat pemirsanya terkagum-kagum dengan acara yang disajikan. Tidak jarang sekarang ini banyak anak-anak lebih suka berlama-lama didepan televisi dari pada belajar, bahkan hampir-hampir lupa akan waktu makannya. Ini merupakan suatu problematika yang terjadi dilingkungan kita sekarang ini, dan perlu perhatian khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya.
Dengan demikian terutama bagi anak-anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak tesebut akan mengikuti acara televisi yang ia tonton. Apabila yang ia tonton merupakan acara yang lebih kepada eduatif, maka akan bisa memberikan dampak positif tetapi jika yang ia tonton lebih kepada hal yang tidak memiliki arti bahkan yang mengandung unsur-unsur negatif atau penyimpangan bahkan sampai kepada kekerasan, maka hal ini akan memberikan dampak yang negatif pula terhadap prilaku anak yang menonton acara televisi tersebut. Oleh sebab itu, sudah seharusnya setiap orang tua mengawasi acara televisi yang menjadi tontonan anaknya dan sehingga dapat melakukan proteksi tehadap dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh acara televisi tesebut.






BAB I
PEMBAHASAN

1.     Jenis-jenis efek komunikasi massa
Ada beberapa jenis efek komunikasi massa ini. “Secara sederhana Keith R. Stamm dan John E. Bowes (1990) membagi kedua bagian dasar. Pertama, efek primer meliputi terpaan, perhatian dan pemahaman. Kedua, efek sekunder meliputi perubahan tingkat kognitif (perubahan pengetahuan dan sikap), dan perubahan perilaku (menerima dan memilih)”.[1][21] Karena dalam komunikasi massa itu melibatkan media massa, maka Drs. Elvinaro Ardianto, M. Si., et. al., menjelaskan efek komunikasi massa itu dari dua pendekatan, yaitu efek komunikasi massa yang berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri serta jenis perubahan yang terjadi pada khalayak yang terdiri atas efek kognitif, afektif dan behavioral.
1.1 Efek Primer
“Bisa dikatakan secara sederhana bahwa efek primer terjadi jika ada orang mengatakan telah terjadi proses komunikasi terhadap objek yang dilihatnya”.[2][22] Mengenai efek primer ini Drs. Nurudin, M. Si. menjelaskan contohnya sebagai berikut:
Misalnya suatu saat Anda menelepon teman Anda untuk mengajak bermain bulu tangkis pada hari jum’at sore. Efek pertama terjadi jika ada jawaban teman Anda lewat telepon, misalnya dengan suara “halo”. Kemudian, Anda harus yakin bahwa teman Anda tersebut mendengar suara Anda dengan jelas. Lalu Anda harus menyampaikan permintaan Anda agar dia dapat mengerti maksud Anda. Dan akhirnya Anda menginginkan jawaban seperti ini, “wah dengan senang hati” dari teman tadi. Hasil dari tiga poin pertama adalah efek primer, sedangkan yang terakhir adalah efek sekunder komunikasi. Bahkan ketika teman Anda tersebut menjawab, “maaf saya sangat sibuk hari ini” pun merupakan efek. Jawaban itu bisa imasukan dalam efek sekunder. Mengapa? Sebab dalam kasus itu ada perubahan perilaku (memilih untuk tidak mengikuti permintaan Anda).[3][23]
Dalam efek primer pemahaman terhadap media massa selalu berubah-ubah. Hal ini terjadi karena adanya perkembangan yang semakin cepat daripada media massa itu sendiri, sehinnga formula pemahaman terhadap media massa itu selalu berubah-ubah. Sebagaimana Drs. Nurudin, M. Si menjelaskan:
Dengan perkembangan yang semakin pesat dari media elektronik (salah satunya televisi) dewasa ini, pemahaman tidak hanya difokuskan pada media cetak, tetapi juga ke media elektronik tersebut. Artinya, pemahaman tidak lagi mengenai panjang pendeknya kalimat, model tulisan disajikan, tetapi berkait dengan suatu program acara (teknik pengambilan gambar, suara, tulisan yang dipakai untuk memeperjelas gambar, intonasi bicara dan lain-lain). Jadi formula kemampuan melihat bergeser ke formula kemampuan dengar dan lihat.[4][24]
1.2 Efek Sekunder
“Efek sekunder itu adalah perilaku penerima yang ada di bawah kontrol langsung komunikator”. Jadi dalam efek sekunder ini komunikan atau audiens senantiasa berada dalam pengawasan komunikator.
Efek sekunder ini dibahas melalui pendekatan efek uses and gratifications (kegunaan dan kepuasaan). Efek kegunaan dan kepuasan sering kali digunakan karena “efek ini diyakini lebih menggambarkan realitas konkrit yang terjadi di masyarakat”.[5][25] inti efek kegunaan dan kepuasan ini adalah “jika kebutuhan sudah terpenuhi melalui saluran komunikasi massa, berarti individu mencapai tingkat kepuasan”.[6][26]
Menurut John R. Bittner (1996), ‘fokus utama efek ini adalah tidak hanya bagaimana media memengaruhi audience, tetapi juga bagaimana audience mereaksi pesan-pesan media yang sampai pada dirinya’.[7][27] Jadi dalam efek kegunaan dan kepuasaan ini audiens merupakan pihak aktif yang merespons media. Lebih jelasnya lagi adalah “semua itu bisa dibingkai dengan pertanyaan, apa yang dikerjakan media pada audience? Tetapi yang lebih penting adalah apa yang dikerjakan audience pada media?”[8][28]

