DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
…………………………………………………………….………………… 1
BAB I
…………………………………………………………………………..................... 2
PENDAHULUAN
1.
LatarBelakang …………………………………………………………………….... 2
BAB II
…………………………………………………………………………………….... 3
PEMBAHASAN
1.
Jenis-jenis efek komunikasi massa ........................................................... 3
1.1 Efek
Primer
............................................................................................................... 3
1.2 Efek
Sekunder
.......................................................................................................... 4
2.
Factor yang mempengaruhi efek komunikasi massa ............................. 5
1. Faktor individu
........................................................................................................... 5
2. Faktor social
................................................................................................................ 6
3.
Efek pesan media massa terhadap khalayak .......................................... 6
1. Efek kehadiran media massa
.................................................................................... 6
2. Efek kognitif komunikasi massa ............................................................................... 7
3. Efek afektif komunikasi massa ................................................................................. 8
4.Efek behavioral komunikasi massa ........................................................................... 9
BAB III
……………………………………………………………………….…………… 11
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
..........................................................................................................
12
BAB
I
PENDAHULUAN
1. LatarBelakang
Pada jaman sekarang ini Televisi
merupakan media massa elektronik yang mampu meyebarkan berita secara cepat dan
memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang
bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu
menarik minat pemirsanya, dan membuat pemirsannya ‘ketagihan’ untuk selalu
menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kesehariannya, bahkan
acara “nonton tv” sudah menjadi agenda wajib bagi mereka.
Dengan berbagai acara yang
ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada
sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu
membius para pemirsanya (anak-anak, remaja dan orang tua) untuk terus
menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian rupa, dan di bubuhi dengan
assesories-assesories yang menarik, sehingga membuat pemirsanya terkagum-kagum
dengan acara yang disajikan. Tidak jarang sekarang ini banyak anak-anak lebih
suka berlama-lama didepan televisi dari pada belajar, bahkan hampir-hampir lupa
akan waktu makannya. Ini merupakan suatu problematika yang terjadi dilingkungan
kita sekarang ini, dan perlu perhatian khusus bagi setiap orang tua untuk
selalu mengawasi aktivitas anaknya.
Dengan demikian terutama bagi
anak-anak yang pada umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat, tidak menutup
kemungkinan perilaku dan sikap anak tesebut akan mengikuti acara televisi yang
ia tonton. Apabila yang ia tonton merupakan acara yang lebih kepada eduatif,
maka akan bisa memberikan dampak positif tetapi jika yang ia tonton lebih
kepada hal yang tidak memiliki arti bahkan yang mengandung unsur-unsur negatif
atau penyimpangan bahkan sampai kepada kekerasan, maka hal ini akan memberikan
dampak yang negatif pula terhadap prilaku anak yang menonton acara televisi
tersebut. Oleh sebab itu, sudah seharusnya setiap orang tua mengawasi acara
televisi yang menjadi tontonan anaknya dan sehingga dapat melakukan proteksi
tehadap dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh acara televisi tesebut.
BAB I
PEMBAHASAN
1.
Jenis-jenis efek komunikasi massa
Ada beberapa jenis efek komunikasi
massa ini. “Secara sederhana Keith R. Stamm dan John E. Bowes (1990) membagi
kedua bagian dasar. Pertama, efek primer meliputi terpaan, perhatian dan
pemahaman. Kedua, efek sekunder meliputi perubahan tingkat kognitif (perubahan
pengetahuan dan sikap), dan perubahan perilaku (menerima dan memilih)”.[1][21] Karena dalam
komunikasi massa itu melibatkan media massa, maka Drs. Elvinaro Ardianto, M.
Si., et. al., menjelaskan efek
komunikasi massa itu dari dua pendekatan, yaitu efek komunikasi massa yang
berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri serta jenis perubahan yang
terjadi pada khalayak yang terdiri atas efek kognitif, afektif dan behavioral.
