Rabu, 23 April 2014

PSIKOLOGI KOMUNIKASI; SISTEM KOMUNIKASI MASSA



DAFTAR ISI


DAFTAR ISI …………………………………………………………….…………..........  1

BAB I …………………………………………………………………………....................  2
PENDAHULUAN
1. LatarBelakang ……………………………………………………………………...............  2

BAB II ………………………………………………………………………………...….... 3
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Komunikasi Massa ...........................................................................................  3
A.    Unsur-Unsur Komunikasi Massa
B.     Ciri-ciri komunikasi massa
2.      Sistem Komunikasi Massa Versus Sistem Komunikasi Interpersonal ...........................   7

3.      Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa .....................................................................  9

4.      Factor yang mempengaruhi Efek Komunikasi massa ...................................................... 12
A.Perubahan khalayak ketika media menjadi salah satu alat produksi
B.Idealnya media ketika di jadikan salah satu alat perkembangan berfikir khalayak
5.      Teori defleur dan ball-Rokeach .........................................................................................  13
6.      Efek Komunikasi Massa .....................................................................................................  16
7.      Efek Kehadiran Komunikasi Massa ..................................................................................  17
8.      Efek Afektif Komunikasi Massa ........................................................................................  17
9.      Efek Behavioral Komunikasi Massa ..................................................................................  19

BAB III ……………………………………………………………………….……………  20
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................     21

















BAB I
PENDAHULUAN

1. LatarBelakang

Komunikasi merupakan bagian paling mendasar dalam kehidupan manusia. Tanpa komunikasi manusia tidak dapat hidup. Bahkan yang tidak dapat  melakukannya secara verbal pun akan berusaha melakukannya dengan cara lain yaitu nonverbal seperti penggunaan bahasa tubuh.
Seseorang yang mampu melakukan komunikasi verbal baik lisan maupun tulisan akan memanfaatkannya sebaik mungkin agar mendapat pengakuan akan  eksistensi
dari lingkungan sosialnya. Sikap keterbukaan terhadap lingkungan sosial sekitarnya akan membuat seseorang itu menjadi berharga bagi lingkungan di sekitarnya itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya, seseorang akan berusaha agar dirinya dapat diterima dengan terbuka oleh lingkungannya. Berbagai cara dan upaya pun dilakukan sehingga antara dirinya dan lingkungan sosialnya tidak terdapat lagi jurang pemisah yang dalam atau setidaknya dapat dieliminir.

Salah satu dari berbagai upaya yang dilakukan itu adalah dengan melakukan komunikasi yang baik. Komunikasi dikatakan baik apabila komunikasi itu efektif. Salah satu indikator kefektifan komunikasi adalah apabila memenuhi sejumlah syarat tertentu, dimana salah satunya adalah komunikasi yang mampu menimbulkan kesenangan diantara pihak yang terlibat di dalamnya.























BAB II
PEMBAHASAN


1.      Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass communication, sebagai kependekan dari mass media communication. Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication.

Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama[1]. Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengartikan massa sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.

A.    Unsur-Unsur Komunikasi Massa

Harold D. Lasswell (dalam Wiryanto, 2005) memformulasikan unsur-unsur komunikasi dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut ”Who Says What in Which Channelto Whom With What Effect?”

  1. Unsur who (sumber atau komunikator). Sumber utama dalam komunikasi massa adalah lembaga atau organisasi atau orang yang bekerja dengan fasilitas lembaga atau organisasi (institutionalized person). Yang dimaksud dimaksud dengan lembaga dalam hal ini adalah perusahaan surat kabar, stasiun radio, televisi, majalah, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud institutionalized person adalah redaktur surat kabar (sebagai contoh). Melalui tajuk rencana menyatakan pendapatnya dengan fasilitas lembaga. Oleh karena itu, ia memiliki kelebihan dalam suara atau wibawa dibandingkan berbicara tanpa fasilitas lembaga.

Pers adalah suatu suatu lembaga sosial. Dalam UU RI no 40 tahun 1999 tentang pers, pasal 1 ayat (1) menyatakan: ”Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, megolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.” bentuk institusi media massa dipertegas lagi pada pasal 1 ayat (2) yang menyatakan: ” Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan atau menyalurkan informasi.”


McQuail (1987) menyebutkan ciri-ciri khusus institusi (lembaga) media massa sebagai berikut:
a. Memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan dalam wujud informasi, pandangan, dan budaya. Upaya tersebut merupakan respon terhadap kebutuhan sosial kolektif dan permintaan individu.
b. Menyediakan saluran untuk menghubungkan orang tertentu dengan orang lain: dari pengirim ke penerima, dari anggota audien ke anggota audien lainnya, dari seseorang ke masyarakat dan institusi masyarakat terkait. Semua itu bukan sekedar saluran fisik jaringan komunikasi, melainkan juga merupakan saluran tatacara dan pengetahuan yang menentukan siapakah sebenarnya yang patut atau berkemungkinan untuk mendengar sesuatu dan kepada siapa ia harus mendengarnya.
c. Media menyelenggarakan sebagian besar kegiatannya dalam lingkungan publik, dan merupakan institusi yang terbuka bagi semua orang untuk peran serta sebagai penerima (atau dalam kondisi tertentu sebagai pengirim). Institusi media juga mewakili kondisi publik, seperti yang tampak bilamana media massa menghadapi masalah yang berkaitan dengan pendapat publik (opini publik) dan ikut berperan membentuknya (bukan masalah pribadi, pandangan ahli, atau penilaian ilmiah).
d. Partisipasi anggota audien dalam institusi pada hakikatnya bersifat sukarela, tanpa adanya keharusan atau kewajiban sosial. Bahkan lebih bersifat suka rela daripada beberapa institusi lainnya, misalnya pendidikan, agama atau politik. Partisipasi anggota audien lebih mengacu pada mengisi waktu senggang dan santai, bukannya berkenaan dengan pekerjaan dan tugas. Hal tersebut dikaitkan juga dengan ketidakberdayaan formal institusi media: media tidak dapat mengandalkan otoritasnya sendiri dalam masyarakat, serta tidak mempunyai organisasi yang menghubungkan pemeran-serta ”lapisan atas” (produsen pesan) dan pemeran-serta ”lapisan bawah” (audien).
e. Industri media dikaitkan dengan industri dan pasar karena ketergantungannya pada imbalan kerja, teknologi, dan kebutuhan pembiayaan.
f. Meskipun institusi media itu sendiri tidak memiliki kekuasaan, namun institusi ini selalu berkaitan dengan kekuasaan negara karena adanya kesinambungan pemakaian media, mekanisme hukum, dan pandangan-pandangan menentukan yang berbeda antara negara yang satu dengan lainnya.