2.     Factor yang mempengaruhi efek komunikasi massa
Komunikasi mempunyai efek yang diwujudkan dalam tiga hal; efek kognitif (pengetahuan), afektif (emosional dan perasaan), behavioral (perubahan pada perilaku). Dalam perkembangan komunikasi ternyata proses pengaruh tidak dapat berdiri sendiri. Dengan kata lain, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.
1. Faktor individu
Pengaruh faktor individu itu berdampak pada penerimaan pesan yang ini sangat erat kaitannya dengan psikologi. Ada banyak faktor pribadi anata lain selective attention, selective perception, dan selective retention, motivasi dan pengetahuan, kepercayaan, pendapat, nilai dan kebutuhan, pembujukan, kepribadian dan penyesuaian diri.
Selective ettention adalah individu yang cenderung memperhatikan dan menerima terpaan pesan media massa yang sesuai dengan pendapat dan minatnya.[9][30] Dan menghindari pesan-pesan yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Contoh seperti seseorang yang merupakan anggota PKS akan cenderung menghadiri atau melihat kampanye partai PKS dibanding dengan kampanye yang lain.
Selective perception adalah seorang individu ang secara sadar akan mencari media yang akan bisa mendorong kecenderungan dirinya.[10][31]
Selective retention adalah kecenderungan orang hanya untuk mengingat pesan yang sesuai dengan pendapat dan kebutuhan dirinya.[11][32] Sebagai contoh seorang duda atau janda kebetulan melihat acara televisi tentang perkawinan. Pada saat bersamaan orang tersebut ingin mencari pasangan hidup lagi.
2. Faktor sosial
Ada beberapa faktor dalam sosial yang mempengaruhi terhadap efek komunikasi, diantarany; umur dan jenis kelamin, pendidikan dan latihan, pekerjaan dan pedapatan, agama, tempat tinggal.[12][33]
Umur dan jenis kelamin juga sangat berpengaruh kepada penerimaan pesan. Bisa jadi umur dan jeis kelamin sesorang akan mempengaruhi terhadap kelompok ia bergabung. Menurut Wilbur Schramm kontek kelompok ketika komunikan menjadi anggotanya ikut mempengaruhi peneriamaan pesan media massa.[13][34] Sebagai contoh individu yang masuk kedalam organisasi NU akan lebih mudah menerima pesan-pesan media massa yang mendukung keberadan NU dan itu berlaku sebaliknya.
Tingkat pendidikan yang berbeda juga berpengaruh kepada penerimaan pesan. Seperti pada masyarakat yang tingkat pendidkannya rendah akan lebih suka tentang pemberitaan mengenai seks, kriminal, dan kejahatan lain atau pemebitaan yang bombastis. Berlainan dengan seorang pegawai bank yang notabennya berpendidikan tinggi lebih suka bisnis indonesia, infobank.
Agama juga ikut mempengaruhi efek penerimaan pesan. Agama akan menjadi faktor penentu organisasi apa yang akan diikuti. Akhirnya oraganisasi keagamaan yang diikuti akan ikut menentukan proses penerimaan pesan.

3. Efek pesan media massa terhadap khalayak
1. Efek kehadiran media massa
Steven H. Chaffe menyebutkan lima hal mengenai efek kehadiran media massa, yaitu; (1) efek ekonomis; (2) efek sosial; (3) efek pada penjadwalan kegiatan; (4) efek pada penyaluran atau penghilangan perasaan tertentu; dan (5) terhadap perasaan orang terhadap media.[14][20]
Efek ekonomis bisa mengerakan berbagai usaha – produksi, distribusi, dan konsumsi “jasa” media massa.
Efek sosial berkenaan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa. Sudah tentu bahwa kehadiran televisi meningkatkan status sosial pemiliknya.
Efek penjadwalan kegiatan ini berakibat kepada merubah pola hidupnya, seperti yang sebelumnya belum ada televisi biasa tidur jam 8 dan bangun pagi untuk kerja, tetapi setelah ada televisi mereka sering tidur malam dan mengubah pola kebiasaan mereka.
Akibat kehadiaran media massa sebagai objek fisik sehingga menimbulkan hilangnya peasaan tidak enak dan tumbuhnya perasaan tertentu. Sering media digunakan untuk menghilangkan perasaan tidak enak – misalnya kesepian, marah, kecewa, dan sebagainya. Media dipergunakan tanpa memperdulikan isi pesan. Kehadiran media massa juga bukan hanya untuk menghilangkan perasaan, ia pun menimbulkan perasaan baru.
2. Efek kognitif komunikasi massa
Citra merupakan peta anda tentang dunia. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus sesuai dengan relaitas.
“ Komunikasi tidak secara langsung menimbulkan perilaku tertentu”, ujar Roberts (1977), “tetapi cenderung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita tentang lingkungan; dan cirta inilah yang mempengaruhi cara kita berperilaku”.[15][21]
Dalam pengkajian komunikasi massa akan menelaah efek kognitif komunikasi pada pembentukan dan perubahan citra, kemudian teori agenda seting dan efek proposial kognitif media massa.
  • Pembentukan dan perubahan citra
Citra terbentuk dari informasi yang kita dapat atau terima. Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi. Disinilah bahaya media massa karena media massa pada akhirnya mengasingkan orang dari pengalaman personalnya, dan walaupun tampak mengguncangkannya, media massa memperluas isolasi moral sehingga mereka terasing dari yang lain dan realitas dari diri mereka sendiri. Tetapi sekali media massa bisa merusak kemampuan sesorang memperoleh pengalaman yang bermakna.[16][22]
  • Agenda setting
Dalam komunikasi massa sebuah informasi yang diberikan kepada khalayak itu sudah mengalami penyaringan. Maka dari itu banyak terjadi pencitraan yang berbeda antara media yang satu dengan media yang lainnya. Karena mereka mempunyai standar tersendiri untuk menentukan informasi yang layak untuk di informasikan kepada khalayak. Bagaimana media massa menyajikan peristiwa, itulah yang disebut dengan agenda media.
Karena pembaca, pemirsa, dan pendengar kebanyakan memperoleh informasi melalui media massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat. Agenda masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggota masyarakat apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bicarakan dengan orang lain, atau apa yang mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat.[17][23]
  • Efek proposial kognitif
Media massa seperti televisi, radio, surat kabar bila memberikan informasi dan memberikan manfaat atau nilai yang berguna, maka khalayaknya akan memperoleh manfaat dari informasi tersebut? Dan disini akan membahas bagaimana media massa memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Inilah yang kita sebut efek prososial.[18][24]
Sebagai contoh ketika melihat televisi jika kita dengan menonton televisi mengakibatkan kita pandai berbahasa Indonesia yang baik dan benar, berarti televisi menimbulakan efek prososial kognitif.
3. Efek afektif komunikasi massa
  • Pembentukan dan perubahan sikap
Semua sikap pada dasarnya bersumber pada organisaasi kognitif – pada pengalaman dan pengetauan yang kita miliki. Sikap akan selalu diarahkan kepada objek, kelompok atau orang. Hunbungannya adalah pasti didasarkan pada informasi yang kita peroleh tentang sifat-sifat mereka. Dengan kata lain bahwa sikap kita itu bergantung dari pencitraan kita terhadap sesuatu tersebut.[19][25] Sebagai contoh jika kita memahami mengenai penyakit cacar itu diakibatkan oleh virus, maka kita akan berfikir positif terhadap vaksinasi. Berbeda ketika kita memahami bahwa penyakit cacar itu diakibatkan oleh mahluk halus, maka kita akan befikir negatif terhadap vaksinasi.
  • Rangsangan emosional
Faktor-faktor yang mempengaruhi yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan media massa, yaitu; suasana emosional, skema kognitif, suasana terpaan, predisposisi individual, dan identifikasi khalayak terhadap tokoh yang ada dalam media massa (Weiss, 1969, V:52-59)[20][26]
Skema kognitif ini yaitu mengenai alur seperti dalam film adalah alur naskah. Kita sering terbawa oleh alurnaskah tersebut. Sehingga kita meninggalkan alur kognitif kita sendiri, yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman.
Suasana terpaan, seperti anda akan takut melihat film horor sendirian itu berakibat dari suasana terpaan film tersebut.
Faktor predisposisi individual mengacu kepada karakteristik khas individu. Orang yang melankolis cenderung menangapi tragedi lebih terharu dari pada orang yang periang.
Faktor identifikasi menunjukan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam media massa.
  • Rangsangan seksual
ngmerangsang yang ditampilkan media massa. Stimuli erotis adalah merupakan stimuli yang membangkitkan gairah seksual – internal dan eksternal.[21][27] Stimuli perngrang yang bersifat eksternal ini sangat kompleks karena kita bisa lihat bahwa rangsangan seksual sesorang tidak hanya sekedar melihat objeknya, jadi walaupun tidak melihat objek erotis, tidak menciumnya, tidak menyentuhnya manusia bisa terangsang secara seksual. Ini terjadi karena stimulinya bisa beruabah disebabkan proses pelaziman atau peneguhan.
Karena proses pelaziman maka makna semua yang ada didunia ini akan bisa menjadi stimuli erotis, seperti saputangan, minyak wangi, selain itu imajinasi juga sangat berpengaruh dalam stimuli. Dan imajinasi tersebut ada kaitan erat dengan pengalaman.
4.Efek behavioral komunikasi massa
Pada waktu membicarakan efek kehadiran media massa secara sepintas kita juga menyebutkan efek behavioral seperti pengalihan kegiatan dan penjadwalan kegiatan sehari-hari. Perilaku meliputi bidang yang luas; yang kita pilih – dan yang paling sering dibicarakan – aialah efek komunikasi massa pada perilaku sosial yang diterima (efek prososial behavioral) dan pada perilaku agresif.
  • Efek prososial behavioral
Perilaku proposial adalah memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Keterampilan ini biasanya diperoleh dari proses belajar. Menurut Bandura proses belajar sosial itu dikatagorikan kedalam empat tahapan proses, yaitu;[22][28]
1. Proses perhatian
Pertama dalam melakukan pembelajaran adalah adanya peristiwa yang dapat diamati. Bila peristiwa sudah diamati maka terjadilah tahap pertama yaitu perhatian. Dalam persoalan yang biasanya cepat mendapat perhatian adalah sesuatu yang tampak menonjol dan sederhana. Disisni kita mulai mengurai faktor-faktor personal dalam perhatian. Menurut Bandura menyebut faktor-faktor ini yang menjadi penentu dalam memilih apa yang kita akan perhatikan dan kita teladani.
2. Proses pengingatan
Proses ini untuk mengingat sesuatu yang sudah kita perhatikan. Khalayak harus mampu menyimpan hasul pengamatannya dan mampu memanggil kembali tatkala meraka akan bertindak sesuai dengan teladan yang diberikan.
3. Proses reproduksi
Menghasilkan kembali perilaku tau tindakan yang kita amati. Tetapi apakah kita betul-betul melaksanakan perilaku teladan itu begantung kepada motivasi? Motivasi bergantung kepada peneguhan. Ada tiga macam peneguhan, yaitu; peneguhan eksternal, peneguhan gantian dan peneguhan diri.
  • Agresi sebagai efek komunikasi massa
Dalam film sering sekali menonotonkan adegan seks dan kekerasan dan ini merupakan adegan yang memikat perhatian pemirsa. Seperti anak-anak yang sering menonton film yang ada adegan kekerasan mereka cenderung dalam bermainnya meniru tindakan-tindakan tersebut.
Secara singkat efek dari adegan kekerasan dalam film atau televisi dapat disimpulkan dalam tiga tahap, yaitu; (1) mula-mula penonton mempelajari metode agresi setelah melihat contoh; (2) selanjutnya, kemampuan penonton untuk mengendalikan dirinya berkurang dan (3) akhirnya, merka tidak lagi tersentuh oleh orang yang menjadi korban agresi.[23][29] Jadi film kekerasan mengajarkan agresi, mengurangi kendali moral penontonnya, dan menumpulkan perasaan mereka.
BAB III
KESIMPULAN
Komunikasi massa itu adalah komunikasi melalui media massa yang ditunjukan kepada orang banyak dengan harapan pesan yang disampaikan melalui media massa tersebut dapat sampai secara serentak kepada orang banyak. Media massa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia pada saat ini. Hal ini terjadi karena media massa sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri.
Kehadiran media massa dalam kehidupan ternyata memberikan pengaruh bagi manusia. Berdasarkan teorinya, efek komunikasi massa itu ada tiga, yaitu tidak terbatas, terbatas dan moderat. Dalam efek tidak terbatas media memiliki kekuatan yang sangat luar biasa sekali. Teori ini didasarkan kepada teori atau model peluru (bullet) atau jarum hipodermik (hypodermic needle). Jadi, media massa diibaratkan peluru. Jika peluru itu ditembakan ke sasaran, sasaran tidak akan bisa menghindar. Analogi ini menunjukan bahwa peluru memiliki kekuatan yang luar biasa di dalam usaha “memengaruhi sasaran. Efek terbataspun hadir sebagai antitesa daripada efek tak terbatas. Dalam efek terbatas dijelaskan bahwa tidak semua pesan yang disampaikan itu dapat mempengaruhi perilaku audiens. Hal ini terjadi karena ada faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi audiens tersebut. Selanjutnya adalah efek medium. Efek medium ini hadir seiring dengan beredarnya zaman, efek ini bersifat pertengahan, yakni berada diantara efek tak terbatas dan efek terbatas.
Secara sederhana ada dua macam efek komunikasi massa, yaitu efek primer dan efek sekunder. Pertama, efek primer meliputi terpaan, perhatian dan pemahaman. Kedua, efek sekunder meliputi perubahan tingkat kognitif (perubahan pengetahuan dan sikap), dan perubahan perilaku (menerima dan memilih). Secara sederhana efek primer itu terjadi jika ada orang mengatakan telah terjadi proses komunikasi terhadap objek yang dilihatnya. Dalam efek primer pemahaman terhadap media massa selalu berubah-ubah. Hal ini terjadi karena adanya perkembangan yang semakin cepat daripada media massa itu sendiri, sehinnga formula pemahaman terhadap media massa itu selalu berubah-ubah. Efek sekunder itu adalah perilaku penerima yang ada di bawah kontrol langsung komunikator Efek sekunder ini dibahas melalui pendekatan efek uses and gratifications (kegunaan dan kepuasaan). Fokus utama efek ini adalah tidak hanya bagaimana media memengaruhi audience, tetapi juga bagaimana audience mereaksi pesan-pesan media yang sampai pada dirinya


DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro, et. al., Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007.
Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.
[1] [21]Ibid., hlm. 206.
 2[22] Ibid., hlm. 207.
3 [23] Ibid.
4 [24] Ibid., hlm. 209.
5[25] Ibid., hlm. 210.
6[26] Ibid., hlm. 211.
7[27] Ibid.
8[28] Ibid.
9 [30] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 229
10 [31] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 230
11 [32] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 231
[1]2 [33] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 234
[1]3 [34] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 235
[1]4[20] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 220
[1]5 [21] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 224
[1]6 [22] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 226
[1]7 [23] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 230
18 [24] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 230
19 [25] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 233
20 [26] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 235
21 [27] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 237
22 [28] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 240
23 [29] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 246
http://dodi17setiadi.blogspot.com/2009/12/efek-efek-komunikasi-massa.html



[1] [21]Ibid., hlm. 206.
 2[22] Ibid., hlm. 207.
3 [23] Ibid.


4 [24] Ibid., hlm. 209.
5[25] Ibid., hlm. 210.
6[26] Ibid., hlm. 211.
7[27] Ibid.
8[28] Ibid.



[9] [30] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 229
[10] [31] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 230
[11] [32] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 231
[12] [33] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 234
[13] [34] Nurudin, Pengantar Komunkasi Massa….hal 235
[14] [20] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 220
[15] [21] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 224
[16] [22] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 226
[17] [23] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 230
[18] [24] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 230
[19] [25] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 233
[20] [26] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 235
[21] [27] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 237
[22] [28] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 240
[23] [29] Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi,..hal 246

Tidak ada komentar:

Posting Komentar