1.1
Efek Primer
“Bisa dikatakan secara sederhana
bahwa efek primer terjadi jika ada orang mengatakan telah terjadi proses
komunikasi terhadap objek yang dilihatnya”.[2][22] Mengenai
efek primer ini Drs. Nurudin, M. Si. menjelaskan contohnya sebagai berikut:
Misalnya suatu saat Anda menelepon
teman Anda untuk mengajak bermain bulu tangkis pada hari jum’at sore. Efek
pertama terjadi jika ada jawaban teman Anda lewat telepon, misalnya dengan
suara “halo”. Kemudian, Anda harus yakin bahwa teman Anda tersebut mendengar
suara Anda dengan jelas. Lalu Anda harus menyampaikan permintaan Anda agar dia
dapat mengerti maksud Anda. Dan akhirnya Anda menginginkan jawaban seperti ini,
“wah dengan senang hati” dari teman tadi. Hasil dari tiga poin pertama adalah
efek primer, sedangkan yang terakhir adalah efek sekunder komunikasi. Bahkan
ketika teman Anda tersebut menjawab, “maaf saya sangat sibuk hari ini” pun
merupakan efek. Jawaban itu bisa imasukan dalam efek sekunder. Mengapa? Sebab
dalam kasus itu ada perubahan perilaku (memilih untuk tidak mengikuti
permintaan Anda).[3][23]
Dalam efek primer pemahaman terhadap
media massa selalu berubah-ubah. Hal ini terjadi karena adanya perkembangan
yang semakin cepat daripada media massa itu sendiri, sehinnga formula pemahaman
terhadap media massa itu selalu berubah-ubah. Sebagaimana Drs. Nurudin, M. Si
menjelaskan:
Dengan perkembangan yang semakin
pesat dari media elektronik (salah satunya televisi) dewasa ini, pemahaman
tidak hanya difokuskan pada media cetak, tetapi juga ke media elektronik
tersebut. Artinya, pemahaman tidak lagi mengenai panjang pendeknya kalimat,
model tulisan disajikan, tetapi berkait dengan suatu program acara (teknik
pengambilan gambar, suara, tulisan yang dipakai untuk memeperjelas gambar,
intonasi bicara dan lain-lain). Jadi formula kemampuan melihat bergeser ke
formula kemampuan dengar dan lihat.[4][24]
1.2 Efek Sekunder
“Efek sekunder itu adalah perilaku
penerima yang ada di bawah kontrol langsung komunikator”. Jadi dalam efek
sekunder ini komunikan atau audiens senantiasa berada dalam pengawasan
komunikator.
Efek sekunder ini dibahas melalui
pendekatan efek uses and gratifications
(kegunaan dan kepuasaan). Efek kegunaan dan kepuasan sering kali digunakan
karena “efek ini diyakini lebih menggambarkan realitas konkrit yang terjadi di
masyarakat”.[5][25] inti efek
kegunaan dan kepuasan ini adalah “jika kebutuhan sudah terpenuhi melalui
saluran komunikasi massa, berarti individu mencapai tingkat kepuasan”.[6][26]
Menurut John R. Bittner (1996),
‘fokus utama efek ini adalah tidak hanya bagaimana media memengaruhi audience, tetapi juga bagaimana audience mereaksi pesan-pesan media yang
sampai pada dirinya’.[7][27] Jadi dalam efek
kegunaan dan kepuasaan ini audiens merupakan pihak aktif yang merespons media.
Lebih jelasnya lagi adalah “semua itu bisa dibingkai dengan pertanyaan, apa
yang dikerjakan media pada audience?
Tetapi yang lebih penting adalah apa yang dikerjakan audience pada media?”[8][28]
2.
Factor yang mempengaruhi efek komunikasi massa
Komunikasi mempunyai efek yang diwujudkan dalam
tiga hal; efek kognitif (pengetahuan), afektif (emosional dan perasaan),
behavioral (perubahan pada perilaku). Dalam perkembangan komunikasi ternyata
proses pengaruh tidak dapat berdiri sendiri. Dengan kata lain, ada beberapa
faktor yang mempengaruhinya.