Komunikator dalam proses komunikasi massa selain merupakan sumber pesan, mereka juga berperan sebagai gate keeper (lihat McQuail, 1987; Nurudin, 2003). Yaitu berperan untuk menambah, mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami oleh audien-nya[2]. Bitner (dalam Tubbs, 1996) menyatakan bahwa pelaksanaan peran gate keeper dipengaruhi oleh: ekonomi; pembatasan legal; batas waktu; etika pribadi dan profesionalitas; kompetisi diantara media; dan nilai berita.

  1. Unsur says what (pesan). Pesan-pesan komunikasi massa dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan dapat menjangkau audien yang sangat banyak. Pesan-pesan itu berupa berita, pendapat, lagu, iklan, dan sebagainya. Charles Wright (1977) memberikan karakteristik pesan-pesan komunikasi massa sebagai berikut:
    1. publicly. Pesan-pesan komunikasi massa pada umumnya tidak ditujukan kepada orang perorang secara eksklusif, melainkan bersifat terbuka, untuk umum atau publik.
    2. rapid. Pesan-pesan komunikasi massa dirancang untuk mencapai audien yang luas dalam waktu yang singkat serta simultan.
    3. transient. Pesan-pesan komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhan segera, dikonsumsi sekali pakai dan bukan untuk tujuan yang bersifat permanen. Pada umumnya, pesan-pesan komunikasi massa cenderung dirancang secara timely, supervisial, dan kadang-kadang bersifat sensasional.

  1. Unsur in which channel (saluran atau media). Unsur ini menyangkut semua peralatan yang digunakan untuk menyebarluaskan pesan-pesan komunikasi massa. Media yang mempunyai kemampuan tersebut adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dan sebagainya.

  1. Unsur to whom (penerima; khalayak; audien). Penerima pesan-pesan komunikasi massa biasa disebut audien atau khalayak. Orang yang membaca surat kabar, mendengarkan radio, menonton televisi, browsing internet merupakan beberapa contoh dari audien.
Menurut Charles Wright (dalam Wiryanto, 2005), mass audien memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
    1. Large yaitu penerima-penerima pesan komunikasi massa berjumlah banyak, merupakan individu-individu yang tersebar dalam berbagai lokasi;
    2. Heterogen yaitu penerima-penerima pesan komunikasi massa terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, beragam dalam hal pekerjaan, umur, jenis kelamin, agama, etnis, dan sebagainya;
    3. Anonim yaitu anggota-anggota dari mass audien umumnya tidak saling mengenal secara pribadi dengan komunikatornya.

  1. Unsur with what effect (dampak). Dampak dalam hal ini adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri audien sebagai akibat dari keterpaan pesan-pesan media. David Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengklasifikasikan dampak atau perubahan ini ke dalam tiga kategori, yaitu: perubahan dalam ranah pengetahuan; sikap; dan perilaku nyata. Perubahan ini biasanya berlangsung secara berurutan.

B.     Ciri-ciri komunikasi massa

Sedangkan ciri-ciri komunikasi massa, menurut Elizabeth Noelle Neumann (dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994) adalah sebagai berikut:
1. Bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis;
2. Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi;
3. Bersifat terbuka, artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim;
4. Mempunyai publik yang secara tersebar.

Pesan-pesan media tidak dapat dilakukan secara langsung artinya jika kita berkomunikasi melalui surat kabar, maka komunike kita tadi harus diformat sebagai berita atau artikel, kemudian dicetak, didistribusikan, baru kemudian sampai ke audien. Antara kita dan audien tidak bisa berkomunikasi secara langsung, sebagaimana dalam komunikasi tatap muka. Istilah yang sering digunakan adalah interposed. Konsekuensinya adalah, karakteristik yang kedua, tidak terjadi interaksi antara komunikator dengan audien. Komunikasi berlangsung satu arah, dari komunikator ke audien, dan hubungan antara keduanya impersonal.

Karakteristik pokok ketiga adalah pesan-pesan komunikasi massa bersifat terbuka, artinya pesan-pesan dalam komunikasi massa bisa dan boleh dibaca, didengar, dan ditonton oleh semua orang. Karakteristik keempat adalah adanya intervensi pengaturan secara institusional antara si pengirim dengan si penerima. Dalam berkomunikasi melalui media massa, ada aturan, norma, dan nilai-nilai yang harus dipatuhi. Beberapa aturan perilaku normatif ada dalam kode etik, yang dibuat oleh organisasi-organisasi jurnalis atau media.

Dengan demikian, komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah audien yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media massa cetak atau elektrolit sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.

Terdapat beberapa definisi mengenai komunikasi massa yang disampaikan oleh beberapa ahli diantaranya:
· Menurut Bittner (1980:10)
“Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang.”
· Menurut Garbner (1967)
“Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paing luas dimiliki orang dalam masyarakat industry.”
· Ruben (1992)
“Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak.”

Dari definisi-definisi diatas dapat diambil suatu rangkuman definisi bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau media elektronik sehingga pesan yang sama dapat disampaikan secara serempak dan sesaat. Atau dengan kata lain, komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada klayak yang sifatnya missal melalui alat-alat yang bersifat mekanis.

Karena perbedaan teknis, maka sistem komunikasi massa juga mempunyai karakteristik psikologi yang khas dibandingkan dengan sistem komunikasi interpersonal. Hal ini tampak pada:

a. Pengendalian arus informasi
Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang diterima. Pada komunikasi massa, seorang komunikator mengendalikan arus informasi sehingga menunjang persuasi yang efektif. Komunikator sulit untu menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan.


b. Umpan balik
Umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberitahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan pada sumber untuk memberikan reaksi selanjutnya. Dalam komunikasi massa umpan balik (feedback)

c. Stimulasi alat indra
Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada media massa yang digunakan.

d. Proporsi unsur isi dengan hubungan
Dalam komunikasi massa lebih menekankan isi pesan dibandingkan dengan hubungan yang terjadi pada saat proses berkomunikasi berlangsung. Dengan kata lain dalam komunikasi massa lebih menekankan apa yang menjadi isi pesan dibandingkan dengan bagaimana penyampaian pesan tersebut berlangsung.



2.      Sistem Komunikasi Massa Versus Sistem Komunikasi Interpersonal

Menurut Elizabeth-Noelle Neuman (1973), komunikasi massa secara teknis menunjukkan empat tanda pokok:
         Bersifat tidak langsung, harus melewati media teknis.
         Bersifat satu arah, tidak ada interaksi antara para komunikan.
         Bersifat terbuka, ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim.
         Mempunyai publik yang tersebar.

Karena perbedaan teknis, sistem komunikasi massa juga mempunyai karakteristik psikologis yang khas dibandingkan komunikasi interpersonal. Ini tampak dalam pengendalian arus informasi, umpan balik, stimuli alat indera, dan proporsi unsur isi dengan hubungan.

Pengendalian Arus Informasi

Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang diterima. Perbandingan antara pengendalian arus informasi dalam komunikasi massa dan komunikasi interpersonal:

KOMUNIKASI MASSA
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Kita tidak dapat mengendalikan arus informasi seperti yang dikehendaki (dikendalikan komunikator)
Kita bersama-sama dapat mengendalikan arus informasi seperti yang dikehendaki.
Situasi komunikasi dapat menunjang persuasi yang efektif
Situasi komunikasi akan mendorong belajar yang efektif
Komunikator sukar menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan, reaksi khalayak dijadikan proses untuk komunikasi berikutnya (feedback)
Komunikator mudah menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan

Umpan Balik

Umpan balik berasal dari teori sibernetika (Norbet Wiener). Dalam sibernetika, umpan balik adalah keluaran (output) system yang dibalikkan kembali kepada system masukan (input) tambahan dan berfungsi mengatur keluaran berikutnya.

Dalam komunikasi umpan balik diartikan sebagai respon, peneguhan, dan servomekanisme internal. Sebagai Respon, umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberi tahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan kepada sumber untuk menentukan perilaku selanjutnya. Dalam pengertian ini umpan balik bermacam-macam jumlah dan salurannya. Umpan balik sebagai peneguhan, respon yang diperteguh akan mendorong orang untuk mengulangi respon tersebut.

sebaliknya, respon yang tidak diperteguh akan dihilangkan. Umpan balik sebagai servomekanisme. Dalam setiap sistem, selalu ada aparat yang memberikan respon pada jalannya sistem.  Belajar menimbulkan servomekanisme dalam diri individu. Sikap yang diperoleh melalui belajar, diinternalisasikan dalam diri individu sebagai mekanisme yang menstabilkan perilaku individu.

Perbedaan umpan balik sistem komunikasi massa dan sistem komunikasi interpersonal:

PEMBEDA
KOMUNIKASI MASSA
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Sebagai respon
Hanyalah zero feedback, berlangsung satu arah
Volume tidak terbatas dan lewat berbagai saluran komunikasi
Sebagai peneguhan
Delayed feedback (terlambat)
Umpan balik cepat
Sebagai servomekanisme
Kendala ekonomi, nilai, teknologi, dan organisasi berfungsi sebagai servomekanisme
Sikap berfungsi sebagai servomekanisme

Stimuli Alat Indera

Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada jenis media massa. Sedangkan dalam komunikasi interpersonal, stimuli lewat seluruh alat inderanya. Menurut McLuhan, perkembangan sejarah berdasarkan media massa dibedakan menjadi 3 babak:
         Babak tribal: lewat semua alat indera.
         Babak Gutenberg: hanya indera mata yang mendapat stimuli.
         Babak neotribal: alat-alat elektronik memungkinkan manusia menggunakan beberapa macam alat indera.
Proporsi Unsur Isi dengan Hubungan

Perbandingan proporsi unsur  isi dengan hubungan antara komunikasi massa dan komunikasi interpersonal.

KOMUNIKASI MASSA
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Unsur isi lebih penting
Unsur hubungan lebih penting
Pesan berstruktur,  dapat disimpan, diklasifikasi, dan didokumentasikan
Pesan tidak berstruktur, tidak sistematis, dan sukar disimpan atau dilihat kembali.



3.     Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa


Sebelum lebih jauh masuk ke dalam teori-teori komunikasi massa, ada baiknya kita mundur ke belakang, kembali ke enam atau tujuh dasawarsa lampau, ketika media massa banyak dijadikan alat propaganda perang dan politik. Mulai dari Lenin di Rusia, Mussolini di Italia, sampai Hitler dengan Nazi-nya di Jerman; semuanya melakukan propaganda melalui media massa. Di masa itu, media massa diyakini memiliki kekuatan untuk mempengaruhi khalayak. Asumsi ini menempatkan khalayak dalam posisi pasif, sedangkan media massa dianggap lebih superior.

Kala itu, kurang lebih tahun 1920-1930an, saat masing-masing negara yang terlibat Perang Dunia II gencar melakukan propaganda perang terhadap rakyatnya, berkembang apa yang disebut dengan Bullet Theory, beberapa menyebutnya dengan Magic Bullet Theory, dan Hypodermic Needle Theory. Teori ini mengasumsikan massa yang tidak berdaya ditembaki oleh stimuli media massa (Rakhmat, 2003), di saat yang sama juga menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang disuntikkan dengan jarum ke bawah kulit pasien (Rakhmat, 2003), sehingga massa menjadi tidak berdaya dan pasrah pada apa yang dikatakan oleh media massa.

Dari penamaannya saja, “Bullet Theory”, dapat dilihat betapa teori ini sangat dipengaruhi oleh propaganda politik dan Perang Dunia II, dimana media massa pada saat itu boleh jadi menjadi satu-satunya sumber informasi mengenai Perang Dunia II serta kondisi perpolitikan di suatu negara. Oleh karena massa mengandalkan media yang saat itu digunakan untuk propaganda, penerimaan bulat-bulat informasi dari media massa menjadi sebuah keniscayaan.

McQuail (2005) memasukkan fase dimana media massa diposisikan dalam posisi superior dalam babak pertama sejarah efek komunikasi massa. Menurutnya, media dianggap memiliki kekuatan untuk membentuk opini dan kepercayaan, mengubah gaya hidup, dan membentuk perilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh pengirim pesan. Namun demikian, teori dan konsep yang dikemukakan pada fase ini tidaklah didasarkan pada penelitian ilmiah, akan tetapi hanya bersandar pada observasi oleh karena banyaknya media baru seperti film dan radio yang masuk dan mewarnai kehidupan masyarakat.
Penelitian mengenai media massa kemudian berkembang. Carl I. Hovland pada tahun 1940-an melakukan beberapa penelitian eksperimental untuk menguji efek film terhadap tentara. Hasilnya adalah, pesan dalam film tersebut efektif dalam menyampaikan informasi, tetapi tidak mengubah sikap (Rakhmat, 2003). Superioritas media massa sebagaimana diasumsikan dalam Bullet Theory kemudian seakan “sirna” dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld pada pemilu 1940, dimana mereka ingin mengetahui pengaruh media massa dalam kampanye pemilu pada perilaku pemilih.

Hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa media massa sama sekali tidak berpengaruh terhadap perilaku pemilih, oleh karena pemilih sudah memiliki preferensi terlebih dahulu siapa kandidat yang akan mereka pilih. Penelitian tersebut juga menemukan bahwasanya media massa lebih berfungsi untuk memperteguh preferensi yang sudah ada. Selain itu, dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa pengaruh media massa disaring oleh pemuka pendapat.

Hal ini dapat dipahami karena di masa itu tidak setiap orang memiliki akses kepada media massa sebagaimana kita saat ini. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses terhadap media massa. Oleh karena itu, faktor hubungan interpersonal dari opinion leader kepada khalayak yang lebih luas menjadi signifikan.

Dari penelitian Lazarsfeld tersebut dapat dilihat bahwa, khalayak bukan lagi massa yang pasif yang menerima apa saja yang media massa informasikan. Khalayak menyaring informasi melalui proses yang disebut dengan terpaan selektif (selective exposure) dan persepsi selektif (selective perception).
Pada tahun 1960, Joseph Klapper, merangkum hasil-hasil penelitian dan menyimpulkan antara lain: efek komunikasi massa terjadi lewat serangkaian faktor-faktor perantara. Faktor-faktor perantara itu termasuk proses selektif (persepsi selektif, terpaan selektif, dan ingatan selektif), proses kelompok, norma kelompok, dan kepemimpinan opini. (Rakhmat, 2003)

Oleh karena para peniliti kemudian menyadari sulitnya melihat efek media massa pada manusia, fokus penelitian kemudian bergeser dari media massa sebagai komunikator kepada khalayak sebagai komunikan. Di era ini, khalayak dianggap aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Pendekatan ini kemudian dikenal dengan “Uses and Gratification” (Penggunaan dan Pemuasan) (Rakhmat, 2003).

Pertama kali dikemukakan oleh Elihu Katz (1959), teori dari cendikiawan Yahudi itu mengasumsikan bahwa, karena penggunaan media adalah salah satu cara untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan, maka efek media sekarang didefinisikan sebagai situasi ketika pemenuhan kebutuhan tercapai (Rakhmat, 2003). Pendekatan ini memandang media massa sebagai objek pemenuhan kebutuhan dan pemuasan, sedangkan khalayak adalah pihak yang aktif dalam mengonsumsi informasi media massa. Namun demikian, para ahli menggolongkan pendekatan “Uses and Gratification” sebagai sebuah teori efek media, dengan asumsi bahwa media massa memiliki efek moderat.

Agenda Setting adalah teori yang selanjutnya berkembang. Dirumuskan oleh Maxwell E. McComb dan Donald L. Shaw (1960-an), teori agenda setting memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan, dimana fokus perhatiannya adalah efek kognitif. Teori ini dikembangkan dari asumsi yang sebelumnya dikemukakan oleh Bernard Cohen (1963) bahwa media massa memang tidak dapat mempengaruhi pikiran khalayak, akan tetapi media massa berhasil dalam memberitahu khalayak tentang apa mereka harus berpikir.

Hal ini dikarenakan media massa memiliki “kuasa” untuk memilih informasi yang dikehendaki dan, berdasarkan informasi yang diterima, khalayak membentuk persepsinya tentang berbagai peristiwa.Berdasarkan penelitian yang dilakukan McComb dan Shaw pada pemilihan presiden di tahun 1968, penelitian yang menjadi cikal bakal teori Agenda Setting ini menemukan bahwa sebagian besar responden penelitian berpikir bahwa isu publik yang paling penting adalah isu mengenai pemilihan presiden, dan bahwa apa yang diberitakan oleh media massa lokal dan nasional adalah isu yang paling penting.

Berangkat dari konsep Agenda Setting yang masih terus dikembangkan sampai sekarang, tren perspektif dalam melihat efek media massa mulai kembali mengarah pada kuatnya pengaruh media massa atas diri khalayak.Adalah Elisabeth Noelle – Neumann (1916-2010), seorang ilmuwan politik Jerman yang mengatakan bahwasanya penelitian-penelitian media massa terdahulu luput akan tiga faktor penting: ubiquity, kumulasi pesan, serta keseragaman wartawan. Ubiquity merujuk pada media massa yang mampu mendominasi dan berada dimana-mana, sehingga khalayak tidak mampu menghindar darinya.

Kumulasi pesan merujuk pada pesan media massa yang diberikan tidak utuh, namun sepotong-sepotong dan bersifat kumulatif. Berita kebakaran, misalnya, tidak akan mungkin dalam satu waktu media massa mendapatkan beritanya dengan utuh. Setiap hari ada perkembangan baru untuk diliput dan diturunkan menjadi berita. Perulangan pesan yang berkali-kali dapat memperkokoh dampak media massa (Rakhmat, 2003).

Dampak ini diperkuat dengan keseragaman wartawan dalam arti bahwa apa yang diberitakan media massa, apapun jenis media dan korporasi medianya, nyaris sama dan serempak. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yang lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari media massa.

Hal ini lebih jauh lagi akan berdampak pada anggapan khalayak bahwa opini yang diarahkan media massa merupakan opini mayoritas. Sehingga pihak-pihak yang memiliki opini berbeda akan cenderung diam, tidak berkenan menyatakan pendapatnya yang bertentangan dengan opini dominan. Inilah mengapa Noelle – Neumann menyebutnya dengan “The Spiral of Silence”..









4.      Factor yang mempengaruhi Efek Komunikasi massa

A.Perubahan khalayak ketika media menjadi salah satu alat produksi

            Dalam sebuah desa yang di anggab pada tahun 1980 merupakan desa-desanya orang-orang santri ataupun desanya orang-orang yang di anggab militan terhadap agama. di mana masih banyak di rasakan ramainya anak-anak kecil yang pergi ke masjid pada setiap sorenya, masih ramainya kegiatan-kegiatan remaja masjid, dan masih sering kita lihat bahwa banyak orang tua yang sedang berdjikir pada setiap sorenya.        

            Semua yang di lakukan ini menjadi berubah ketika perkembangan media di suatu kota ataupun Negara menjadi lebih canggih dan lebih menjalar ke seluruh plosok. Ketika awal tahun 1980 munculnya TV yang mampu mempengaruhi perubahan sikap dan prilaku pada khalayak hingga menjadikan penghancuran moral pada setiap insan.            

            Ini dapat kita asumsikan bahwa ketika media semakin berkembang, maka akan semakin banyak pula khalayk yang malas dan tak mempedulikan khlayak lain. Yang dulu masih sering kita lihat anak-anak kecil yang bermain di masjid sambil menunggu adzan magrib, sekarang telah musnah dan lebih memilih menyaksikan tayangan TV yang di anggab menarik.         

            Dulu masih banyaknya anak muda yang melakukan sebuah kegiatan contohnya remaja masjid sekarang telah punah, dan menjadi kegiatan yang tidak karuan. Lebih banyak yang nongkrong di pinggir jalan, sambil merokok, dan lain-lain.         

            Semua yang terjadi ini di karenakan salah satu perubahan sikap dan prilaku yang terjadi yang di karenakan oleh media massa yang telah mempengaruhinya. Media lebih cenderung menunjukan beberapa adegan yang di anggab berkembang dan tren untuk di ikuti, namun media tidak dapat memahami kondisi masyarakat.    

            Ketika media ingin menggunakan strategi mencari respon, maka media di haruskan mampu membuat sebuah jebolan baru untuk membuahkan hasil yang lebih dalam sebuah usaha. Namun kebnayakan media enggan memahami perubahan, yang terjhadi sekarang ini hanyalah prilaku komersil yang di anggab akan membahagiakan perusahaannya sendiri.           

           
Namun perlu kita sadari bahwa media memiliki misi yang berbeda-beda, ketika media menjadi salah satu alat revolusi Negara, dan media sebagai salah satu alat komersil yang tidak memandang efek dari publicasi media tersebut.

B. Idealnya media ketika di jadikan salah satu alat perkembangan berfikir khalayak      

            Pada umumnya media massa adalah salah satu alat revolusi yang mampu mengubah sikap dan prilaku khalayak. Ketika kita pahami khalayak adalah salah satu hal yang terpenting bagi Negara, karena ketika khalayak memiliki pandangan yang positif maka perkembangan akan lebih cenderung positif, namun ketika khalayak negatif, maka perkembangan yang terjadipun akan negatif.
           
Ketika kita bahas ideal, maka ini adalah hal-hal yang di anggap sebagai hal yang berguna bagi khalayak, bergunannya di pahami sebagai hal-hal yang positif. Ketika media di gunakan sebagai salah satu alat transfortasi pengetahuan, dan banyak yang menggunkana media sebagai salah satu pertarungan nalar piker.    

            Maka di anggab pertarungan media akan berpengaruh terhadap khalayak. Ketika media menggunakan beberapa tehnik perkembangan darti cara berfikir khalayak maka khalayak akan di anggap pintar dan memahami realitas yang ada.       

            namun ketika media ini menunjukan perkembanagan sebuah globalisasi terhadap khalayak, maka khalayak akan cepat mengikutinya walau mereka tidak pernah memikirkan bagaimana efek dari semua itu.
Karena di anggab perkembnagan itu ada waktu dan tempatnya.

            Apa yang kita pahami tentang perkembangan berfikir merupakan salah satu perkembnagan intelektual terhadap khalayak. Perkembangan yang mampu memberikan khalayak cara berfikir yang positif dalam sebuah perkembangan media.

            Kita tidak dapat memahami media ketika kita memahaminya dari sebelah mata. Banyak media yang dikatakan sebagai alat yang komersil, dan bamyak juga yang mengatakan media sebagai alat revolusi Negara.



5.      Teori defleur dan ball-Rokeach

Ball-Rokeach dan Melvin Defleur melihat pertemuan khalayak dengan media berdasarkan tiga kerangka teoritis: perspektif perbedaan individual, perspektif kategori sosial, dan perspektif hubungan sosial.
·         Perspektif perbedaan individual
memandang bahwa sikap dan organisasi personal-psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli dari lingkungannya, dan bagaimana ia member makna pada stimuli tersebut. Setiap orang mempunyai potensi biologis. Pengalaman belajar, dan lingkungan yang berbeda pula.
·         Perspektif kategori social
berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial, yang reaksinya pada stimuli tertentu cenderung sama. Golongan sosial berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan, pendidikan, tempat tinggal, dan keyakinan beragama menampilkan kategori respon. Anggota-anggota kategori tertentu akan cenderung memilih isi komunikasi yang sama dan akan memberi respon keepadanya dengan cara yang hampir sama pula. Anak –anak akan membaca bobo, sahabat atau Amanda. Ibu-ibu membaca femina, kartini, atau sarinah.
·         Perspektif hubungan social
menekankan pentingnya peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa. Lazarfeld menyebutnya “pengaruh personal”.



Secara singkat, berbagai faktor akan memengaruhi reaksi orang terhadap media massa. Faktor-faktor ini meliputi:
         Organisasi personal-psikologis individu (potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta bidang pengalaman).

         Kelompok-kelompok sosial di mana individu menjadi anggota.

         Hubungan-hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.

Model Melvin L. DeFleur

            Model Melvin L. DeFleur lebih menggambarkan model komunikasi massa daripada komunikasi antarpribadi. Diakui oleh Melvin L. DeFleur, modelnya merupakan perluasan dari model-model yang dikemukakan para ahli yang lain, Seperti :Transmitter dan receiver dalam model Shannon dan Weaver, paralel dengan Encoder dan Decoder dalam model Schramm.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-K7c3OFDLDOFOconNkp5fP7mnjKKfF4IrqInR3olCSFyEsRC8xp419kPIDvqRw6IDTQMGOse3mGY1Kne-d0aZe9qerwpFy9_1dX5bN_Tor6mBwT8bAmUfcl4b1kKWqDixDNriu8-F-J9m/s640/defleur.jpg
           
            Dengan memasukkan perangkat media massa (mass medium device) dan perangkat umpan balik (feedback device). Melvin L. DeFleur mengggambarkan sumber (source), pemancar (transmitter), penerima (receiver) dan sasaran ( destination) sebagai fase-fase yang terpisah dalam proses komunikasi massa.
   Contoh nya:
Ketika seseorang berbicara, ia memilih simbol-simbol untuk menyatakan makna denotatif dan konotatif (merumuskan makna ke dalam pesan) kemudian mengucapkan secara verbal atau menuliskan simbol-simbol ini sedemikian rupa sehingga berubah menjadi peristiwa yang dapat di dengarkan atau dilihat lalu dapat dipersepsi sebagai rangsangan oleh khalayaknya.           

           
Perbedaan fungsi receiver  dalam model DeFleur adalah penerima informasi dan menyandi-baliknya-Sehigga mengubah peristiwa fisik informasi menjadi pesan (sistem simbol yang signifikan).            
   Contoh nya :           
Dalam percakapan biasa, receiver ini merujuk kepada alat pendengaran manusia, yang menerima getaran udara dan mengubahnya menjadi impuls saraf, sehingga menjadi simbol verbal yang dapat dikenal. Dalam komunikasi tertulis, mekanisme visual mempunyai fungsi yang sejajar.

Menurut Defleur dalam buku Deddy Mulyana : 2000, “Komunikasi bukanlah sebuah pemindahan makna. Komunikasi terjadi dengan seperangkat komponen operasi di dalam sistem teoritis, konsekuensinya adalah isomorpis diantara internal penerima kepada seperangkat simbol, sumber dan penerima.”       

Pada tahun 1976, Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L. DeFleur, mengusulkan Teori Ketergantungan Sistem Media (Dependency Theory) adalah teori tentang komunikasi massa yang menyatakan bahwa semakin seseorang tergantung pada suatu media untuk memenuhi kebutuhannya, maka media tersebut menjadi semakin penting untuk orang itu.        

Teori ini pada dasarnya, penjelasan tentang menghubungkan antara isi media, sifat masyarakat, dan perilaku khalayak. Teori Ini menyatakan bahwa orang-orang dalam masyarakat urban telah menjadi bergantung pada komunikasi massa untuk membantu mereka dalam menerima informasi yang mereka butuhkan.    

Besarnya ketergantungan seseorang pada media ditentukan dari dua hal.   
•    Pertama, individu akan condong menggunakan media yang menyediakan kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan media lain yang hanya sedikit. Sebagai contoh, bila anda menyukai gosip, anda akan membeli tabloid gosip dibandingkan membeli koran Kompas,
•    Kedua, persentase ketergantungan juga ditentukan oleh stabilitas sosial saat itu. Sebagai contoh, bila negara dalam keadaan tidak stabil, anda akan lebih bergantung/ percaya pada koran untuk mengetahui informasi jumlah korban bentrok fisik antara pihak keamanan dan pengunjuk rasa, sedangkan bila keadaan negara stabil, ketergantungan seseorang akan media bisa turun dan individu akan lebih bergantung pada institusi - institusi negara atau masyarakat untuk informasi.
    ,
Sebagai contoh di Malaysia dan Singapura dimana penguasa memiliki pengaruh besar atas pendapat rakyatnya, pemberitaan media membosankan karena segala sesuatu tidak bebas untuk digali, dibahas, atau dibesar-besarkan, sehingga masyarakat lebih mempercayai pemerintah sebagai sumber informasi mereka.  

Ketergantungan hubungan dalam teori Ketergantungan Sistem Media, berjalan dua arah yaitu Media sumber dapat menyesuaikan konten mereka berdasarkan pada hubungan ketergantungan penonton, dan penonton dapat menyesuaikan pilihan mereka dari sumber media berdasarkan pada hubungan ketergantungan media.       

Hubungan Ketergantungan Sistem Media berasal dari tujuan pribadi individu, Sebagai individu mengembangkan harapan bahwa sistem media dapat memberikan bantuan ke arah pencapaian tujuan, individu pada umumnya mengembangkan hubungan ketergantungan dengan media atau media dianggap paling membantu dalam mengejar tujuan.         

Komponen sistem Ketergantungan Sistem Media adalah dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu
1.    Makro artinya
      meliputi lingkungan sosial dan sistem media.
2.    Mikro artinya
       mencakup individu dengan tujuan.    
3.    Meso artinya
        melibatkan hubungan interpersonal.



6.      Efek Komunikasi Massa

Umumnya kita lebih tertarik bukan kepada apa yang kita lakukan pada media, tetapi pada apa yang dilakukan media pada kita. Kita ingin tahu apa yang kita baca surat kabar atau menonton televisi, tetapi bagaimana surat kabar dan televisi menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku kita.

Di saat kita menjelaskan perkembangan penelitian efek komunikasi massa, kita telah melihat pasang-surut efek media massa pada pandangan peneliti. Ada satu saat ketika media massa dipandang sangat berpengaruh, tetapi ada saat lain ketika media massa dianggap sedikit, bahkan hampir tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Perbedaan pandangan ini tidak saja disebabkan karena perbedaan latar belakang teoritis, atau latar belakang historis, tetapi juga karena perbedaan mengartikan  “ efek “. Misal: seseorang yang mengantikan abu merang padi dengan shampoo untuk keramas.

Seperti dinyatakan Donald K. Robert ( Schramm dan Roberts, 1977:359 ), ada yang beranggapan bahwa efek hanyalah “ perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan  media massa “. Karena fokusnya pesan , maka efek haruslah berkaitan dengan pesan yang di sampaikan media massa.

Kita cenderung melihat efek media massa, baik yang berkaitan dengan pesan maupun dengan media itu sendiri. Menurut  Steven M. Chaffe ( Dalam Withoit danHarold de bock, 1980:78 ) ada tiga pendekatan.
         Dalam melihat efek media massa.
         Melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa-penerimaan informasi, perubahan perasaan atau sikap, dan perubahan perilaku; atau dengan istilah lain perubahan kognitif, efektif, dan behavioral.
         Meninjau satuan observasi yang dikenai efek komunikasi massa-individu, kelompok, organisasi, masyarakat, atau bangsa.



7.      Efek Kehadiran Komunikasi Massa

Teori McLuhan, disebut teori teori perpanjangan alat indera ( sense extension theory ), menyatakan bahwa media massa adalah perluasan dari alat indera manusia; telepon adalah perpanjangan dari telinga, dan televisi adalah perpanjangan dari mata.

Menurut Steven H. Chaffe ada lima hal tentang efek:
         Efek ekonomis, bahwa kehadiran media massa mengerakkan berbagai usaha. Seperti: produksi, distribusi, dan konsumsi “jasa” media massa.
         Efek sosial, berkenaan dengan perubahan pada struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa.
         Efek pada penjadwalan kegiatan, penjadwalan kembali kegiatan sehari-hari.
         Efek pada penyaluran/penghilangan perasaan tertentu, orang menyalurkan perasaannya dengan mengunakan media massa.
         Efek pada perasaan orang terhadap media, bagaimana orang menggunakan media massa untuk memuasakan kebutuhan psikologis.



8.      Efek Afektif Komunikasi Massa

Pembentukan dan perubahan sikap

         Menurut Joseph Klepper (1960), berdasarkan penelitian yang komprehensif mengenai media massa, dalam hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap,  pengaruh media massa dapat disimpulkan pada lima prinsip umum :
         Pengaruh komunikasi massa, faktor-faktornya :
-          predisposisi personal
-          proses selektif
-          keanggotaan kelompok
         Faktor-faktor diatas berfungsi memperkokoh sikap dan pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang berfungsi sebagai agent of change.
         Komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada konversi (perubahan seluruh sikap).
         Komunikasi massa efektif dalam bidang dimana pendapat orang lemah (misalnya pada iklan komersial).
         Komunikasi massa afektif dalam menciptakan pendapat tentang masalah-masalah baru bila tidak ada predisposisi yang harus diperteguh.
Perubahan sikap secara berarti tidak ditemukan oleh peneliti sebab :
         alat ukur yang digunakan oleh peneliti gagal mendeteksi perubahan tersebut.
         terjadi terpaan selektif yang menyebabkan orang cenderung menerima konsepsi yang sudah ada sebelumnya.
         ketika kita mengukur efek media massa, kita mengukur efek yang saling menghapus, artinya orang menerima bukan saja media massa yang mengkampanyekan hal tertentu, tetapi juga menentang hal tersebut.
         media memang tidak menyebabkan orang beralih sikap, tetapi hanya memperkokoh kecenderungan yang sudah ada sehingga setiap pihak, dengan kampanye berusaha menghindari pindah ke pihak lain.
         umumnya kita mengukur efek media massa pada sikap  politik yang didasarkan pada keyakinan yang dipegang teguh, bukan pada sikap yang berlandaskan kegiatan yang dangkal.
         diduga, mereka yang diterpa media massa adalah orang-orang yang lebih terpelajar.
         diduga, media massa tidak berpengaruh langsung pada khalayak, tetapi melewati dulu pemuka-pemuka pendapat.
         media massa tidak mengubah pendapat, tetapi memengaruhi penonjolan suatu isu di atas isu yang lain.

Rangsangan Emosional

Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan pada media massa :
         Suasana emosional (mood) : dalam mempersepsi sesuatu, suasana mental sangat berpengaruh.
         Skema kognitif : naskah pada pikiran kita yang menjelaskan alur peristiwa yang dapat juga terbentuk karena induksi verbal atau petunjuk pendahuluan yang menggerakkan kerangka interpretatif.
         Suasana terpaan : kondisi sekitar akan memengaruhi dalam emosi pada saat memberikan respons.
         Predisposisi individual : mengacu pada karakter individu yang khas, semua orang berbeda-beda.
         Tingkat identifikasi khalayak terhadap tokoh dalam media massa : sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan di media massa

Rangsangan Seksual

Merupakan rangsangan yang muncul akibat adegan-adegan erotis di media massa, yang kita kenal dengan pornografi. Beberapa ahli menggunakan istilah SEM (Sexually Explicit Materials) atu erotika. Erotika merangsang gairah seksual, meruntuhkan nilai moral, mendorong orang gila seks, dan merangsang gairah seksual.
Dalam bab ini, dikenal adanya stimuli erotis, yaitu stimuli yang membangkitkan gairah seksual internal dan eksternal. Stimuli internal adalah perangsang yang timbul dari mekanisme dalam tubuh organisme. Sedangkan stimuli eksternal adalah petunjuk-petunjuk (cues) yang bersifat visual  (olfactory), sentuhan (tactual),  gerakan (kinesthetic), dan intelektual.
Menurut tokoh Baron dan Byrne, erotika telah diungkapkan sejak masa kemanusiaan yang paling dini. Di dunia modern sekarang, erotika menjadi komoditi yang laku. Minat orang pada erotika timbul karena beberapa motif, antara lain rasa ingin tahu dan aphrodisiac.  Seks sendiri dikenal pertama kali dari media erotika.






9.      Efek Behavioral Komunikasi Massa

              Efek komunikasi massa pada perilaku sosial yang diterima atau efek prososial behavioral (dan pada perilaku agresif). Selanjutnya, akan diulas teori-teori yang menjelaskan efek komunikasi massa pada peristiwa-peristiwa sosial.

Efek Prososial Behavioral
Salah satu perilaku prososiala memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Teori psikologi yang menjelaskan efek prososial media massa adalah teori belajar sosial menurut Bandura. Menurut Bandura, kita belajar bukan saja dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan atau peneladanan (modeling). Artinya, kita mampu memiliki keterampilan tertentu bila terdapat jalinan positif yang kita amati dan karakteristik kita.

Agresi Sebagai Efek Komunikasi Massa
Agresi sebagai setiap bentuk perilaku yang diarahkan untuk merusak atau melukai orang lain yang menghindari perlakuan seperti itu (Baron dan Byrne, 1979:405). Menurut teori belajar sosial dari Bandura, orang cenderung meniru perilaku yang diamatinya, stimuli menjadi teladan untuk perilakunya. Kita dapat menduga penyajian cerita atau adegan kekerasan dalam media massa akan menyebabkan orang melakukan kekerasan pula, dengan kata lain mendorong orang menjadi agresif.

Teori-teori Efek Komunikasi Massa
Menurut Innis (1951), media mempengaruhi bentuk-bentuk organisasi sosial. Setiap media memiliki kecenderungan memihak ruang atau waktu – communication bias. Bila komunikasi yang dilakukan bias pada ruang – artinya, pesan dapat disampaikan ke tempat-tempat  yang jauh – orang cenderung bergerak ke tempat-tempat yang jauh, sehingga terjadi ekspansi teritorial, mobilisasi penduduk secara horizontal, dan kekaisaran. Sebaliknya, bila komunikasi bias pada waktu, orang tinggal pada ruang yang terbatas, pada kelompok yang terikat erat karena sejarah, tradisi, agama, dan keluarga. Bias waktu membawa ke masa lalu, bias ruang membawa ke masa depan.

              Dengan demikian, media komunikasi membentuk jenis kebudayaan tertentu. Media lisan mengandung bias waktu, karena sukar didengar dari jarak jauh. Ini melahirkan masyarakat tradisional dan kekuasaan kelompok agama serta orang-orang tua. Media tulisan memiliki bias ruang. Ini melahirkan masyarakat yang menolak tradisi, meninggalkan mitos dan agama, serta berorientasi pada masa depan.

              David P. Phillips, teori yang dikemukakan Phillips telah banyak dibicarakan oleh ahli-ahli sosiologi. Namun, yang baru dari Phillips ialah penggunaan kerangka teori imitasi pada efek media massa terhadap anggota-anggota masyarakat. Ia menyebutkan proses imitasi ini sebagai penularan kultural (cultural contagion) yang ia analogikan dengan penularan penyakit (biological contagion). Ia menyebutkan 6 karakteristik penularan kultural.

         Inkubasi
         Imunisasi
         Penularan Khusus atau Umum
         Kerentanan untuk Ditulari
         Media Infeksi
         Karantina



BAB III
KESIMPULAN



Komunikasi kelompok mempunyai pengertian sebagai berikut interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.

Di dalam komunikasi kelompok juga mencakup tentang prinsip, klasifikasi dan karakteristik komunikasinya, fungsi kelompok serta faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok. Sedangkan Komunikasi organisasi mempunyai oengertian sebagai berikut pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi.

Serta mencakup pendekatan-pendekatan yang terkait dalam komunikasi organisasi, selain itu terdapat pula jaringan komunikasi dan arus dalam komunikasi. Serta format interaksi komunikasi organisasi terdiri dari komunikasi interpersonal, publik dan komunikasi kelompok kecil.


























DAFTAR PUSTAKA



McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga
Nurudin, 2003, Komunikasi Massa, Malang: CESPUR.
Warsito, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jalaluddin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Shoemaker & Reese, 1996, Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, USA:Longman.
Rakhmat, Jalaluddin, Drs. M.Sc., Psikologi Komunikasi. 2003. Remaja Rosda Karya, Bandung.
McQuail, Dennis, McQuail’s Mass Communication Theory 5th Edition. 2005. SAGE Publications



[1] McQuil (1987) dalam Teori Komunikasi Massa meyakini bahwa pengertian komunikasi massa terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massa dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Di samping itu, ada pula makna lain _yang dianggap makna asli_ dari kata massa, yaitu makna yang mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk, yang komponen-komponennya sulit dibedakan satu sama. Kamus bahasa Inggris memberikan definisi massa sebagai suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas. Definisi ini ini hampir menyerupai pengertian massa yang digunakan oleh para ahli sosiologi, khususnya bila dipakai dalam kaitannya dengan audien media.
[2] Reese & Shoemaker (1996) dalam Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, menyatakan bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi peran gate keeping dari institusi pers. Faktor-faktor itu adalah individual; rutinitas; organisasi; ekstra media; dan ideologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar