Senin, 18 November 2013

Hukum Jatuh Cinta Dalam Pandangan Islam Dan Bagaimana Mengelola Rasa Cinta

Masalah perasaan cinta sebuah tema yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Karena saya berpikir masalah ini tidak terlalu urgen untuk dijadikan sebuah tulisan, dan saya tidak mau disibukkan dengan masalah seperti ini.
Namun seiring waktu, saya merasakan masalah ini sesuatu yang penting untuk ditulis. Hampir setiap saya mengisi mentoring/liqo pekanan (terutama untuk kader pemula), masalah ini hampir tidak pernah absen menjadi bahasan yang didiskusikan/ditanyakan. Begitu juga saat mengisi materi dalam beberapa agenda, masalah ini cukup sering menjadi bahan pertanyaan peserta. Dan saya juga sangat sering menerima SMS dan pesan facebook dari ikhwah dan sahabat lainnya yang bertanya tentang masalah yang ini.
Saya sebenarnya merasa belum pantas untuk menulis masalah ini, karena masalah ini seharusnya ditulis oleh orang yang yang memang mampu menjaga dan menata hatinya dengan baik terkait masalah ini. Dan saya bukanlah orang yang mampu menjaga dan menata hati dengan baik, masih ada perasaan yang seharusnya tidak boleh ada yang masih menghinggapi hati ini. Tulisan ini hanya bentuk usaha untuk saling berbagi dan saling mengingatkan diantara sesama muslim, terlebih mengingatkan diri saya sendiri.
Saya sering mengartikan “jatuh cinta” ini dengan kata “kecendrungan”, jatuh cinta adalah kecendrungan terhadap sesuatu melebihi dari yang  lainnya. Jika seorang laki-laki jatuh cinta kepada seorang perempuan, artinya ia mempunyai kecendrungan kepada perempuan tersebuan tersebut melebihi perempuan lainnya.
Lalu Bagaimana Islam Memandang Masalah Kecendrungan Ini?
Kecendrungan terhadap lawan jenis merupakan fitrah setiap manusia, islam adalah agama yang tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia, maka islam tidak pernah melarang dan menganggap sebuah dosa rasa kecendrungan/rasa jatuh cinta kepada lawan jenis. Maka hukum asal dari jatuh cinta adalah boleh/mubah, namun selanjutnya ia menjadi boleh atau dilarang (berdosa) tergantung dengan penyikapan atau bagaimana mengelola rasa itu setelah rasa itu muncul.
Al-Quran menerangkan bahwa rasa kecendrungan/jatuh cinta merupakan fitrah dasar manusia.
“dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, .... (QS. Ali Imran: 14).
Fitrah manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dilarang, juga tidak bisa dihalang-halangi datangnya, karena ia merupakan rasa yang timbul secara alami pada diri manusia. Fitrah manusia merupaka sesuatu yang diciptakan Allah sedari awal penciptaan manusia, ini disebut dengan sunnatullah. Melarang munculnya sunnatullah merupakan sesuatu yang tidak mungkin.
Maka, tidak ada dosa bagi seseorang mempunyai kecendrungan terhadap lawan jenisnya, suka dan cinta yang tumbuh dalam dirinya secara natural.
Yang menjadi masalah/dosa bukan rasa kecendrungan itu, tapi penyikapan atau pengelolaan rasa kecendrungan tersebut. Ia akan menjadi salah jika dikelola dengan salah, dan ia akan menjadi benar ketika dikelola dengan benar, bahkan ia mendatangkan pahala jika dikelola sesuai dengan syariat. Maka yang terpenting bukan masalah jatuh cintanya, tapi bagaimana mengelola rasa jatuh cinta tersebut saat ia muncul.
Jika tiba-tiba muncul rasa kagum pada seorang lawan jenis, kemudian sedikit demikit sedikit secara tidak sadar muncul perasaan suka, maka kelolalah ia dengan benar. Jika rasa itu muncul, kemudia rasa itu terus kita turuti sehingga perasaan itu kita ungkapkan kepada orang kita cendrungi, selanjutnya terkalinlah Hubungan Tanpa Status (HTS)/Pacaran, maka ini adalah pengelolaan yang salah.
Secara umum, ada dua macam bagaimana mengelola kencendrungan dengan benar sehingga tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang syariat:
1.      Saat rasa suka itu muncul, dan pada saat itu kita sudah siap untuk menikah, maka silahkan ungkapkan rasa itu dengan wanita/pria yang kita sukai, silahkan lansung lamar dia dengan cara dan proses yang syar’i.
Ini adalah pengelolaan rasa cinta yang terbaik, yang paling dianjurkan. Bukan dosa yang didapat, tapi insya Allah mendatangkan kebaikan/pahala dari Allah Swt.
2.      Saat rasa itu muncul, namun kita pada kondisi belum siap untuk menikah, maka jangan sekali-kali memperturuti perasaan ini, apalagi sampai melanggar aturan syar’i. Berjuanglah melawan rasa ini dengan maksimal. Mungkin langkah-langkah ini cukup membantu dalam mengelola perasaan ini:
  • Kurangi interaksi dengan si dia, karena biasanya rasa itu muncul seiring dengan seringnya interaksi.
  • Kurangi komunikasi melalui sosial media, atau anda bisa membatasi diri untuk berselancar di dunia sosial media. Sosial media ini cukup berbahaya dan cukup banyak memakan korban. Sosial media punya pengaruh yang cukup besar melahirkan rasa ini.
  • Kurangi kontak SMS atau  telponan, bahkan jika bisa stop sama sekali.
  • Jika memungkinkan, stop interaksi dengan dia secara total sampai rasa itu hilang, hapus Nomor Hp nya dan putus hubungan di sosial media. Insya Allah ini sangat membantu melupakan dia.
  • Kurangi menyebut dia, baik dalam tulisan buku harian atau ngobrol dengan teman. Juga hindari bergurau tentang dia dengan teman
  • Sibukkanlah diri dengan kegiatan yang bermanfaat.
  • Tentukan kriteria calon istri/suami yang lebih tinggi dari sosok yang kita sukai/cintai, sehingga rasa suka kita berkurang karena dia belum sesuai dengan kriteria calon istri/suami yang kita inginkan.
  • Yakinlah jodoh sudah disiapkan Allah, dan berdoalah supaya diberikan yang lebih baik.
  • Berdoalah supaya rasa itu dihilangkan Allah dari hati kita, berdoalah supaya Allah memberi jalan yang trbaik.
Walaupun rasa rasa jatuh cinta bukan sesuatu yang dilarang, tapi kita harus tetap berhati-hati dengan rasa ini, karena banyak orang yang terjatuh kelembah maksiat disebabkan oleh rasa ini, karena gagal mengelolanya dengan benar.
Walaupun rasa ini bukan sesuatu yang haram (awal dan asalnya), tapi perasaan ini tetap tidak boleh terlalu lama bersemayam di hati kita tanpa ikatan yang sah dan halal. Rasa ini harus diatasi secepat mungkin.
Saat rasa itu datang, itu bukan suatu kesalahan.
Tapi  membiarkan di hati berlarut-larut, apalagi sampai memperturutinya, maka ini kesalahan besar.

Kecendrunan ini adalah sesuatu yang dibolehkan, tapi harus diwaspadai.Hukum Jatuh Cinta Dalam Pandangan Islam Dan Bagaimana Mengelola Rasa Cita
Masalah perasaan cinta sebuah tema yang belum pernah saya tulis sebelumnya. Karena saya berpikir masalah ini tidak terlalu urgen untuk dijadikan sebuah tulisan, dan saya tidak mau disibukkan dengan masalah seperti ini.
Namun seiring waktu, saya merasakan masalah ini sesuatu yang penting untuk ditulis. Hampir setiap saya mengisi mentoring/liqo pekanan (terutama untuk kader pemula), masalah ini hampir tidak pernah absen menjadi bahasan yang didiskusikan/ditanyakan. Begitu juga saat mengisi materi dalam beberapa agenda, masalah ini cukup sering menjadi bahan pertanyaan peserta. Dan saya juga sangat sering menerima SMS dan pesan facebook dari ikhwah dan sahabat lainnya yang bertanya tentang masalah yang ini.
Saya sebenarnya merasa belum pantas untuk menulis masalah ini, karena masalah ini seharusnya ditulis oleh orang yang yang memang mampu menjaga dan menata hatinya dengan baik terkait masalah ini. Dan saya bukanlah orang yang mampu menjaga dan menata hati dengan baik, masih ada perasaan yang seharusnya tidak boleh ada yang masih menghinggapi hati ini. Tulisan ini hanya bentuk usaha untuk saling berbagi dan saling mengingatkan diantara sesama muslim, terlebih mengingatkan diri saya sendiri.
Saya sering mengartikan “jatuh cinta” ini dengan kata “kecendrungan”, jatuh cinta adalah kecendrungan terhadap sesuatu melebihi dari yang  lainnya. Jika seorang laki-laki jatuh cinta kepada seorang perempuan, artinya ia mempunyai kecendrungan kepada perempuan tersebuan tersebut melebihi perempuan lainnya.
Lalu Bagaimana Islam Memandang Masalah Kecendrungan Ini?
Kecendrungan terhadap lawan jenis merupakan fitrah setiap manusia, islam adalah agama yang tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia, maka islam tidak pernah melarang dan menganggap sebuah dosa rasa kecendrungan/rasa jatuh cinta kepada lawan jenis. Maka hukum asal dari jatuh cinta adalah boleh/mubah, namun selanjutnya ia menjadi boleh atau dilarang (berdosa) tergantung dengan penyikapan atau bagaimana mengelola rasa itu setelah rasa itu muncul.
Al-Quran menerangkan bahwa rasa kecendrungan/jatuh cinta merupakan fitrah dasar manusia.
“dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, .... (QS. Ali Imran: 14).
Fitrah manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dilarang, juga tidak bisa dihalang-halangi datangnya, karena ia merupakan rasa yang timbul secara alami pada diri manusia. Fitrah manusia merupaka sesuatu yang diciptakan Allah sedari awal penciptaan manusia, ini disebut dengan sunnatullah. Melarang munculnya sunnatullah merupakan sesuatu yang tidak mungkin.
Maka, tidak ada dosa bagi seseorang mempunyai kecendrungan terhadap lawan jenisnya, suka dan cinta yang tumbuh dalam dirinya secara natural.
Yang menjadi masalah/dosa bukan rasa kecendrungan itu, tapi penyikapan atau pengelolaan rasa kecendrungan tersebut. Ia akan menjadi salah jika dikelola dengan salah, dan ia akan menjadi benar ketika dikelola dengan benar, bahkan ia mendatangkan pahala jika dikelola sesuai dengan syariat. Maka yang terpenting bukan masalah jatuh cintanya, tapi bagaimana mengelola rasa jatuh cinta tersebut saat ia muncul.
Jika tiba-tiba muncul rasa kagum pada seorang lawan jenis, kemudian sedikit demikit sedikit secara tidak sadar muncul perasaan suka, maka kelolalah ia dengan benar. Jika rasa itu muncul, kemudia rasa itu terus kita turuti sehingga perasaan itu kita ungkapkan kepada orang kita cendrungi, selanjutnya terkalinlah Hubungan Tanpa Status (HTS)/Pacaran, maka ini adalah pengelolaan yang salah.
Secara umum, ada dua macam bagaimana mengelola kencendrungan dengan benar sehingga tidak terjatuh pada hal-hal yang dilarang syariat:
1.      Saat rasa suka itu muncul, dan pada saat itu kita sudah siap untuk menikah, maka silahkan ungkapkan rasa itu dengan wanita/pria yang kita sukai, silahkan lansung lamar dia dengan cara dan proses yang syar’i.
Ini adalah pengelolaan rasa cinta yang terbaik, yang paling dianjurkan. Bukan dosa yang didapat, tapi insya Allah mendatangkan kebaikan/pahala dari Allah Swt.
2.      Saat rasa itu muncul, namun kita pada kondisi belum siap untuk menikah, maka jangan sekali-kali memperturuti perasaan ini, apalagi sampai melanggar aturan syar’i. Berjuanglah melawan rasa ini dengan maksimal. Mungkin langkah-langkah ini cukup membantu dalam mengelola perasaan ini:
  • Kurangi interaksi dengan si dia, karena biasanya rasa itu muncul seiring dengan seringnya interaksi.
  • Kurangi komunikasi melalui sosial media, atau anda bisa membatasi diri untuk berselancar di dunia sosial media. Sosial media ini cukup berbahaya dan cukup banyak memakan korban. Sosial media punya pengaruh yang cukup besar melahirkan rasa ini.
  • Kurangi kontak SMS atau  telponan, bahkan jika bisa stop sama sekali.
  • Jika memungkinkan, stop interaksi dengan dia secara total sampai rasa itu hilang, hapus Nomor Hp nya dan putus hubungan di sosial media. Insya Allah ini sangat membantu melupakan dia.
  • Kurangi menyebut dia, baik dalam tulisan buku harian atau ngobrol dengan teman. Juga hindari bergurau tentang dia dengan teman
  • Sibukkanlah diri dengan kegiatan yang bermanfaat.
  • Tentukan kriteria calon istri/suami yang lebih tinggi dari sosok yang kita sukai/cintai, sehingga rasa suka kita berkurang karena dia belum sesuai dengan kriteria calon istri/suami yang kita inginkan.
  • Yakinlah jodoh sudah disiapkan Allah, dan berdoalah supaya diberikan yang lebih baik.
  • Berdoalah supaya rasa itu dihilangkan Allah dari hati kita, berdoalah supaya Allah memberi jalan yang trbaik.
Walaupun rasa rasa jatuh cinta bukan sesuatu yang dilarang, tapi kita harus tetap berhati-hati dengan rasa ini, karena banyak orang yang terjatuh kelembah maksiat disebabkan oleh rasa ini, karena gagal mengelolanya dengan benar.
Walaupun rasa ini bukan sesuatu yang haram (awal dan asalnya), tapi perasaan ini tetap tidak boleh terlalu lama bersemayam di hati kita tanpa ikatan yang sah dan halal. Rasa ini harus diatasi secepat mungkin.
Saat rasa itu datang, itu bukan suatu kesalahan.
Tapi  membiarkan di hati berlarut-larut, apalagi sampai memperturutinya, maka ini kesalahan besar.
Kecendrunan ini adalah sesuatu yang dibolehkan, tapi harus diwaspadai.

Cinta Menurut Islam Dan Masalah Sosial





Pengenalan
Cinta adalah fitrah ( kompenan kejadian manusia ) Firman Allah:
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّه[1]
ِMaksudnya:
Fitrah Allah SWT yang telah menciptakan manusia menurut fitrah.tidak ada perubahan pada fitrah itu .
Dalam al-Quran, terdapat 82 kalimah cinta ([2]( حب. Ia menyatakan tenteng pelbagai aspek termasuk cinta Khaliq ( Pencipta ), cinta rasul, cinta sesama manusia dan lain-lain. Cinta merupakan satu perkara penting dalam persoalan hidup, lebih-lebih lagi cinta tersebut ada kaitannya dengan keharmonian rumah tangga, kebahagiaan hidup, kemesraan sesama masyarakat dan cinta yang mendapat keredhaan Ilahi.
Pengertian ( Definisi )
Apakah makna cinta?
Cinta dari segi bahasa ialah berperasaan sangat sayang samada kepada Negara, orang tua, kebahagiaan dan lain-lain. Ia juga bermaksud perasaan sangat berahi ( asyik ) atau rindu antara lelaki dan perempuan serta kecenderungan kepada sesuatu yang menarik.[3]
Dari segi istilah, cinta adalah pertautan atau ikatan hati yang menyebabkan seseorang menikmati kebahagiaan, ketenangan jiwa dan kepuasan.[4]
Sehubungan itu, Al-Quran telah menyatakan tentang masalah cinta ini dalam beberapa keadaan. Di antaranya firman Allah SWT.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ[5]
Maksudnya:
Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga).
Berdasarkan ayat di atas, manusia telah diciptakan Allah SWT mempunyai watak atau tabiat semulajadi menyukai nafsu syahwat (cinta ) kepada enam perkara[6]
1- Perempuan-perempuan: Merekalah tempat idaman hati dan tumpuan mata, kerana kepada merekalah terletak ketenteraman jiwa.
2- Anak-anak samada lelaki atau perempuan.
3- Harta benda yang bertimbun-timbun daripada jenis emas dan perak. Mencintai harta memang telah menjadi perkara asas kepada manusia. Dengan harta dapat menunaikan segala cita-cita.
4- Kuda yang bagus. Dalam erti kata lain bermaksud kenderaan yang elok atau mewah dan dijadikan sebagai lambang kemegahan.
5- Binatang ternakan seperti unta, lembu dan kambing. Dalam konteks semasa ia bermaksud aset harta benda, sumber kekayaan dan pendapatan.
6- Sawah ladang atau pemilikan tanah dan kawasan lebih-lebih lagi yang mempunyai nilai komersial tinggi.
Semua perkara tersebut adalah menjadi kesukaan ( kecintaan ) hidup di dunia yang sementara, tetapi ditegaskan bahawa terdapat perkara yang membawa kenikmatan yang baik dan kekal iaitu di Syurga.
Dalam ayat berkenaan juga, Allah SWT menyebut wanita terlebih dahulu kerana godaan dan gangguan yang disebabkan oleh wanita lebih kuat. Walaupun demikian, jika tujuan mencintai atau menyukai wanita kerana untuk mendapat zuriat melalui ikatan perkahwinan ia adalah sangat baik dan dianjurkan oleh Islam. Mencintai anak untuk tujuan memperbanyakan keturunan juga diseru oleh agama. Begitu juga mencintai harta kerana untuk beri nafkah serta tujuan sosial, mencintai kemudahan lain seperti kuda ( kenderaan ) untuk kegunaan mencari rezaki, mencintai binatang ternakan untuk dipelihara dan dikeluarkan zakat, mencintai ladang ( الحرث ) kerana bercucuk tanam mencari nafkah merupakan aspek cinta ( keinginan ) yang digalakan dalam Islam.[7]
Hukum Bercinta
Syeikh Atiyyah Saqr menjelaskan bahawa hokum bercinta ada beberapa ketogari seperti berikut:[8]
1- Wajib seperti mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW. Islam meletakkan cinta yang tertinggi dalam kehidupan manusia ialah cinta kepada Allah SWT. Ketinggian nilai mendekatkan diri hamba kepada Pencipta dapat dikesan melaui cinta nurni mereka kepada Allah SWT. Begitu juga kewajipan mencintai Rasulullah SAW dibuktikan melalui kepatuhan serta kecintaan terhadap sunnahnya.
2- Sunat seperti mencintai orang-orang soleh.
3- Haram seperti mencintai perkara-perkara haram, amalan dosa dan sebagainya.
Namun yang menjadi persoalan di kalangan masyarakat ialah berkaitan cinta di antara dan perempuan khususnya masalah berhubung remaja pada waktu ini. Cinta dalam situasi begini kadang-kadang atas dasar perasaan sanubari (حبا قلبا أي عاطفيا قد يكون) dan kadang-kala atas dasar nafsu syahwat ( حبا شهويا جنسيا قد يكون ). Perbezaan di antara keduanya agak terperinci, bahkan hampir sama dari segi perasaan, tetapi cinta atas dasar perasaan sanubari disebabkan pandangan tidak segaja dan jiwa ( نظر الفجأة وحديث النفس العابر ) termasuk dalam perkara yang tidak dapat dielakkan seperti yang dinyatakan:
وقد يدخل تحت الأضطرار فلا يحكم عليه بحل ولاحرمة
Kadang-kadang termasuk dalam perkara darurat, tidak dapat dihukum dengan halal mahupun haram.
Manakala cinta atas dasar nafsu syahwat atau berahi lebih-lebih lagi berpanjangan maka hukumnya haram. Perkara ini menjadi haram kerana mendorong melakukan unsur-unsur maksiat.
( فهو حرام بسبب حرمة السبب المؤدي له )
Contoh yang nyata: khalawat dengan perempuan ajnabiah, bersentuhan, belaian dengan belaian cinta hingga melanggar batas-batas syariat. Oleh itu, cinta antara lelaki dan perempuan tidak menjadi kesalahan jika dalam masa yang singkat diikat dengan pertunangan dan perkahwinan. Dengan ini dapat membendung perkara yang tidak baik serta menghalang dari berlaku maksiat.
Secara umumnya, cinta mengikut keutamaan dalam Islam seperti berikut:
1- Cinta kepada Allah SWT.
2- Cinta kepada Rasulullah SAW.
3- Cinta kepada kedua ibu bapa.
4- Cinta kepada sesama mukmin.
Cinta dunia remaja serta masalah sosial
Tidak ada orang yang boleh mendakwa dirinya lari dari mainan perasaan. Asal saja ia bermana manusia, maka sekaligus dirinya akan dicuba dengan mainan nafsubyang bagaikan lautan ganas yang begitu kuat gelombang. Salah satu darinya mainan cinta ( fall in love ) . cinta itu bermula dengan mainan mata yang tidak mempunyai sempadannya, ia kemudiannya diikut dengan sahutan suara dan saling berhubung sampai keperingkat tersebut, amat sukar sekali bagi pasangan cinta untuk tidak bertemu dan 'dating' sekaligus mendedahkan diri kepada aksi yang lebih hebat. Oleh kerana itulah, Islam menjaga kesucian cinta dari dicemari oleh unsur-unsur nafsu meletakkan batasan pandangan seorang muslim dan muslimah. Ia dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 30:
Betapa bahayanya cinta berlandaskan keinginan nafsu semata-mata, ia boleh dilihat apabila pasangan yang dihanyutkan olehnya tidak akan berupaya untuk berfikir secara waras lagi. Setiap detik dan masa yang berlaku tidak akan sunyi dari memikirkan persoalan cinta mereka.
Setiap saat, jika sudah tidak mampu lagi untuk tenteram sekiranya tidak didodoikan dengan suara halus dan lunak yang berbicara dengan kata-kata yang hanya layak diperdengarkan di dalam kelambu. Sudah berkubur cita-cita perjuangan dan sudah lebuh harapan masyarakat yang dipikul di atas bahu, yang ada hanyalah kehendak memuaskan hati pasangan masing-masing. Lantas, di saat demikian, layakkah orang yang hanyut ini diharapkan memikul tanggungjawab melaksanakan tugas penting membimbing masyarakat?
Apakah penyelesaian terhadap permasalahan ini? Jalan yang paling baik ialah perkahwinan. Selain daripada perkahwinan yang tentunya merupakan perkara yang hampir mustahil untuk dilaksanakan dalam dunia seorang penuntut ilmu, maka Rasulullah SAW mencadangkan puasa sebagai jalan terbaik melepaskan diri dari kekuasaan nafsu yang meronta-ronta. Selain daripada perkahwinan, tidak dapat tidak, hanyalah kawalan terhadap jiwa mampu menyelamatkan diri sendiri dari turut terjun dalam arus ganas cinta remaja khususnya.
Sesungguhnya cinta sebelum perkahwinan adalah cinta palsu, walaupun dihiasi dengan rayuan-rayuan halus namun ia adalah panggilan-panggilan ke lembah kebinasaan. Andainya hati dihiasi dengan rayuan-rayuan syaitan yang seringkali mengajak ke arah melayan perasaan, maka hilanglah di sana cita-cita agung untuk menabur bakti kepada Islam sebagai medan jihat dan perjuangan.
Persoalan yang penting sekarang ialah apakah yang diperolehi oleh mereka yang bercinta sebelum kahwin apabila mereka sudah saling mengetahui segala perkara mengenai diri masing-masing. Sudah tidak ada nikmat selepas kahwin. Apatah lagi kalau sudah terlanjur, kemudian kahwin pula dengan orang lain dan ternyata suami itu cinta kepadanya. Individu tersebut akan menyesal kerana "she got nothing to offer" kepada suami yang betul-betul mencintainya. Inilah akan melahirkan perasaan dendam dan bersalah. Jadi eloklah dipagari perhubungan lelaki dan perempuan.
Kenikmatan cinta antara lelaki dan perempuan akan hadir selepas berkahwin. Tidak hairanlah kalau suasan bulan madu akan lebih panjang malah akan terus berkekalan sepanjang perkahwinan.
Percayalah, masa muda yang dianugerahkan oleh Allah SWT hanya sekali berlalu dalam hidup. Ia tidak akan berulang lagi untuk kali kedua atau seterusnya. Meniti usia remaja dengan berhati-hati dan mengenepikan mainan perasaan adalah merupakan perkara yang amat sukar sekali. Apatah lagi, semakin dihambat usikan perasaan, semakin ia datang mengcengkam dan membara. Namun, itulah mujahadah melawan perasaan. Sekadar perasaan dan diri sendiri menjadi musuh, alangkah baiknya jika digunakan sebaik mungkin mendalami ilmu dan melakukan amal soleh.[9] Oleh yang demikian, apakah yang akan menyelamatkan kita selain keimanan, ketakwaan dan kemantapan ilmu?
Beberapa contoh akibat cinta remaja:
1- Happy Valentine Day.
2- April Fool.
3- Free Life / Free sex
4- Saturday Nigh Fever.
5- Love Bite.
6- Hedonisme.
Kesimpulan
Oleh kerana begitu berat ancaman dan pengaruh luar, marilah kita sama-sama mantapkan keimanan dengan mencintai Yang Maha Agung Allah SWT.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنَ الْمَاءِ – رواه الترميذي.
Ya Allah! Kurniakanlah kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang cintai-Mu dan kecintaan kepada amalan yang membawa kepada kecintaan-Mu Ya Allah! Jadikanlah kecintaan-Mu lebih daku cintai daripada diriku, hartaku, keluargaku dan air yang sejuk.[10]


[1] - Surah Ar-Rum: 30
[2] - عبد الباقي, محمد فوئد, المعجم المفهرس لألفاظ القرآن الكريم
[3] - Kamus Dewan, Dewan Bahasa dan Pustaka, m.s. 241 Edisi ketiga, 1996.
المعجم الوسيط, مجمع اللغة العربية, ج1, ص 151.
[4] - صقر, عطية, أحسن الكلام في الفتاوى والأحكام, ج4, ص 85.
[5] - Surah Aali Imran: 14
[6] - Mohamad, Ahmad Sonhadji, Tafsir A-Quran- عبر الأثير juzuk 3, m.s. 102-104.
[7] - ابن كثير, تفسيرالقرآن العظيم, ج 1 , ص 351 .
[8] - صقر, عطية, أحسن الكلام في الفتاوى والأحكام, ج4, ص 85-88.
[10] - القاري, الملا علي, مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح, ج5, ص 361-362.
pan sty` �!m o W 0� character: footnote'>[15] - رواه مسلم في كتاب البر والصلة والأداب

Jumat, 04 Oktober 2013

TAUHID



DAFTAR ISI


DAFTAR ISI …………………………………………………………….…………………  1

BAB I ………………………………………………………………………….....................  2
PENDAHULUAN
1. LatarBelakang ……………………………………………………………………....  2

BAB II ……………………………………………………………………………………....  3
PEMBAHASAN
1. Pengertian...................................................................................................................    3
1.1. Hadis yang menjelaskan tentang IMAN, ISLAM, dan IHSAN
2. Rukun Iman…………………………………………................................................   5
2.1. Tingkatan Iman, beserta Dalilnya
2.2. ImandanAsasnya yang Enam
2.3. Rukun Iman Menurut Alirannya
3. Rukun Islam ................................................................................................................ 8
            3.1. Tingkatan Islam, besarta Dalilnya
            3.2. Islam dan Asasnya yang Lima
            3.3. Rukun Islam, Lima perkara
4. Rukun Ihsan ............................................................................................................... 15
            4.1. Tingkatan Ihsan, besartaDalilnya
            4.2. Ihsan dan peringkatnya
           

BAB III ……………………………………………………………………….……………  18
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................     19

























BAB I
PENDAHULUAN


1.     Latarbelakang


Selain dari pada memenuhi syarat Per-Kuliahan, Salah satu tujuan Penulis untuk menyusun Makalah ini adalah untuk menambah amal Saleh pembacanya;
Firman Allah Taala, maksudnya:
"Sebenarnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, sesungguhnya Kami tidak akan menghilangkan pahala orang-orang yang berusaha memperbaiki amalnya."(30, Al-Kahf).
"Untuk orang-orang yang berusaha memperbaiki amalnya, dikurniakan segala kebaikan serta satu tambahan yang mulia .." (26, Yunus).
            Semoga dengan adanya Makalah ini, Pembaca mendapatkan Ilmu pengetahuan serta amalan-amalan yang dapat dilaksanakan dengan khusyuk serta dapat pula menambah keyakinan untuk Umat Muslim dengan adanya berbagai Dalil yang memperkuat Iman kita dan dapat menambah Ilmu Pengetahuan kita sebagai Umat Muslim yang harus memperbanyak Ilmu Agama.































BAB II
PEMBAHASAN

1.     Pengertian

1.1  Hadis yang menjelaskan tentang IMAN, ISLAM, dan IHSAN

Hadis Ketiga Belas

13- عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِي يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ. (مسلم)
13 - Dari Umar bin Al Khattab r.a., katanya: Pada suatu hari, dalam masa kami sedang duduk di sisi Rasulullah s.a.w, tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki:  Putih melepak pakaiannya, hitam legam rambutnya, tidak kelihatan padanya tanda-tanda perjalanan (sebagai seorang pengembara), dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalinya; (demikianlah halnya) sehinggalah ia duduk menghadap Nabi s.a.w. lalu ia menemukan kedua lututnya kepada kedua lutut Baginda sambil meletakkan kedua tapak tangannya atas kedua pahanya serta berkata:  "Wahai Muhammad! Beritahulah kepada ku tentang (dasar-dasar) Islam(1)?" Maka Rasulullah s.a.w. menerangkan:  "(Dasar-dasar) Islam itu ialah engkau melafazkan kalimah syahadat (meyakini serta menerangkan kebenaran) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Nabi Muhammad ialah pesuruh Allah dan engkau mendirikan sembahyang dan memberi zakat serta berpuasa pada bulan Ramadan dan juga engkau mengerjakan Haji ke Baitullah jika engkau mampu sampai kepadanya." (Mendengarkan penerangan Baginda yang demikian) ia berkata:  "Benarlah apa yang tuan katakan itu!" Kata Umar: Maka kami merasa hairan terhadap orang itu - ia bertanya kepada Baginda dan ia juga mengesahkan benarnya (sebagai seorang yang mengetahui perkara yang ditanyakannya itu). Kemudian ia bertanya lagi: "Beritahulah kepada ku tentang iman(2)?" Nabi s.a.w. menerangkan:  "(Iman itu ialah) engkau beriman kepada Allah,  Malaikat MalaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, serta Hari Akhirat; dan engkau beriman kepada takdir (yang ditentukan oleh Allah) - baiknya dan buruknya." (Mendengarkan yang demikian) ia berkata: "Benarlah apa yang tuan katakan itu." Kemudian ia bertanya lagi: "Beritahulah kepada ku tentang ihsan(3)?" Nabi s.a.w. menerangkan: "(Ihsan itu ialah) engkau mengerjakan ibadat kepada Allah Taala seolah-olah engkau melihatNya (memerhatikan keadaanmu)(4), kiranya engkau tidak dapat melakukan yang demikian maka ingatlah bahawa Allah Taala tetap memerhatikan keadaan mu." Kemudian orang itu bertanya lagi: "(Selain itu) maka beritahulah kepada ku tentang (masa berlakunya) hari qiamat?" Nabi s.a.w. menjawab:  "Orang yang ditanyakan mengenai hal itu bukanlah seorang yang lebih mengetahui dan yang bertanya." Orang itu bertanya lagi: "Jika demikian maka beritahulah kepada ku tentang tanda-tanda kedatangan hari qiamat itu?" Nabi s.a.w. menerangkan: "(Tanda-tanda itu ialah engkau akan dapati) adanya hamba perempuan yang melahirkan anak yang menjadi tuannya dan engkau akan melihat orang-orang (penduduk desa) yang berkaki ayam, yang tidak berpakaian sempurna,  yang miskin menderita, yang menjadi gembala kambing bermegah-megah dan berlawan-lawan antara satu dengan yang lain dalam perkara membina bangunan-bangunan yang tinggi. " Umar berkata: Kemudian orang itu pun pergilah, maka tinggallah aku beberapa hari (memikirkan halnya dan hendak mengetahui siapa dia).Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepadaku, sabdanya: "Wahai Umar! Tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?" Aku menjawab:  "Allah dan RasulNya jualah yang mengetahui. "(Pada saat itu) Rasulullah s.a.w. menerangkan: "Orang itu ialah Jibril, ia datang untuk mengajar kamu akan agama kamu."(Muslim)
________________________________

(1)                   "Islam" di sini ialah hukum-hukum dan keterangan-keterangan yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan Allah ‘Azza wa Jalla, - terdiri dari suruh dan tegak, - meliputi segala bidang hidup umat manisia, - berasaskan lima perkara – Dari lima asas inilah terbit dan kembali kepadanya segala hukum dalam seitiap keadaan umat manusia – dalam alam kehidupan.
(2)                   "Iman" bererti:
Pertama - Percayakan benarnya sesuatu yang tertentu serta sanggup mematuhi apa yang dikehendaki oleh kepercayaan itu.
Kedua - Segala jenis amalan taat - hasil dari kepercayaan dan kesanggupan itu.
Ketiga - Perkara-perkara yang diimankan itu; dan iman dengan erti inilah yang dikehendaki di sini.
(3)                   "Ihsan" di sini maksudnya: Cara mengerjakan sesuatu taat - terutama amal ibadat - dengan sebaik-baiknya, lengkap segala peraturannya serta dengan ikhlas kepada Allah Taala.
(4)                   Yakni hendaklah engkau lakukan amal ibadat atau taatmu kepada Allah s.w.t. dengan keadaan seolah-olah engkau nampak Ia melihat dan memerhatikan zahir batinmu. kiranya engkau tidak dapat mencapai keadaan itu maka hadirkanlah keyakinanmu bahawa Allah Taala tetap melihat dan memerhatikan mu kerana sesungguhnya Ia sentiasa melihat dan memerhatikan segala keadaanmu.
________________________________

Hadis yangketiga belas ini menerangkan:
1)      Ada kalanya Malaikat pembawa Wahyu - Menyamar diri sebagai seorang manusia.
2)      Iman,  Islam dan Ihsan.
3)      Tanda-tanda kedatangan Qiamat.






















2.      RUKUN IMAN

2.1    Tingkatan Iman, beserta Dalilnya

Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang.Cabang yang paling tinggi ialah syahadat “Laa Ilaaha Ilallaah”, sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan.Dan sifat malu adalah salah satu dari cabang Iman.

Rukun Iman ada enam, yaitu :

[1] Iman kepada Allah.
[2] Iman kepada para Malaikat-Nya.
[3] Iman kepada Kitab-kitab-Nya.
[4] Iman kepada para Rasul-Nya.
[5] Iman kepada hari Akhirat, dan
[6] Iman kepada Qadar, yang baik dan yang buruk. (Qadar : takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu : Iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam semesta ini adalah diketahui, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Dalil keenam rukun ini, firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Berbakti (dari Iman) itu bukanlah sekedarmenghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah Timur dan Barat, tetapi berbakti (dan Iman) yang sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari Akhirat, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi…” [Al-Baqarah : 177]

Dan firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar”. [Al-Qomar : 49]


2.2  ImandanAsasnya yang enam

Sebagaimana yang diketahuibahawa Islam yang diterangkandalamhadisinibererti: "Mematuhiapa yang disampaikanolehRasulullahs.a.wmakasudahtentu Islam yang bererti: "Kepatuhan yang sebenar-benarnyatidakakanwujuddenganketiadaanimanataukepercayaan yang tertentu, kerana: Islam ituadalahibarat "Pokok", manakalaiman pula adalahibarat !`Benih"; Dan bahwasebaranggerak-geriyang disengajakanolehmanusiaadalahtimbulnyadansesuatukepercayaan yang tertentu.
Dengan yang demikian, makasalahsatu di antararukun-rukun agama ialahimanataukepercayaan,yangberasaskanenamperkara.
1.      WujudnyaAllah PenciptaSeluruhAlam:

Sebagaimana yang sediamaklum, manusia yang warasakalfikirannyamemangsadarbahwawujudnyaadalahdiciptakanoleh Allah MahaPenciptadansebagaimanaIasadarbahwasegalakeadaandanperjalanandirinyatertaklukkepadaundang-undangdanperaturan yang ditetapkanolehMahaPenciptaitu, iajugasadarbahwadirinyatersusundari jasad danroh.
Undang-undangdanperaturan yang disadarinyamenguasaikeadaandanperjalanandirinyaituhanyalahuntukkeselamatanjasadnyaapabilaiamematuhinyadengansempurna,  makasudahtentubagirohnya pula wajiblahiamematuhidengansempurnaakanundang-undangdanperaturan yang dikhaskanolehMahaPenciptauntukkeselamatanroh.
Dengan yang demikian, iasudahtentumempercayaiadanyaMahaPencipta - iaitu Allah Taala - yang menciptakandirimanusiadanmenciptakanundang-undangsertaperaturanjasmanidanrohaninya .
2.      AdanyaMalaikat:

Undang-undangdanilmu-ilmujasmanibolehdicaridandikajiolehmanusia,  tetapiundang-undangdanperaturanrohaniiaitu "Hukum-hukumSyarak" tidakakandapatdiketahuimelainkandenganjalanditerimadari Allah TaaladenganperantaraanMalaikatWahyu,  keranamenurutkeadaansemulajadinya, manusiatidakdapatmenerimahokumsecaralangsungdari Allah S.W.T. kecualiRasul-rasulpilihan,  itupunpadakeadaan yang tertentu.
3.      AdanyaKitab-kitab Allah:

Hukum-hukumdanperaturan yangdisampaikanolehMalaikatWahyuituditulissebagaisebuahkitabuntukdibacadandipelajarisertadiamalkanolehumatmanusia.
4.      AdanyaRasul-rasul Allah:

Sememangmaklumbahwaundang-undangdanperaturan-peraturanitutidakdapatdifahamisebagaimana yang semestinyaolehkebanyakanmanusia,maka Allah Taala yang AmatBijaksanatelahmemilih orang yang diketahuiNyalayakmenjadipenyampaidanpensyarah yang menerangkanundang-undangitusatupersatudanpensyarahituialahRasul-rasulNya.
5.      AdanyaAlamAkhirat:

Sesuatuundang-undangatauperlembagaantidakakanadanilainyakalaulahtidakdihormatidandipatuhi.Kebanyakanmanusiatidakmenghormatisesuatuundang-undangatauperlembagaanmelainkansetelahmengetahuibalasanbaikbagi orang yang menghormatidanmematuhinyadanbalasanburukbagi orang yang mencabulidanmencuaikannya.
Olehsebabhidupmanusiadalamalamduniainiadalahuntuksementarawaktusahajamakabalasan yang sepenuh-penuhkesempurnaannyadanseadil-adilkeadaannyatentulahtidakdifikirlayakdiberikanseseorangmenerimanyadalamalamsementaraini, bahkanbagimelayakkan yang tersebut, diakuibenaradanyasatualam yang berpanjanganlagikekaliaitulah "AlamAkhirat" - Alam yang bermuladanmasaberakhirhidupmanusiadalamalamduniaini.
Tambahan pula manusiadijadikan Allah tersusundarijasad danroh yang tidakakanhabisataubinasadenganberakhirnyaalamduniainisekalipunjasadnyamenjadidebuatauabu, bahkanrohitutetapwujudnyaberpindahdarisatukeadaankesatukeadaanhinggabercantumdengantubuhnya yang dibangkitkanhidupsemulauntukmasa yang kekalitu.
6.      AdanyaQadardanTaqdir Allah:

Dari huraian-huraian yang tersebut, nyatalahbahawa Allah S.W.T. ialahpenciptaseluruhalammeliputimanusiadanmakhluk-makhluk yang lain danDialah yang menyusun, mengaturdanmenentukanhukum-hukum, undang-undangdanperaturan,  bagisegalakeadaanmakhlukseluruhnya, samaada yang baikatau yang buruk.
Makasusunandanpenentuanadanyadanberlakunyabaikdanburukituialah "QadarTaqdir" tuhan yang azali,  yangmenjadi "RukunIman" yang akhir.
2.3  RukunImanMenurutAliran
I. RukunIman (pilarkeyakinan) iniadalahmenurutaliranIslam Sunniterdiridari:
  • ImankepadaAllah.
    • Patuhdantaatkepadaajarandanhukum-hukum Allah.
  • Imankepadamalaikat-malaikat Allah.
    • Mengetahuidanpercayaakankeberadaankekuasaandankebesaran Allah di alamsemesta.
  • Imankepadakitab-kitab Allah.
    • Melaksanakanajarankitab-kitab Allah hanif. Salah satukitab Allah adalahAl-Qur'an.
    • Al-Qur'an memuattigakitab Allah sebelumnya, yaitukitab-kitabZabur, Taurat, danInjil.
  • Imankepadarasul-rasul Allah.
    • MencontohperjuanganparaNabidanRasuldalammenyebarkandanmenjalankankebenaran yang disertaikesabaran.
  • Imankepadaharikiamat.
    • Fahambahwasetiapperbuatanakanadapembalasan.
  • ImankepadaQadadanQadar.
    • Pahampadakeputusansertakepastian yang ditentukan Allah padaalamsemesta.
II. RukunImandibawahiniadalahmenurutaliran Islam Syiah (dikenalsebagaiushulluddin/ prinsip-prinsipkeimanan) terdiridari:
  • At-tauhid     = keesaan Allah
  • Al-adhalah   = keadilan Allah
  • An-nubuwah   = kenabian
  • Al-imamah   = kepemimpinanpascaNabi Muhammad saaw
  • Al-ma'ad














3.     Rukun Islam

3.1. Tingkatan Islam, besarta Dalilnya

Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima :

[1] Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa “Laa Ilaaha Ilallaah” (Tiada sesembahan yang haq selain Allah) dan Muhammad adalah Rasulullah.
[2] Mendirikan shalat.
[3] Mengeluarkan zakat.
[4] Shiyam (puasa) pada bulan Ramadhan.
[5] Haji ke Baitullah Al-Haram.

[1]. Dalil Syahadat.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan (Juga menyatakan demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [Al-Imraan : 18]

“Laa Ilaaha Ilallaah”‘ artinya : Tiada sesembahan yang haq selain Allah.

Syahadat ini mengandung dua unsur : menolak dan menetapkan. “Laa Ilaaha”, adalah menolak segala sembahan selain Allah. “Illallaah” adalah menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah semata-mata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kekuasaan-Nya.

Tafsiran syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : ‘Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakan-ku, karena sesungguhnya Dia akan menunjuki’. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid)”. [Az-Zukhruf : 26-28]

“Artinya : Katakanlah (Muhammad) : ‘Hai ahli kitab ! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu ; hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka :’Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerahkan diri kepada Allah)”. [Ali 'Imran : 64]

Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman”. [At-Taubah : 128]

Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti : mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang disyariatkannya.

[2]. Dalil Shalat dan Zakat serta tafsiran Tauhid.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat serta mengeluarkan Zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus”. [Al-Bayyinah : 5]

[3]. Dalil Shiyam (Puasa Ramadhan)

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. [Al-Baqarah : 183]

[4]. Dalil Haji.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha tidak memerlukan semsesta alam”. [Al 'Imran : 97)]

 

3.2. Islam dan Asasnya yang Lima
Sebagaimana yang telah diterangkan bahawa salah satu dan pengertian "Islam" itu ialah hukum-hukum dan keterangan-keterangan yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w.  dan Allah `Azza wa Jalla.
Hukum-hukum dan peraturan yang tersebut, yang terdiri dari suruh dan tegah,  meliputi segala bidang hidup umat manusia.
Islam yang demikian sifatnya, berasaskan lima perkara - sebagaimana yang diterangkan oleh Baginda dalam hadis ini.
Dari lima asas inilah terbit dan kembali kepadanya segala hukum dalam setiap keadaan umat manusia - dalam alam kehidupan ini.
Asas-asas Islam yang lima itu ialah:
Pertama - Mengakui kebenaran tiap-tiap perkara yang benar dan melafazkan "Kalimah At-Taqwa":
Di antara syarat-syarat bagi mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat ialah menghormati kebenaran setiap perkara yang benar,  dengan jalan mengakui dan mengamalkannya. Ini dengan sendirinya mewajibkan menolak kesalahan tiap-tiap perkara yang salah.
Oleh kerana sebenar-benar perkara yang benar ialah keesaan Allah Taala Tuhan yang wajib Al-Wujud dan kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., maka mengucap dua kalimah syahadat: 
أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
- Yang ertinya: "Aku meyakini serta menerangkan kebenaran,  bahawa sesungguhnya tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Nabi Muhammad ialah pesuruh Allah" adalah menjadi asas atau "Rukun Islam" yang pertama bahkan menjadi anak kunci bagi seseorang masuk Islam.
Tiap-tiap orang Islam dituntut melafazkan "Kalimah Al-Taqwa" dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalimah Al-Taqwa" itu ialah tiap-tiap tutur kata yang memelihara dan menyelamatkan seseorang dan tiap-tiap perkara yang membahayakannya serta mendatangkan manfaat dan kebahagiaan, sama ada di dunia mahu pun di akhirat dan semulia-mulia "Kalimah At-Taqwa" itu ialah:
لا إِلَهَ إِلا الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله

Kedua - Menggunakan segala anggota berusaha dan mengerjakan dengan cara yang teratur akan amal-amal bakti sama ada yang diwajibkan atau yang digalakkan untuk diri dan masyarakat, bagi mengenang budi dan mensyukuri nikmat-nikmat,  dengan harapan mencapai kebaikan dan menjauhkan perkara-perkara yang merosakkan, serta dengan sepenuh-penuh kesedaran mengingati Allah dan berdoa kepadaNva memohon taufik dan hidayah-Nya ke jalan yang diredhai-Nya.
Semuanya itu terdapat dalam "Sembahyang", dan dengan ini nyatalah hikmatnya sembahyang itu menjadi asas atau "Rukun Islam" yang kedua, dan dengan ini juga nyatalah tepatnya sabda Nabi s.a.w. yang maksudnya: "Sembahyang itu tiang agama,  sesiapa yang meninggalkannya maka sesungguhnya ia telah meruntuhkan agama."
(Untuk penjelasan yang lebih lanjut mengenai sembahyang, lihatlah lampiran "B", pada akhir bab ini).
Ketiga - Berkorban dengan Harta Benda:
Harta benda adalah merupakan asas bagi segala urusan hidup dalam dunia ini.  Oleh itu maka sebahagian besar dan daya usaha manusia dicurahkan untuk mencari dan memiliki harta benda dan kekayaan.  Tetapi bukan semuanya berhasil mencapai kesenangan dan kemewahan itu dengan sepenuhnya, bahkan bukan sedikit - dari setiap bangsa di dunia ini - yang hidup miskin dan menderita.
Dengan yang demikian, maka membelanjakan harta benda untuk menolong orang-orang yang fakir miskin dan yang memerlukan bantuan, dan juga untuk kebajikan Islam - sebagaimana yang terdapat dalam amalan "Zakat" - adalah menjadi satu cara hidup yang aman makmur
Oleh itu, maka nyatalah hikmatnya kewajipan mengeluarkan zakat itu menjadi salah satu dari asas atau "Rukun Islam".
Keempat - Membendung kemahuan hawa nafsu: 
Sebahagian besar dari kejadian kacau bilau yang berlaku dalam sesebuah masyarakat adalah akibat dari runtunan hawa nafsu yang buas liar dan melampaui batas,  sehingga ada yang melupai kehormatan din dan rumahtangga, mencuaikan tugas dan kewajipan,  mengkhianati amanah dan berbagai-bagai perkara jenayah lagi.
Oleh itu, maka kewajipan menyekat hawa nafsu dan menentang runtunan liarnya, serta melarih diri mengingati pengawasan Allah Taala akan segala yang zahir dan yang batin - sebagaimana yang terdapat dalam amalan "Puasa" - adalah menjadi satu cara hidup yang aman sentosa. 
Dengan yang demikian, maka nyatalah hikmatnya ibadat puasa itu menjadi salah satu dari asas atau "Rukun Islam".
Kelima - Menghadiri tempat-tempat perhimpunan untuk kebajikan:
Manusia tidak seharusnya memencilkan atau mengasingkan dirinya dari sebarang perhubungan dengan sesama manusia.
Banyak perkara yang bersangkut paut dengan hidupnya, dengan agamanya, dengan pentadbiran negara dan masyarakatnya tak dapat diselesaikan melainkan dengan jalan perjumpaan dan perundingan, lebih-lebih lagi melalui persidangan antarabangsa.
Oleh itu, bagi mencapai kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka menghadiri tempat-tempat perhimpunan untuk kebajikan sekadar yang mampu, bagi melahirkan sikap memperhambakan diri kepada Allah `Azza wa Jalla, dan bersyukur akan nikmat-nikmatNya, serta melaksanakan dasar bersatu padu dan bersefahaman antara sesama umat Islam dan juga untuk mendapat berbagai-bagai faedah dan manfaat dari segi rohani, akhlak,  kemasyarakatan dan ekonomi - sebagaimana yang terdapat dalam "Ibadat Haji" - adalah menjadi satu cara hidup yang aman damai dan bahagia.
Dengan yang demikian, maka nyatalah hikmatnya ibadat haji itu menjadi salah satu dari asas atau "Rukun Islam".

3.3. Rukun Islam, Lima perkara

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman :

“Sesungguhnya agama (yang ada) di sisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran: 19)

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85).

“Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.Dan telah Aku sempurnakan nikmatKu untukmu dan Aku telah ridlai Islam sebagai agamamu.” (Al-Maidah: 3).

Sebagai agama yang sempurna dan diterima disisi Allah, maka setiap umat Islam wajib memahami dan meningkatkan ‘kualitas’ ke-Islam-annya dari waktu ke waktu.

Islam, ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid (hanya pada Allah, tidak bergantung pada makhluk dan benda lain) dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menjauhkan diri dari perbuatan (dan orang-orang yang melakukan) syirik.

Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.


Rukun Islam terdiri daripada lima perkara:

Syahadat

Rukun pertama : Bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Syahadat (persaksian) ini memiliki makna yang harus diketahui seorang muslim berikut diamalkannya. Adapun orang yang mengucapkannya secara lisan namun tidak mengetahui maknanya dan tidak mengamalkannya maka tidak ada manfaat sama sekali dengan syahadatnya.
  •  Makna "''La ilaha Illallah''"
  • '''Ibadah beraneka ragam:'''
  • Di antara bentuk ibadah : Istighotsah (memohon bantuan), istianah (memohon pertolongan) dan istiadzah (memohon perlindungan).
  • Tidak ada yang boleh dimintai bantuan ataupun pertolongan ataupun perlindungan kecuali Allah saja. Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Al karim :
  • Manusia tidak boleh bertawakal selain kepada Allah, tidak boleh berharap selain kepada Allah, dan tidak boleh khusyu' melainkan kepada Allah semata.

Makna Syahadat “Muhammad Rasulullah”

Makna syahadatMuhammadRasulullah adalah mengetahui dan meyakini bahwa Muhammad utusan Allah kepada seluruh manusia, dia seorang hamba biasa yang tidak boleh disembah, sekaligus rasul yang tidak boleh didustakan. Akan tetapi harus ditaati dan diikuti.Siapa yang menaatinya masuk surga dan siapa yang mendurhakainya masuk neraka. Selain itu anda juga mengetahui dan meyakini bahwa sumber pengambilan syariat sama saja apakah mengenai syiar-syiar ibadah ritual yang diperintahkan Allah maupun aturan hukum dan syariat dalam segala sector maupun mengenai keputusan halal dan haram. Semua itu tidak boleh kecuali lewat utusan Allah yang bisa menyampaikan syariat-Nya. Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh menerima satu syariatpun yang datang bukan lewat Rasul SAW. Allah ta’ala berfirman :
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (Al Hasyr:7)

Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamuberikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hati (An Nisa’:65)
Makna kedua ayat :
  1. Pada ayat pertama Allah memerintahkan kaum muslimin supaya menaati Rasul-Nya  pada seluruh yang diperintahkannya dan berhenti dari seluruheMuhammad  yang dilarangnya. Karena beliau memerintah hanyalah berdasarkan dengan perintah Allah dan melarang berdasar larangan-Nya.
  2. Pada ayat kedua Allah bersumpah dengan diri-Nya yang suci bahwa sah iman seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya hingga ia mau berhukum kepada Rasul dalam perkara yang diperselisihkan antara dia dengan orang lain, kemudian ia puas keputusannya dan menerima dengan sepenuh hati. Rasul SAW bersabda :
Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada contohnya dari urusan kami maka ia tertolak. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya
Amalan yang dianggap termasuk agama namun tidak ada contohnya dari Rasul dikenal dengan istilah bid'ah.

Salat

salatlima waktu sehari semalam yang Allah syariatkan untuk menjadi sarana interaksi antara Allah dengan seorang muslim dimana ia bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Juga untuk menjadi sarana pencegah bagi seorang muslim dari perbuatan keji dan mungkar sehingga ia memperoleh kedamaian jiwa dan badan yang dapat membahagiakannya di dunia dan akhirat.
Allah mensyariatkan dalam salat, suci badan, pakaian, dan tempat yang digunakan untuk salat. Maka seorang muslim membersihkan diri dengan air suci dari semua barang najis seperti air kecil dan besar dalam rangka mensucikan badannya dari najis lahir dan hatinya dari najis batin.
Salat merupakan tiang agama.Ia sebagai rukun terpenting Islam setelah dua kalimat syahadat. Seorang muslim wajib memeliharanya semenjak usia baligh (dewasa) hingga mati. Ia wajib memerintahkannya kepada keluarga dan anak-anaknya semenjak usia tujuh tahun dalam rangka membiasakannya. Allah ta’ala berfirman :
"Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (An Nisa: 103)
Salat wajib bagi seorang muslim dalam kondisi apapun hingga pada kondisi ketakutan dan sakit. Ia menjalankan salat sesuai kemampuannya baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring hingga sekalipun tidak mampu kecuali sekedar dengan isyarat mata atau hatinya maka ia  mengkhabarkan bahwa orang yangeboleh salat dengan isyarat. Rasul  meninggalkan salat itu bukanlah seorang muslim entah laki atau perempuan. Ia bersabda :
"“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah salat.Siapa yang meninggalkannya berarti telah kafir” Hadits shohih.
Salat lima waktu itu adalah salat Shubuh, salat Dhuhur, salat Ashar, salat Maghrib dan salat Isya’.
Waktu salat Shubuh dimulai dari munculnya mentari pagi di Timur dan berakhir saat terbit matahari.Tidak boleh menunda sampai akhir waktunya.Waktu salat Dhuhur dimulai dari condongnya matahari hingga sesuatu sepanjang bayang-bayangnya.Waktu salat Ashar dimulai setelah habisnya waktu Dhuhur hingga matahari menguning dan tidak boleh menundanya hingga akhir waktu.Akan tetapi ditunaikan selama matahari masih putih cerah.Waktu Maghrib dimulai setelah terbenamnya matahari dan berakhir dengan lenyapnya senja merah dan tidak boleh ditunda hingga akhir waktunya. Sedang waktu salat Isya’ dimulai setelah habisnya waktu maghrib hingga akhir malam dan tidak boleh ditunda setelah itu.
Seandainya seorang muslim menunda-nunda sekali salat saja dari ketentuan waktunya hingga keluar waktunya tanpa alasan yang dibenarkan syariat diluar keinginannya maka ia telah melakukan dosa besar. Ia harus bertaubat kepada Allah dan tidak mengulangi lagi.

Puasa

Puasa pada bulan Ramadan yaitu bulan kesembilan dari bulan hijriyah.
Sifat puasa:
Seorang muslim berniat puasa sebelum waktu shubuh (fajar) terang. Kemudian menahan dari makan, minum dan jima’ (mendatangi istri) hingga terbenamnya matahari kemudian berbuka.Ia kerjakan hal itu selama hari bulan Romadhon. Dengan itu ia menghendaki ridho Allah ta’ala dan beribadah kepada-Nya.

Dalam puasa terdapat beberapa manfaat tak terhingga. Di antara yang terpenting :
  1. Merupakan ibadah kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Seorang hamba meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya demi Allah. Hal itu di antara sarana terbesar mencapai taqwa kepada Allah ta’ala.
  2. Adapun manfaat puasa dari sudut kesehatan, ekonomi, sosial maka amat banyak. Tidak ada yang dapat mengetahuinya selain mereka yang berpuasa atas dorongan akidah dan iman.

Zakat

Allah telah memerintahkan setiap muslim yang memilki harta mencapai nisab untuk mengeluarkan zakat hartanya setiap tahun. Ia berikan kepada yang berhak menerima dari kalangan fakir serta selain mereka yang zakat boleh diserahkan kepada mereka sebagaimana telah diterangkan dalam Al Qur’an.
Nishab emas sebanyak 20 mitsqal.Nishab perak sebanyak 200 dirham atau mata uang kertas yang senilai itu.Barang-barang dagangan dengan segala macam jika nilainya telah mencapai nishab wajib pemiliknya mengeluarkan zakatnya manakala telah berlalu setahun.Nishab biji-bijian dan buah-buahan 300 sha’.
Rumah siap jual dikeluarkan zakat nilainya.Sedang rumah siap sewa saja dikeluarkan zakat upahnya. Kadar zakat pada emas, perak dan barang-barang dagangan 2,5 % setiap tahunnya. Pada biji-bijian dan buah-buahan 10 % dari yang diairi tanpa kesulitan seperti yang diairi dengan air sungai, mata air yang mengalir atau hujan. Sedang 5 % pada biji-bijian yang diairi dengan susah seperti yang diairi dengan alat penimba air.
Di antara manfaat mengeluarkan zakat menghibur jiwa orang-orang fakir dan menutupi kebutuhan mereka serta menguatkan ikatan cinta antara mereka dan orang kaya

Haji

Rukun Islam kelima adalah haji ke baitullahMekkah sekali seumur hidup. Adapun lebihnya maka merupakan sunnah. Dalam ibadah haji terdapat manfaat tak terhingga :
  1. Pertama, haji merupakan bentuk ibadah kepada Allah ta’ala dengan ruh, badan dan harta.
  2. Kedua, ketika haji kaum muslimin dari segala penjuru dapat berkumpul dan bertemu di satu tempat. Mereka mengenakan satu pakaian dan menyembah satu Robb dalam satu waktu. Tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, kaya maupun miskin, kulit putih maupun kulit hitam. Semua merupakan makhluk dan hamba Allah. Sehingga kaum muslimin dapat bertaaruf (saling kenal) dan taawun (saling tolong menolong). Mereka sama-sama mengingat pada hari Allah membangkitkan mereka semuanya dan mengumpulkan mereka dalam satu tempat untuk diadakan hisab (penghitungan amal) sehingga mereka mengadakan persiapan untuk kehidupan setelah mati dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala.






3.      
4.     Rukun Ihsan

            4.1. Tingkatan Ihsan, besarta Dalilnya

Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu :

“Artinya : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. [Pengertian Ihsan tersebut adalah penggalan dari hadits Jibril, yang dituturkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'Anhu, sebagaimana akan disebutkan]

Dalilnya, firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan“. [An-Nahl : 128]

Dan firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan bertakwallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.Sesunnguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Asy-Syu'araa : 217-220]

Serta firman-Nya.

“Artinya : Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur’an yang kamu baca, serta pekerjaan apa saja yang kamu kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”. [Yunus : 61]

Adapun dalilnya dari Sunnah, ialah hadits Jibril[1] yang masyhur, yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam’, maka beliau menjawab :’Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’. Lelaki itu pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kata Umar :’Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata : ‘Beritahulah aku tentang Iman’. Beliau menjawab :’Yaitu : Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk’. Ia pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kemudian ia berkata : ‘Beritahullah aku tentang Ihsan’. Beliau menjawab : Yaitu : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’.Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : ‘Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya’. AKhirnya ia berkata :’Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu’. Beliau menjawab : Yaitu : ‘Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi’. Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : ‘Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”. [2]

[Diringkas dari sumber aslinya dengan sedikit penyederhanaan bahasa, bersumber dari buku Tiga Landasan Utama, Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal 18-26, Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Da'wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan dan Penyebarab Kerajaan Arab Saudi]
________
Fote Note.
[1] Disebut hadits jibril, karena jibril-lah yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menanyakan kepada beliau tentang, Islam, Iman dan masalah hari Kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum muslimin tentang masalah-masaalah agama.
[2]. [Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Iman, bab 1, hadits ke 1. Dan diriwayatkan juga hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke 1.

            4.2. Ihsan dan peringkatnya
Sebagaimana yang sedia diketahui bahawa "Ihsan" ialah cara mengerjakan sesuatu taat dengan sebaik-baiknya, lengkap segala peraturannya, serta dengan ikhlas kepada Allah Taala, iaitu bersih dari syirik dan sikap munafik serta bersih dan perasaan riak,  ujub dan lain-lainnya.
Yang demikian ini ialah hakikat Ihsan yang menjadi salah satu dari "Rukun-rukun Agama" yang tiga, yang dengan ketiadaannya maka yang dua lagi - Iman atau Islam - tidak diterima,  kerana taat yang dikerjakan dengan ketiadaan Ihsan adalah ibarat patung yang tidak bernyawa.
Ini ialah peringkat Ihsan yang pertama, yang mesti diusahakan oleh tiap-tiap seorang.
Selain dari itu, ada dua peringkat lagi yaitu yang diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis ini.
Tanda-tanda kedatangan hari Qiamat:
Oleh kerana hikmatnya Allah Taala menjadikan jin dan manusia serta makhluk-makhluk yang lain ialah untuk masing-masing membuktikan taat setianya dan penghormatannya dengan mengerjakan amal ibadat kepadaNya, maka untuk membicarakan dan membalas ketaatan dan kederhakaan tiap-tiap makhluk,  sudah tentu adanya satu masa yang ditetapkan untuk tujuan yang demikian, iaitu "Hari Qiamat".
Oleh sebab itulah si penanya bertanya kepada Baginda tentang waktu kedatangan hari Qiamat itu, akan tetapi oleh kerana soal waktu kedatangan hari Qiamat itu adalah satu dari lima perkara yang pengetahuannya tertentu bagi Allah jua, maka Rasulullah s.a.w. menjawab dengan sabdanya yang bermaksud:  "Orang yang ditanyakan soal itu samalah sahaja dengan orang yang bertanya, tetapi aku akan menerangkan tanda-anda kedatangannya", lalu Baginda menerangkan seperti yang tersebut dalam hadis ini.
Selain dari yang diterangkan dalam hadis ini, ada didapati dalam kitab-kitab hadis yang lain banyak lagi tanda-tanda tentang hampirnya kedatangan hari Qiamat, di antaranya:
Pertama - Apabila susut dan kurang ilmu pengetahuan agama dengan kematian seseorang alim yang ahli dalam sesuatu cawangan ilmu yang tertentu dan tidak dapat diganti
Kedua - Apabila merebaknya kejahilan mengenai ilmu agama dengan sebab kurangnya orang-orang yang suka mempelajarinya.
Ketiga - Apabila diserahkan sesuatu urusan agama seperti jawatan ketua negara, mufti,  kadhi dan sebagainya, untuk dikendalikan oleh orang yang bukan ahlinya.
Keempat - Apabila sesuatu masyarakat dipimpin oleh seseorang ketua yang fasik yang suka menggalakkan maksiat dan perbuatan yang durjana.
Kelima - Apabila orang yang benar dikatakan pendusta, pendusta dikatakan orang yang benar;  orang yang khianat disifatkan amanah,  orang yang amanah dikatakan khianat;  orang yang adil disifatkan zalim,  orang yang zalim disifatkan adil dan orang-orang yang jahil berpengaruh dan bermaharajalela dengan berlagak pandai dalam ilmu agama sehingga orang alim terpaksa mendiamkan diri (setelah tugasnya tidak lagi dihargai).
Keenam - Apabila arak menjadi adat diminum berterang-terang di sana sini, dengan digalakkan pula oleh pemimpin-pemimpin dan ketua.
Ketujuh - Apabila perbuatan lucah dan cabul dilakukan dengan berterang-terang di merata-rata tempat dengan tidak mendapat sebarang teguran kerana kelemahan iman,  sehingga kalaulah ada yang menegur maka orang yang menegur itu boleh dikatakan imannya pada masa itu sekuat iman Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar pada zaman sahabat-sahabat Nabi s.a.w.

















BAB III
KESIMPULAN


            Dari Hadis diatas (Hadis Ketiga Belas ) dapat kita simpulkan bahwasanya Rukun Iman-Rukun Islam-Rukun Ihsan saling menyatu antara satu dengan yang lainnya, dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, dan masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.
Firman Allah Taala, maksudnya:
"Bahkan sesiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah (mematuhi perintah-Nya) sedang ia pula berusaha memperbaiki amalnya maka ia akan beroleh pahala di sisi Tuhannya .." (112, Al-Baqarah).
            Dan jika kita berusaha untuk memperbaiki Amalan-amalan kita di-Dunia dengan sungguh-sungguh menyerahkan diri kita kepada Allah S.W.T , maka Tidak akan mungkin Tidak kita akan memperoleh Pahala-pahala yang telah di janjikan Allah S.W.T sebagai mana yang telah diterangkan oleh Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah Ayat 112 diatas.






















DAFTAR PUSTAKA

Rujukan:
Syarah Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziiz Alu Syaikh Taisir Wushul Ilaa Nailil Ma’mul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul, Syaikh Nu’man bin Abdil Kariim Al Watr Al Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz Syaikh Abdul ‘azhim Badawi Syarah Aqidah al Wasithiyyah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)

http://kebunhidayah.files.wordpress.com/2011/05