1. Faktor individu
Pengaruh faktor individu itu berdampak pada
penerimaan pesan yang ini sangat erat kaitannya dengan psikologi. Ada banyak
faktor pribadi anata lain selective attention, selective perception, dan
selective retention, motivasi dan pengetahuan, kepercayaan, pendapat,
nilai dan kebutuhan, pembujukan, kepribadian dan penyesuaian diri.
Selective ettention adalah individu yang
cenderung memperhatikan dan menerima terpaan pesan media massa yang sesuai
dengan pendapat dan minatnya.[9][30]
Dan menghindari pesan-pesan yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Contoh
seperti seseorang yang merupakan anggota PKS akan cenderung menghadiri atau
melihat kampanye partai PKS dibanding dengan kampanye yang lain.
Selective perception adalah seorang
individu ang secara sadar akan mencari media yang akan bisa mendorong
kecenderungan dirinya.[10][31]
Selective retention adalah kecenderungan
orang hanya untuk mengingat pesan yang sesuai dengan pendapat dan kebutuhan
dirinya.[11][32]
Sebagai contoh seorang duda atau janda kebetulan melihat acara televisi tentang
perkawinan. Pada saat bersamaan orang tersebut ingin mencari pasangan hidup
lagi.
2. Faktor sosial
Ada beberapa faktor dalam sosial yang mempengaruhi
terhadap efek komunikasi, diantarany; umur dan jenis kelamin, pendidikan dan
latihan, pekerjaan dan pedapatan, agama, tempat tinggal.[12][33]
Umur dan jenis kelamin juga sangat berpengaruh
kepada penerimaan pesan. Bisa jadi umur dan jeis kelamin sesorang akan
mempengaruhi terhadap kelompok ia bergabung. Menurut Wilbur Schramm kontek
kelompok ketika komunikan menjadi anggotanya ikut mempengaruhi peneriamaan
pesan media massa.[13][34]
Sebagai contoh individu yang masuk kedalam organisasi NU akan lebih mudah
menerima pesan-pesan media massa yang mendukung keberadan NU dan itu berlaku
sebaliknya.
Tingkat pendidikan yang berbeda juga berpengaruh
kepada penerimaan pesan. Seperti pada masyarakat yang tingkat pendidkannya
rendah akan lebih suka tentang pemberitaan mengenai seks, kriminal, dan
kejahatan lain atau pemebitaan yang bombastis. Berlainan dengan seorang pegawai
bank yang notabennya berpendidikan tinggi lebih suka bisnis indonesia,
infobank.
Agama juga ikut mempengaruhi efek penerimaan pesan.
Agama akan menjadi faktor penentu organisasi apa yang akan diikuti. Akhirnya
oraganisasi keagamaan yang diikuti akan ikut menentukan proses penerimaan
pesan.
3.
Efek
pesan media massa terhadap khalayak
1. Efek
kehadiran media massa
Steven H.
Chaffe menyebutkan lima hal mengenai efek kehadiran media massa, yaitu; (1)
efek ekonomis; (2) efek sosial; (3) efek pada penjadwalan kegiatan; (4) efek
pada penyaluran atau penghilangan perasaan tertentu; dan (5) terhadap perasaan
orang terhadap media.[14][20]
Efek
ekonomis
bisa mengerakan berbagai usaha – produksi, distribusi, dan konsumsi “jasa”
media massa.
Efek
sosial berkenaan
dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media
massa. Sudah tentu bahwa kehadiran televisi meningkatkan status sosial
pemiliknya.
Efek
penjadwalan
kegiatan ini berakibat kepada merubah pola hidupnya, seperti yang sebelumnya
belum ada televisi biasa tidur jam 8 dan bangun pagi untuk kerja, tetapi
setelah ada televisi mereka sering tidur malam dan mengubah pola kebiasaan
mereka.
Akibat
kehadiaran media massa sebagai objek fisik sehingga menimbulkan hilangnya
peasaan tidak enak dan tumbuhnya perasaan tertentu. Sering media digunakan
untuk menghilangkan perasaan tidak enak – misalnya kesepian, marah, kecewa, dan
sebagainya. Media dipergunakan tanpa memperdulikan isi pesan. Kehadiran media
massa juga bukan hanya untuk menghilangkan perasaan, ia pun menimbulkan
perasaan baru.
2. Efek
kognitif komunikasi massa
Citra
merupakan peta anda tentang dunia. Citra adalah gambaran tentang realitas dan
tidak harus sesuai dengan relaitas.
“
Komunikasi tidak secara langsung menimbulkan perilaku tertentu”, ujar Roberts
(1977), “tetapi cenderung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita
tentang lingkungan; dan cirta inilah yang mempengaruhi cara kita berperilaku”.[15][21]
Dalam
pengkajian komunikasi massa akan menelaah efek kognitif komunikasi pada
pembentukan dan perubahan citra, kemudian teori agenda seting dan efek
proposial kognitif media massa.
- Pembentukan dan perubahan citra
Citra
terbentuk dari informasi yang kita dapat atau terima. Media massa bekerja untuk
menyampaikan informasi. Disinilah bahaya media massa karena media massa pada
akhirnya mengasingkan orang dari pengalaman personalnya, dan walaupun tampak
mengguncangkannya, media massa memperluas isolasi moral sehingga mereka
terasing dari yang lain dan realitas dari diri mereka sendiri. Tetapi sekali
media massa bisa merusak kemampuan sesorang memperoleh pengalaman yang
bermakna.[16][22]
- Agenda setting
Dalam
komunikasi massa sebuah informasi yang diberikan kepada khalayak itu sudah
mengalami penyaringan. Maka dari itu banyak terjadi pencitraan yang berbeda
antara media yang satu dengan media yang lainnya. Karena mereka mempunyai
standar tersendiri untuk menentukan informasi yang layak untuk di informasikan
kepada khalayak. Bagaimana media massa menyajikan peristiwa, itulah yang
disebut dengan agenda media.
Karena
pembaca, pemirsa, dan pendengar kebanyakan memperoleh informasi melalui media
massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat. Agenda
masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggota masyarakat apa yang
mereka pikirkan, apa yang mereka bicarakan dengan orang lain, atau apa yang
mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat.[17][23]
- Efek proposial kognitif
Media
massa seperti televisi, radio, surat kabar bila memberikan informasi dan
memberikan manfaat atau nilai yang berguna, maka khalayaknya akan memperoleh
manfaat dari informasi tersebut? Dan disini akan membahas bagaimana media massa
memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat. Inilah yang kita sebut
efek prososial.[18][24]
Sebagai
contoh ketika melihat televisi jika kita dengan menonton televisi mengakibatkan
kita pandai berbahasa Indonesia yang baik dan benar, berarti televisi
menimbulakan efek prososial kognitif.
3. Efek
afektif komunikasi massa
- Pembentukan dan perubahan sikap
Semua
sikap pada dasarnya bersumber pada organisaasi kognitif – pada pengalaman dan
pengetauan yang kita miliki. Sikap akan selalu diarahkan kepada objek, kelompok
atau orang. Hunbungannya adalah pasti didasarkan pada informasi yang kita
peroleh tentang sifat-sifat mereka. Dengan kata lain bahwa sikap kita itu
bergantung dari pencitraan kita terhadap sesuatu tersebut.[19][25] Sebagai contoh jika kita memahami mengenai penyakit cacar
itu diakibatkan oleh virus, maka kita akan berfikir positif terhadap vaksinasi.
Berbeda ketika kita memahami bahwa penyakit cacar itu diakibatkan oleh mahluk
halus, maka kita akan befikir negatif terhadap vaksinasi.
- Rangsangan emosional
Faktor-faktor
yang mempengaruhi yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan media
massa, yaitu; suasana emosional, skema kognitif, suasana terpaan, predisposisi
individual, dan identifikasi khalayak terhadap tokoh yang ada dalam media massa
(Weiss, 1969, V:52-59)[20][26]
Skema
kognitif ini yaitu mengenai alur seperti dalam film adalah alur naskah. Kita
sering terbawa oleh alurnaskah tersebut. Sehingga kita meninggalkan alur
kognitif kita sendiri, yang terbentuk dari pengalaman-pengalaman.
Suasana
terpaan, seperti anda akan takut melihat film horor sendirian itu berakibat
dari suasana terpaan film tersebut.
Faktor
predisposisi individual mengacu kepada karakteristik khas individu. Orang yang
melankolis cenderung menangapi tragedi lebih terharu dari pada orang yang
periang.
Faktor
identifikasi menunjukan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang
ditampilkan dalam media massa.
- Rangsangan seksual
ngmerangsang
yang ditampilkan media massa. Stimuli erotis adalah merupakan stimuli yang
membangkitkan gairah seksual – internal dan eksternal.[21][27] Stimuli perngrang yang bersifat eksternal ini sangat
kompleks karena kita bisa lihat bahwa rangsangan seksual sesorang tidak hanya
sekedar melihat objeknya, jadi walaupun tidak melihat objek erotis, tidak
menciumnya, tidak menyentuhnya manusia bisa terangsang secara seksual. Ini
terjadi karena stimulinya bisa beruabah disebabkan proses pelaziman atau
peneguhan.
Karena
proses pelaziman maka makna semua yang ada didunia ini akan bisa menjadi
stimuli erotis, seperti saputangan, minyak wangi, selain itu imajinasi juga
sangat berpengaruh dalam stimuli. Dan imajinasi tersebut ada kaitan erat dengan
pengalaman.
4.Efek behavioral komunikasi massa
Pada waktu
membicarakan efek kehadiran media massa secara sepintas kita juga menyebutkan
efek behavioral seperti pengalihan kegiatan dan penjadwalan kegiatan
sehari-hari. Perilaku meliputi bidang yang luas; yang kita pilih – dan yang
paling sering dibicarakan – aialah efek komunikasi massa pada perilaku sosial
yang diterima (efek prososial behavioral) dan pada perilaku agresif.
- Efek prososial behavioral
Perilaku
proposial adalah memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang
lain.
Keterampilan
ini biasanya diperoleh dari proses belajar. Menurut Bandura proses belajar
sosial itu dikatagorikan kedalam empat tahapan proses, yaitu;[22][28]
1. Proses
perhatian
Pertama
dalam melakukan pembelajaran adalah adanya peristiwa yang dapat diamati. Bila
peristiwa sudah diamati maka terjadilah tahap pertama yaitu perhatian. Dalam
persoalan yang biasanya cepat mendapat perhatian adalah sesuatu yang tampak
menonjol dan sederhana. Disisni kita mulai mengurai faktor-faktor personal
dalam perhatian. Menurut Bandura menyebut faktor-faktor ini yang menjadi
penentu dalam memilih apa yang kita akan perhatikan dan kita teladani.
2. Proses
pengingatan
Proses ini
untuk mengingat sesuatu yang sudah kita perhatikan. Khalayak harus mampu
menyimpan hasul pengamatannya dan mampu memanggil kembali tatkala meraka akan
bertindak sesuai dengan teladan yang diberikan.
3. Proses
reproduksi
Menghasilkan
kembali perilaku tau tindakan yang kita amati. Tetapi apakah kita betul-betul
melaksanakan perilaku teladan itu begantung kepada motivasi? Motivasi
bergantung kepada peneguhan. Ada tiga macam peneguhan, yaitu; peneguhan
eksternal, peneguhan gantian dan peneguhan diri.
- Agresi sebagai efek komunikasi massa
Dalam film
sering sekali menonotonkan adegan seks dan kekerasan dan ini merupakan adegan
yang memikat perhatian pemirsa. Seperti anak-anak yang sering menonton film
yang ada adegan kekerasan mereka cenderung dalam bermainnya meniru
tindakan-tindakan tersebut.
Secara
singkat efek dari adegan kekerasan dalam film atau televisi dapat disimpulkan
dalam tiga tahap, yaitu; (1) mula-mula penonton mempelajari metode agresi
setelah melihat contoh; (2) selanjutnya, kemampuan penonton untuk mengendalikan
dirinya berkurang dan (3) akhirnya, merka tidak lagi tersentuh oleh orang yang
menjadi korban agresi.[23][29] Jadi film kekerasan mengajarkan agresi, mengurangi kendali
moral penontonnya, dan menumpulkan perasaan mereka.
BAB III
KESIMPULAN
Komunikasi massa itu adalah komunikasi
melalui media massa yang ditunjukan kepada orang banyak dengan harapan pesan
yang disampaikan melalui media massa tersebut dapat sampai secara serentak
kepada orang banyak. Media massa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia
pada saat ini. Hal ini terjadi karena media massa sudah menjadi bagian dari
kehidupan manusia itu sendiri.
Kehadiran media massa dalam
kehidupan ternyata memberikan pengaruh bagi manusia. Berdasarkan teorinya, efek
komunikasi massa itu ada tiga, yaitu tidak terbatas, terbatas dan moderat.
Dalam efek tidak terbatas media memiliki kekuatan yang sangat luar biasa
sekali. Teori ini didasarkan kepada teori atau model peluru (bullet) atau jarum hipodermik (hypodermic
needle). Jadi, media massa diibaratkan
peluru. Jika peluru itu ditembakan ke sasaran, sasaran tidak akan bisa
menghindar. Analogi ini menunjukan bahwa peluru memiliki kekuatan yang luar
biasa di dalam usaha “memengaruhi sasaran. Efek terbataspun hadir sebagai
antitesa daripada efek tak terbatas. Dalam efek terbatas dijelaskan bahwa tidak
semua pesan yang disampaikan itu dapat mempengaruhi perilaku audiens. Hal ini
terjadi karena ada faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi audiens
tersebut. Selanjutnya adalah efek medium. Efek medium ini hadir seiring dengan
beredarnya zaman, efek ini bersifat pertengahan, yakni berada diantara efek tak
terbatas dan efek terbatas.
Secara sederhana ada dua macam efek
komunikasi massa, yaitu efek primer dan efek sekunder. Pertama, efek primer
meliputi terpaan, perhatian dan pemahaman. Kedua, efek sekunder meliputi
perubahan tingkat kognitif (perubahan pengetahuan dan sikap), dan perubahan
perilaku (menerima dan memilih). Secara sederhana efek primer itu terjadi jika
ada orang mengatakan telah terjadi proses komunikasi terhadap objek yang
dilihatnya. Dalam efek primer pemahaman terhadap media massa selalu
berubah-ubah. Hal ini terjadi karena adanya perkembangan yang semakin cepat
daripada media massa itu sendiri, sehinnga formula pemahaman terhadap media
massa itu selalu berubah-ubah. Efek sekunder itu adalah perilaku penerima yang
ada di bawah kontrol langsung komunikator Efek sekunder ini dibahas melalui
pendekatan efek uses and gratifications (kegunaan dan kepuasaan). Fokus utama efek
ini adalah tidak hanya bagaimana media memengaruhi audience, tetapi juga bagaimana audience mereaksi pesan-pesan media yang sampai pada
dirinya
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro, et.
al., Komunikasi Massa: Suatu Pengantar.
Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007.
Nurudin, Pengantar
Komunikasi Massa. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2007.
[1]
[21]Ibid., hlm.
206.
2[22] Ibid.,
hlm. 207.
3 [23]
Ibid.
4
[24] Ibid., hlm. 209.
5[25]
Ibid., hlm. 210.
6[26]
Ibid., hlm. 211.
7[27]
Ibid.
8[28] Ibid.
http://dodi17setiadi.blogspot.com/2009/12/efek-efek-komunikasi-massa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar