DAFTAR ISI
DAFTAR ISI …………………………………………………………….………….......... 1
BAB I ………………………………………………………………………….................... 2
PENDAHULUAN
1.
LatarBelakang ……………………………………………………………………............... 2
BAB II ………………………………………………………………………………...….... 3
PEMBAHASAN
1. Pengertian Komunikasi Massa
........................................................................................... 3
A. Unsur-Unsur
Komunikasi Massa
B. Ciri-ciri
komunikasi massa
2.
Sistem Komunikasi Massa Versus Sistem Komunikasi
Interpersonal ........................... 7
3. Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa ..................................................................... 9
4. Factor
yang mempengaruhi Efek Komunikasi massa
...................................................... 12
A.Perubahan khalayak ketika media menjadi
salah satu alat produksi
B.Idealnya media ketika di jadikan salah
satu alat perkembangan berfikir khalayak
5.
Teori defleur dan ball-Rokeach ......................................................................................... 13
6.
Efek
Komunikasi Massa
..................................................................................................... 16
7.
Efek
Kehadiran Komunikasi Massa .................................................................................. 17
8. Efek
Afektif Komunikasi Massa
........................................................................................ 17
9. Efek
Behavioral Komunikasi Massa
.................................................................................. 19
BAB III ……………………………………………………………………….…………… 20
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
..........................................................................................................
21
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LatarBelakang
Komunikasi
merupakan bagian paling mendasar dalam kehidupan manusia. Tanpa komunikasi manusia
tidak dapat hidup. Bahkan yang tidak dapat melakukannya secara verbal pun akan berusaha
melakukannya dengan cara lain yaitu nonverbal seperti penggunaan bahasa tubuh.
Seseorang yang mampu melakukan komunikasi verbal baik
lisan maupun tulisan akan memanfaatkannya sebaik mungkin agar mendapat
pengakuan akan eksistensi
dari lingkungan sosialnya. Sikap keterbukaan terhadap lingkungan sosial
sekitarnya akan membuat seseorang itu menjadi berharga bagi lingkungan di
sekitarnya itu sendiri.
Oleh
karena itu, dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya, seseorang
akan berusaha agar dirinya dapat diterima dengan terbuka oleh
lingkungannya. Berbagai cara dan upaya pun dilakukan sehingga antara
dirinya dan lingkungan sosialnya tidak terdapat lagi jurang pemisah
yang dalam atau setidaknya dapat dieliminir.
Salah
satu dari berbagai upaya yang dilakukan itu adalah dengan melakukan komunikasi
yang baik. Komunikasi dikatakan baik apabila
komunikasi itu efektif. Salah satu indikator kefektifan komunikasi
adalah apabila memenuhi sejumlah syarat tertentu, dimana salah satunya adalah komunikasi
yang mampu menimbulkan kesenangan diantara pihak yang terlibat di dalamnya.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Komunikasi Massa
Komunikasi
massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass communication, sebagai
kependekan dari mass media communication. Artinya, komunikasi yang
menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass
communication atau communications diartikan sebagai salurannya,
yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass
communication.
Massa mengandung pengertian orang
banyak, mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat
tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau
hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama[1]. Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengartikan
massa sebagai meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi
massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.
A. Unsur-Unsur
Komunikasi Massa
Harold D. Lasswell (dalam Wiryanto,
2005) memformulasikan unsur-unsur komunikasi dalam bentuk pertanyaan sebagai
berikut ”Who Says What in Which Channelto Whom With What Effect?”
- Unsur who (sumber atau komunikator). Sumber utama dalam komunikasi massa adalah lembaga atau organisasi atau orang yang bekerja dengan fasilitas lembaga atau organisasi (institutionalized person). Yang dimaksud dimaksud dengan lembaga dalam hal ini adalah perusahaan surat kabar, stasiun radio, televisi, majalah, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud institutionalized person adalah redaktur surat kabar (sebagai contoh). Melalui tajuk rencana menyatakan pendapatnya dengan fasilitas lembaga. Oleh karena itu, ia memiliki kelebihan dalam suara atau wibawa dibandingkan berbicara tanpa fasilitas lembaga.
Pers adalah
suatu suatu lembaga sosial. Dalam UU RI no 40 tahun 1999 tentang pers, pasal 1
ayat (1) menyatakan: ”Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang
melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, megolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan,
suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk
lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis
saluran yang tersedia.” bentuk institusi media massa dipertegas lagi pada pasal
1 ayat (2) yang menyatakan: ” Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang
menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik,
dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus
menyelenggarakan, menyiarkan atau menyalurkan informasi.”
McQuail (1987)
menyebutkan ciri-ciri khusus institusi (lembaga) media massa sebagai berikut:
a. Memproduksi
dan mendistribusikan pengetahuan dalam wujud informasi, pandangan, dan budaya.
Upaya tersebut merupakan respon terhadap kebutuhan sosial kolektif dan
permintaan individu.
b. Menyediakan
saluran untuk menghubungkan orang tertentu dengan orang lain: dari pengirim ke
penerima, dari anggota audien ke anggota audien lainnya, dari seseorang ke
masyarakat dan institusi masyarakat terkait. Semua itu bukan sekedar saluran
fisik jaringan komunikasi, melainkan juga merupakan saluran tatacara dan pengetahuan
yang menentukan siapakah sebenarnya yang patut atau berkemungkinan untuk
mendengar sesuatu dan kepada siapa ia harus mendengarnya.
c. Media
menyelenggarakan sebagian besar kegiatannya dalam lingkungan publik, dan
merupakan institusi yang terbuka bagi semua orang untuk peran serta sebagai
penerima (atau dalam kondisi tertentu sebagai pengirim). Institusi media juga
mewakili kondisi publik, seperti yang tampak bilamana media massa menghadapi
masalah yang berkaitan dengan pendapat publik (opini publik) dan ikut berperan
membentuknya (bukan masalah pribadi, pandangan ahli, atau penilaian ilmiah).
d. Partisipasi
anggota audien dalam institusi pada hakikatnya bersifat sukarela, tanpa adanya
keharusan atau kewajiban sosial. Bahkan lebih bersifat suka rela daripada
beberapa institusi lainnya, misalnya pendidikan, agama atau politik.
Partisipasi anggota audien lebih mengacu pada mengisi waktu senggang dan
santai, bukannya berkenaan dengan pekerjaan dan tugas. Hal tersebut dikaitkan
juga dengan ketidakberdayaan formal institusi media: media tidak dapat
mengandalkan otoritasnya sendiri dalam masyarakat, serta tidak mempunyai
organisasi yang menghubungkan pemeran-serta ”lapisan atas” (produsen pesan) dan
pemeran-serta ”lapisan bawah” (audien).
e. Industri
media dikaitkan dengan industri dan pasar karena ketergantungannya pada imbalan
kerja, teknologi, dan kebutuhan pembiayaan.
f. Meskipun
institusi media itu sendiri tidak memiliki kekuasaan, namun institusi ini
selalu berkaitan dengan kekuasaan negara karena adanya kesinambungan pemakaian
media, mekanisme hukum, dan pandangan-pandangan menentukan yang berbeda antara
negara yang satu dengan lainnya.
Komunikator
dalam proses komunikasi massa selain merupakan sumber pesan, mereka juga
berperan sebagai gate keeper (lihat McQuail, 1987; Nurudin, 2003). Yaitu
berperan untuk menambah, mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua
informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami oleh audien-nya[2].
Bitner (dalam Tubbs, 1996) menyatakan bahwa pelaksanaan peran gate keeper
dipengaruhi oleh: ekonomi; pembatasan legal; batas waktu; etika pribadi dan
profesionalitas; kompetisi diantara media; dan nilai berita.
- Unsur says what (pesan). Pesan-pesan komunikasi massa dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat besar dan dapat menjangkau audien yang sangat banyak. Pesan-pesan itu berupa berita, pendapat, lagu, iklan, dan sebagainya. Charles Wright (1977) memberikan karakteristik pesan-pesan komunikasi massa sebagai berikut:
- publicly. Pesan-pesan komunikasi massa pada umumnya tidak ditujukan kepada orang perorang secara eksklusif, melainkan bersifat terbuka, untuk umum atau publik.
- rapid. Pesan-pesan komunikasi massa dirancang untuk mencapai audien yang luas dalam waktu yang singkat serta simultan.
- transient. Pesan-pesan komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhan segera, dikonsumsi sekali pakai dan bukan untuk tujuan yang bersifat permanen. Pada umumnya, pesan-pesan komunikasi massa cenderung dirancang secara timely, supervisial, dan kadang-kadang bersifat sensasional.
- Unsur in which channel (saluran atau media). Unsur ini menyangkut semua peralatan yang digunakan untuk menyebarluaskan pesan-pesan komunikasi massa. Media yang mempunyai kemampuan tersebut adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dan sebagainya.
- Unsur to whom (penerima; khalayak; audien). Penerima pesan-pesan komunikasi massa biasa disebut audien atau khalayak. Orang yang membaca surat kabar, mendengarkan radio, menonton televisi, browsing internet merupakan beberapa contoh dari audien.
Menurut Charles
Wright (dalam Wiryanto, 2005), mass audien memiliki
karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
- Large yaitu penerima-penerima pesan komunikasi massa berjumlah banyak, merupakan individu-individu yang tersebar dalam berbagai lokasi;
- Heterogen yaitu penerima-penerima pesan komunikasi massa terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, beragam dalam hal pekerjaan, umur, jenis kelamin, agama, etnis, dan sebagainya;
- Anonim yaitu anggota-anggota dari mass audien umumnya tidak saling mengenal secara pribadi dengan komunikatornya.
- Unsur with what effect (dampak). Dampak dalam hal ini adalah perubahan-perubahan yang terjadi di dalam diri audien sebagai akibat dari keterpaan pesan-pesan media. David Berlo (dalam Wiryanto, 2005) mengklasifikasikan dampak atau perubahan ini ke dalam tiga kategori, yaitu: perubahan dalam ranah pengetahuan; sikap; dan perilaku nyata. Perubahan ini biasanya berlangsung secara berurutan.
B. Ciri-ciri
komunikasi massa
Sedangkan
ciri-ciri komunikasi massa, menurut Elizabeth Noelle Neumann (dalam Jalaluddin
Rakhmat, 1994) adalah sebagai berikut:
1. Bersifat
tidak langsung, artinya harus melalui media teknis;
2. Bersifat
satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi;
3. Bersifat
terbuka, artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim;
4. Mempunyai
publik yang secara tersebar.
Pesan-pesan media tidak dapat dilakukan secara langsung
artinya jika kita berkomunikasi melalui surat kabar, maka komunike kita tadi
harus diformat sebagai berita atau artikel, kemudian dicetak, didistribusikan,
baru kemudian sampai ke audien. Antara kita dan audien tidak bisa berkomunikasi
secara langsung, sebagaimana dalam komunikasi tatap muka. Istilah yang sering
digunakan adalah interposed. Konsekuensinya adalah, karakteristik yang
kedua, tidak terjadi interaksi antara komunikator dengan audien. Komunikasi
berlangsung satu arah, dari komunikator ke audien, dan hubungan antara
keduanya impersonal.
Karakteristik pokok ketiga adalah pesan-pesan komunikasi
massa bersifat terbuka, artinya pesan-pesan dalam komunikasi massa bisa dan
boleh dibaca, didengar, dan ditonton oleh semua orang. Karakteristik keempat
adalah adanya intervensi pengaturan secara institusional antara si pengirim
dengan si penerima. Dalam berkomunikasi melalui media massa, ada aturan, norma,
dan nilai-nilai yang harus dipatuhi. Beberapa aturan perilaku normatif ada
dalam kode etik, yang dibuat oleh organisasi-organisasi jurnalis atau media.
Dengan demikian, komunikasi massa dapat didefinisikan
sebagai suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah audien yang
tersebar, heterogen, dan anonim melalui media massa cetak atau elektrolit
sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Terdapat
beberapa definisi mengenai komunikasi massa yang disampaikan oleh beberapa ahli
diantaranya:
·
Menurut Bittner (1980:10)
“Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui
media massa pada sejumlah besar orang.”
·
Menurut Garbner (1967)
“Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang
berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paing
luas dimiliki orang dalam masyarakat industry.”
·
Ruben (1992)
“Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan
dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak.”
Dari definisi-definisi diatas dapat diambil suatu
rangkuman definisi bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi
yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim
melalui media cetak atau media elektronik sehingga pesan yang sama dapat
disampaikan secara serempak dan sesaat. Atau
dengan kata lain, komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan yang
berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada klayak
yang sifatnya missal melalui alat-alat yang bersifat mekanis.
Karena
perbedaan teknis, maka sistem komunikasi massa juga mempunyai karakteristik
psikologi yang khas dibandingkan dengan sistem komunikasi interpersonal. Hal
ini tampak pada:
a. Pengendalian arus informasi
Mengendalikan
arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang
diterima. Pada komunikasi massa, seorang komunikator mengendalikan arus
informasi sehingga menunjang persuasi yang efektif. Komunikator sulit untu
menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan.
b. Umpan balik
Umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima
ke sumber, memberitahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan
pada sumber untuk memberikan reaksi selanjutnya. Dalam komunikasi massa umpan
balik (feedback)
c. Stimulasi alat indra
Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada
media massa yang digunakan.
d. Proporsi unsur isi dengan
hubungan
Dalam komunikasi massa lebih menekankan isi pesan
dibandingkan dengan hubungan yang terjadi pada saat proses berkomunikasi
berlangsung. Dengan kata lain dalam komunikasi massa lebih menekankan apa yang
menjadi isi pesan dibandingkan dengan bagaimana penyampaian pesan tersebut
berlangsung.
2. Sistem
Komunikasi Massa Versus Sistem Komunikasi Interpersonal
Menurut Elizabeth-Noelle Neuman (1973), komunikasi massa secara
teknis menunjukkan empat tanda pokok:
Bersifat tidak langsung, harus melewati media
teknis.
Bersifat satu arah, tidak ada interaksi antara
para komunikan.
Bersifat terbuka, ditujukan pada publik yang
tidak terbatas dan anonim.
Mempunyai publik yang tersebar.
Karena perbedaan teknis, sistem komunikasi massa juga mempunyai
karakteristik psikologis yang khas dibandingkan komunikasi interpersonal. Ini
tampak dalam pengendalian arus informasi, umpan balik, stimuli alat indera, dan
proporsi unsur isi dengan hubungan.
Pengendalian Arus Informasi
Mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan
yang disampaikan dan yang diterima. Perbandingan antara pengendalian arus
informasi dalam komunikasi massa dan komunikasi interpersonal:
|
KOMUNIKASI MASSA
|
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
|
|
Kita tidak dapat
mengendalikan arus informasi seperti yang dikehendaki (dikendalikan
komunikator)
|
Kita bersama-sama
dapat mengendalikan arus informasi seperti yang dikehendaki.
|
|
Situasi komunikasi
dapat menunjang persuasi yang efektif
|
Situasi komunikasi
akan mendorong belajar yang efektif
|
|
Komunikator sukar
menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan, reaksi khalayak dijadikan
proses untuk komunikasi berikutnya (feedback)
|
Komunikator mudah
menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan
|
Umpan
Balik
Umpan balik berasal dari teori sibernetika (Norbet Wiener). Dalam
sibernetika, umpan balik adalah keluaran (output) system yang dibalikkan
kembali kepada system masukan (input) tambahan dan berfungsi mengatur keluaran
berikutnya.
Dalam komunikasi umpan balik diartikan sebagai respon, peneguhan,
dan servomekanisme internal. Sebagai Respon,
umpan balik adalah pesan yang dikirim kembali dari penerima ke sumber, memberi
tahu sumber tentang reaksi penerima, dan memberikan landasan kepada sumber
untuk menentukan perilaku selanjutnya. Dalam pengertian ini umpan balik
bermacam-macam jumlah dan salurannya. Umpan balik sebagai peneguhan, respon yang diperteguh akan mendorong orang untuk
mengulangi respon tersebut.
sebaliknya, respon yang tidak diperteguh akan dihilangkan. Umpan
balik sebagai servomekanisme. Dalam
setiap sistem, selalu ada aparat yang memberikan respon pada jalannya
sistem. Belajar menimbulkan
servomekanisme dalam diri individu. Sikap yang diperoleh melalui belajar,
diinternalisasikan dalam diri individu sebagai mekanisme yang menstabilkan perilaku
individu.
Perbedaan umpan balik sistem komunikasi massa dan sistem
komunikasi interpersonal:
|
PEMBEDA
|
KOMUNIKASI MASSA
|
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
|
|
Sebagai respon
|
Hanyalah zero
feedback, berlangsung satu arah
|
Volume tidak terbatas
dan lewat berbagai saluran komunikasi
|
|
Sebagai peneguhan
|
Delayed feedback
(terlambat)
|
Umpan balik cepat
|
|
Sebagai servomekanisme
|
Kendala ekonomi,
nilai, teknologi, dan organisasi berfungsi sebagai servomekanisme
|
Sikap berfungsi
sebagai servomekanisme
|
Stimuli
Alat Indera
Dalam komunikasi massa, stimuli alat indra bergantung pada jenis
media massa. Sedangkan dalam komunikasi interpersonal, stimuli lewat seluruh
alat inderanya. Menurut McLuhan, perkembangan sejarah berdasarkan media massa
dibedakan menjadi 3 babak:
Babak tribal: lewat semua alat indera.
Babak Gutenberg: hanya indera mata yang mendapat
stimuli.
Babak neotribal: alat-alat elektronik
memungkinkan manusia menggunakan beberapa macam alat indera.
Proporsi
Unsur Isi dengan Hubungan
Perbandingan proporsi unsur
isi dengan hubungan antara komunikasi massa dan komunikasi
interpersonal.
|
KOMUNIKASI MASSA
|
KOMUNIKASI INTERPERSONAL
|
|
Unsur isi lebih
penting
|
Unsur hubungan lebih
penting
|
|
Pesan
berstruktur, dapat disimpan,
diklasifikasi, dan didokumentasikan
|
Pesan tidak berstruktur,
tidak sistematis, dan sukar disimpan atau dilihat kembali.
|
3. Sejarah Penelitian Efek Komunikasi Massa
Sebelum lebih jauh masuk ke dalam
teori-teori komunikasi massa, ada baiknya kita mundur ke belakang, kembali ke
enam atau tujuh dasawarsa lampau, ketika media massa banyak dijadikan alat
propaganda perang dan politik. Mulai dari Lenin di Rusia, Mussolini di
Italia, sampai Hitler dengan Nazi-nya di Jerman; semuanya melakukan propaganda
melalui media massa. Di masa itu, media massa diyakini memiliki kekuatan untuk
mempengaruhi khalayak. Asumsi ini menempatkan khalayak dalam posisi pasif,
sedangkan media massa dianggap lebih superior.
Kala
itu, kurang lebih tahun 1920-1930an, saat masing-masing negara yang terlibat
Perang Dunia II gencar melakukan propaganda perang terhadap rakyatnya,
berkembang apa yang disebut dengan Bullet Theory, beberapa menyebutnya dengan
Magic Bullet Theory, dan Hypodermic Needle Theory. Teori ini mengasumsikan
massa yang tidak berdaya ditembaki oleh stimuli media massa (Rakhmat, 2003), di
saat yang sama juga menganalogikan pesan komunikasi seperti obat yang
disuntikkan dengan jarum ke bawah kulit pasien (Rakhmat, 2003), sehingga massa
menjadi tidak berdaya dan pasrah pada apa yang dikatakan oleh media massa.
Dari penamaannya saja, “Bullet Theory”,
dapat dilihat betapa teori ini sangat dipengaruhi oleh propaganda politik dan
Perang Dunia II, dimana media massa pada saat itu boleh jadi menjadi
satu-satunya sumber informasi mengenai Perang Dunia II serta kondisi
perpolitikan di suatu negara. Oleh karena massa mengandalkan media yang
saat itu digunakan untuk propaganda, penerimaan bulat-bulat informasi dari
media massa menjadi sebuah keniscayaan.
McQuail
(2005) memasukkan fase dimana media massa diposisikan dalam posisi superior
dalam babak pertama sejarah efek komunikasi massa. Menurutnya, media dianggap
memiliki kekuatan untuk membentuk opini dan kepercayaan, mengubah gaya hidup,
dan membentuk perilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh pengirim pesan. Namun
demikian, teori dan konsep yang dikemukakan pada fase ini tidaklah didasarkan
pada penelitian ilmiah, akan tetapi hanya bersandar pada observasi oleh karena
banyaknya media baru seperti film dan radio yang masuk dan mewarnai kehidupan
masyarakat.
Penelitian
mengenai media massa kemudian berkembang. Carl I. Hovland pada tahun 1940-an
melakukan beberapa penelitian eksperimental untuk menguji efek film terhadap
tentara. Hasilnya adalah, pesan dalam film tersebut efektif dalam menyampaikan
informasi, tetapi tidak mengubah sikap (Rakhmat, 2003). Superioritas media
massa sebagaimana diasumsikan dalam Bullet Theory kemudian seakan “sirna” dengan
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld pada pemilu 1940, dimana
mereka ingin mengetahui pengaruh media massa dalam kampanye pemilu pada
perilaku pemilih.
Hasil yang didapatkan dari penelitian
tersebut menunjukkan bahwa media massa sama sekali tidak berpengaruh terhadap
perilaku pemilih, oleh karena pemilih sudah memiliki preferensi terlebih dahulu
siapa kandidat yang akan mereka pilih. Penelitian tersebut juga
menemukan bahwasanya media massa lebih berfungsi untuk memperteguh preferensi
yang sudah ada. Selain itu, dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa
pengaruh media massa disaring oleh pemuka pendapat.
Hal
ini dapat dipahami karena di masa itu tidak setiap orang memiliki akses kepada
media massa sebagaimana kita saat ini. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki
akses terhadap media massa. Oleh karena itu, faktor hubungan interpersonal dari
opinion leader kepada khalayak yang lebih luas menjadi signifikan.
Dari
penelitian Lazarsfeld tersebut dapat dilihat bahwa, khalayak bukan lagi massa
yang pasif yang menerima apa saja yang media massa informasikan. Khalayak
menyaring informasi melalui proses yang disebut dengan terpaan selektif (selective
exposure) dan persepsi selektif (selective perception).
Pada
tahun 1960, Joseph Klapper, merangkum hasil-hasil penelitian dan menyimpulkan
antara lain: efek komunikasi massa terjadi lewat serangkaian faktor-faktor
perantara. Faktor-faktor perantara itu termasuk proses selektif (persepsi
selektif, terpaan selektif, dan ingatan selektif), proses kelompok, norma
kelompok, dan kepemimpinan opini. (Rakhmat, 2003)
Oleh
karena para peniliti kemudian menyadari sulitnya melihat efek media massa pada
manusia, fokus penelitian kemudian bergeser dari media massa sebagai
komunikator kepada khalayak sebagai komunikan. Di era ini, khalayak dianggap
aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Pendekatan ini kemudian
dikenal dengan “Uses and Gratification” (Penggunaan dan Pemuasan) (Rakhmat,
2003).
Pertama kali dikemukakan oleh Elihu Katz
(1959), teori dari cendikiawan Yahudi itu mengasumsikan bahwa, karena
penggunaan media adalah salah satu cara untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan,
maka efek media sekarang didefinisikan sebagai situasi ketika pemenuhan
kebutuhan tercapai (Rakhmat, 2003). Pendekatan ini memandang media massa
sebagai objek pemenuhan kebutuhan dan pemuasan, sedangkan khalayak adalah pihak
yang aktif dalam mengonsumsi informasi media massa. Namun demikian, para ahli
menggolongkan pendekatan “Uses and Gratification” sebagai sebuah teori efek
media, dengan asumsi bahwa media massa memiliki efek moderat.
Agenda
Setting adalah teori yang selanjutnya berkembang. Dirumuskan oleh Maxwell E.
McComb dan Donald L. Shaw (1960-an), teori agenda setting memusatkan perhatian
pada efek media massa terhadap
pengetahuan, dimana fokus perhatiannya adalah efek kognitif. Teori ini
dikembangkan dari asumsi yang sebelumnya dikemukakan oleh Bernard Cohen (1963)
bahwa media massa memang tidak dapat mempengaruhi pikiran khalayak, akan tetapi
media massa berhasil dalam memberitahu khalayak tentang apa mereka harus
berpikir.
Hal
ini dikarenakan media massa memiliki “kuasa” untuk memilih informasi yang
dikehendaki dan, berdasarkan informasi yang diterima, khalayak membentuk
persepsinya tentang berbagai peristiwa.Berdasarkan penelitian yang dilakukan
McComb dan Shaw pada pemilihan presiden di tahun 1968, penelitian yang menjadi
cikal bakal teori Agenda Setting ini menemukan bahwa sebagian besar responden
penelitian berpikir bahwa isu publik yang paling penting adalah isu mengenai
pemilihan presiden, dan bahwa apa yang diberitakan oleh media massa lokal dan
nasional adalah isu yang paling penting.
Berangkat
dari konsep Agenda Setting yang masih terus dikembangkan sampai sekarang, tren
perspektif dalam melihat efek media massa mulai kembali mengarah pada kuatnya
pengaruh media massa atas diri khalayak.Adalah Elisabeth Noelle – Neumann
(1916-2010), seorang ilmuwan politik Jerman yang mengatakan bahwasanya
penelitian-penelitian media massa terdahulu luput akan tiga faktor
penting: ubiquity, kumulasi pesan, serta keseragaman
wartawan. Ubiquity merujuk pada media massa yang mampu
mendominasi dan berada dimana-mana, sehingga khalayak tidak mampu menghindar
darinya.
Kumulasi
pesan merujuk pada pesan media massa yang diberikan tidak utuh, namun
sepotong-sepotong dan bersifat kumulatif. Berita kebakaran, misalnya, tidak
akan mungkin dalam satu waktu media massa mendapatkan beritanya dengan utuh.
Setiap hari ada perkembangan baru untuk diliput dan diturunkan menjadi berita.
Perulangan pesan yang berkali-kali dapat memperkokoh dampak media massa
(Rakhmat, 2003).
Dampak
ini diperkuat dengan keseragaman wartawan dalam arti bahwa apa yang diberitakan
media massa, apapun jenis media dan korporasi medianya, nyaris sama dan
serempak. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yang lain, sehingga
mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya dari media
massa.
Hal
ini lebih jauh lagi akan berdampak pada anggapan khalayak bahwa opini yang
diarahkan media massa merupakan opini mayoritas. Sehingga pihak-pihak yang
memiliki opini berbeda akan cenderung diam, tidak berkenan menyatakan
pendapatnya yang bertentangan dengan opini dominan. Inilah mengapa Noelle –
Neumann menyebutnya dengan “The Spiral of Silence”..
4.
Factor yang mempengaruhi Efek Komunikasi massa
A.Perubahan
khalayak ketika media menjadi salah satu alat produksi
Dalam sebuah desa yang di anggab pada tahun 1980 merupakan desa-desanya orang-orang santri ataupun desanya orang-orang yang di anggab militan terhadap agama. di mana masih banyak di rasakan ramainya anak-anak kecil yang pergi ke masjid pada setiap sorenya, masih ramainya kegiatan-kegiatan remaja masjid, dan masih sering kita lihat bahwa banyak orang tua yang sedang berdjikir pada setiap sorenya.
Semua yang di lakukan ini menjadi berubah ketika perkembangan media di suatu kota ataupun Negara menjadi lebih canggih dan lebih menjalar ke seluruh plosok. Ketika awal tahun 1980 munculnya TV yang mampu mempengaruhi perubahan sikap dan prilaku pada khalayak hingga menjadikan penghancuran moral pada setiap insan.
Ini dapat kita asumsikan bahwa ketika media semakin berkembang, maka akan semakin banyak pula khalayk yang malas dan tak mempedulikan khlayak lain. Yang dulu masih sering kita lihat anak-anak kecil yang bermain di masjid sambil menunggu adzan magrib, sekarang telah musnah dan lebih memilih menyaksikan tayangan TV yang di anggab menarik.
Dulu masih banyaknya anak muda yang melakukan sebuah kegiatan contohnya remaja masjid sekarang telah punah, dan menjadi kegiatan yang tidak karuan. Lebih banyak yang nongkrong di pinggir jalan, sambil merokok, dan lain-lain.
Semua yang terjadi ini di karenakan salah satu perubahan sikap dan prilaku yang terjadi yang di karenakan oleh media massa yang telah mempengaruhinya. Media lebih cenderung menunjukan beberapa adegan yang di anggab berkembang dan tren untuk di ikuti, namun media tidak dapat memahami kondisi masyarakat.
Ketika media ingin menggunakan strategi mencari respon, maka media di haruskan mampu membuat sebuah jebolan baru untuk membuahkan hasil yang lebih dalam sebuah usaha. Namun kebnayakan media enggan memahami perubahan, yang terjhadi sekarang ini hanyalah prilaku komersil yang di anggab akan membahagiakan perusahaannya sendiri.
Namun perlu kita sadari bahwa media memiliki misi yang berbeda-beda, ketika media menjadi salah satu alat revolusi Negara, dan media sebagai salah satu alat komersil yang tidak memandang efek dari publicasi media tersebut.
B. Idealnya media ketika di jadikan salah satu alat perkembangan berfikir khalayak
Pada umumnya media massa adalah salah satu alat revolusi yang mampu mengubah sikap dan prilaku khalayak. Ketika kita pahami khalayak adalah salah satu hal yang terpenting bagi Negara, karena ketika khalayak memiliki pandangan yang positif maka perkembangan akan lebih cenderung positif, namun ketika khalayak negatif, maka perkembangan yang terjadipun akan negatif.
Ketika
kita bahas ideal, maka ini adalah hal-hal yang di anggap sebagai hal yang
berguna bagi khalayak, bergunannya di pahami sebagai hal-hal yang positif.
Ketika media di gunakan sebagai salah satu alat transfortasi pengetahuan, dan
banyak yang menggunkana media sebagai salah satu pertarungan nalar piker.
Maka di anggab pertarungan media akan berpengaruh terhadap khalayak. Ketika media menggunakan beberapa tehnik perkembangan darti cara berfikir khalayak maka khalayak akan di anggap pintar dan memahami realitas yang ada.
namun ketika media ini menunjukan perkembanagan sebuah globalisasi terhadap khalayak, maka khalayak akan cepat mengikutinya walau mereka tidak pernah memikirkan bagaimana efek dari semua itu. Karena di anggab perkembnagan itu ada waktu dan tempatnya.
Apa yang kita pahami tentang perkembangan berfikir merupakan salah satu perkembnagan intelektual terhadap khalayak. Perkembangan yang mampu memberikan khalayak cara berfikir yang positif dalam sebuah perkembangan media.
Kita tidak dapat memahami media ketika kita memahaminya dari sebelah mata. Banyak media yang dikatakan sebagai alat yang komersil, dan bamyak juga yang mengatakan media sebagai alat revolusi Negara.
Maka di anggab pertarungan media akan berpengaruh terhadap khalayak. Ketika media menggunakan beberapa tehnik perkembangan darti cara berfikir khalayak maka khalayak akan di anggap pintar dan memahami realitas yang ada.
namun ketika media ini menunjukan perkembanagan sebuah globalisasi terhadap khalayak, maka khalayak akan cepat mengikutinya walau mereka tidak pernah memikirkan bagaimana efek dari semua itu. Karena di anggab perkembnagan itu ada waktu dan tempatnya.
Apa yang kita pahami tentang perkembangan berfikir merupakan salah satu perkembnagan intelektual terhadap khalayak. Perkembangan yang mampu memberikan khalayak cara berfikir yang positif dalam sebuah perkembangan media.
Kita tidak dapat memahami media ketika kita memahaminya dari sebelah mata. Banyak media yang dikatakan sebagai alat yang komersil, dan bamyak juga yang mengatakan media sebagai alat revolusi Negara.
5.
Teori defleur dan ball-Rokeach
Ball-Rokeach dan Melvin Defleur melihat pertemuan khalayak dengan
media berdasarkan tiga kerangka teoritis: perspektif perbedaan individual,
perspektif kategori sosial, dan perspektif hubungan sosial.
·
Perspektif perbedaan
individual
memandang bahwa sikap
dan organisasi personal-psikologis individu akan menentukan bagaimana individu
memilih stimuli dari lingkungannya, dan bagaimana ia member makna pada stimuli
tersebut. Setiap orang mempunyai potensi biologis. Pengalaman belajar, dan
lingkungan yang berbeda pula.
·
Perspektif kategori social
berasumsi bahwa dalam
masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial, yang reaksinya pada stimuli
tertentu cenderung sama. Golongan sosial berdasarkan usia, jenis kelamin,
tingkat pendapatan, pendidikan, tempat tinggal, dan keyakinan beragama
menampilkan kategori respon. Anggota-anggota kategori tertentu akan cenderung
memilih isi komunikasi yang sama dan akan memberi respon keepadanya dengan cara
yang hampir sama pula. Anak –anak akan membaca bobo, sahabat atau Amanda.
Ibu-ibu membaca femina, kartini, atau sarinah.
·
Perspektif hubungan social
menekankan pentingnya
peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap
media massa. Lazarfeld menyebutnya “pengaruh personal”.
Secara
singkat, berbagai faktor akan memengaruhi reaksi orang terhadap media massa.
Faktor-faktor ini meliputi:
Organisasi personal-psikologis individu (potensi biologis,
sikap, nilai, kepercayaan, serta bidang pengalaman).
Kelompok-kelompok sosial di mana individu menjadi anggota.
Hubungan-hubungan interpersonal pada proses penerimaan,
pengelolaan, dan penyampaian informasi.
Model Melvin L. DeFleur
Model Melvin L. DeFleur lebih menggambarkan model komunikasi massa daripada komunikasi antarpribadi. Diakui oleh Melvin L. DeFleur, modelnya merupakan perluasan dari model-model yang dikemukakan para ahli yang lain, Seperti :Transmitter dan receiver dalam model Shannon dan Weaver, paralel dengan Encoder dan Decoder dalam model Schramm.
Dengan memasukkan perangkat media massa (mass medium device) dan perangkat umpan balik (feedback device). Melvin L. DeFleur mengggambarkan sumber (source), pemancar (transmitter), penerima (receiver) dan sasaran ( destination) sebagai fase-fase yang terpisah dalam proses komunikasi massa.
Contoh nya:
Ketika seseorang berbicara, ia memilih simbol-simbol untuk menyatakan makna denotatif dan konotatif (merumuskan makna ke dalam pesan) kemudian mengucapkan secara verbal atau menuliskan simbol-simbol ini sedemikian rupa sehingga berubah menjadi peristiwa yang dapat di dengarkan atau dilihat lalu dapat dipersepsi sebagai rangsangan oleh khalayaknya.
Perbedaan fungsi receiver dalam model DeFleur adalah penerima informasi dan menyandi-baliknya-Sehigga mengubah peristiwa fisik informasi menjadi pesan (sistem simbol yang signifikan).
Contoh nya :
Dalam percakapan biasa, receiver ini merujuk kepada alat pendengaran manusia, yang menerima getaran udara dan mengubahnya menjadi impuls saraf, sehingga menjadi simbol verbal yang dapat dikenal. Dalam komunikasi tertulis, mekanisme visual mempunyai fungsi yang sejajar.
Ketika seseorang berbicara, ia memilih simbol-simbol untuk menyatakan makna denotatif dan konotatif (merumuskan makna ke dalam pesan) kemudian mengucapkan secara verbal atau menuliskan simbol-simbol ini sedemikian rupa sehingga berubah menjadi peristiwa yang dapat di dengarkan atau dilihat lalu dapat dipersepsi sebagai rangsangan oleh khalayaknya.
Perbedaan fungsi receiver dalam model DeFleur adalah penerima informasi dan menyandi-baliknya-Sehigga mengubah peristiwa fisik informasi menjadi pesan (sistem simbol yang signifikan).
Contoh nya :
Dalam percakapan biasa, receiver ini merujuk kepada alat pendengaran manusia, yang menerima getaran udara dan mengubahnya menjadi impuls saraf, sehingga menjadi simbol verbal yang dapat dikenal. Dalam komunikasi tertulis, mekanisme visual mempunyai fungsi yang sejajar.
Menurut
Defleur dalam buku Deddy Mulyana : 2000, “Komunikasi bukanlah sebuah pemindahan
makna. Komunikasi terjadi dengan seperangkat komponen operasi di dalam sistem
teoritis, konsekuensinya adalah isomorpis diantara internal penerima kepada
seperangkat simbol, sumber dan penerima.”
Pada
tahun 1976, Sandra Ball-Rokeach dan Melvin L. DeFleur, mengusulkan Teori
Ketergantungan Sistem Media (Dependency Theory) adalah teori tentang komunikasi
massa yang menyatakan bahwa semakin seseorang tergantung pada suatu media untuk
memenuhi kebutuhannya, maka media tersebut menjadi semakin penting untuk orang
itu.
Teori
ini pada dasarnya, penjelasan tentang menghubungkan antara isi media, sifat
masyarakat, dan perilaku khalayak. Teori Ini menyatakan bahwa orang-orang dalam
masyarakat urban telah menjadi bergantung pada komunikasi massa untuk membantu
mereka dalam menerima informasi yang mereka butuhkan.
Besarnya
ketergantungan seseorang pada media ditentukan dari dua hal.
• Pertama, individu akan condong menggunakan media yang menyediakan kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan media lain yang hanya sedikit. Sebagai contoh, bila anda menyukai gosip, anda akan membeli tabloid gosip dibandingkan membeli koran Kompas,
• Kedua, persentase ketergantungan juga ditentukan oleh stabilitas sosial saat itu. Sebagai contoh, bila negara dalam keadaan tidak stabil, anda akan lebih bergantung/ percaya pada koran untuk mengetahui informasi jumlah korban bentrok fisik antara pihak keamanan dan pengunjuk rasa, sedangkan bila keadaan negara stabil, ketergantungan seseorang akan media bisa turun dan individu akan lebih bergantung pada institusi - institusi negara atau masyarakat untuk informasi. ,
• Pertama, individu akan condong menggunakan media yang menyediakan kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan media lain yang hanya sedikit. Sebagai contoh, bila anda menyukai gosip, anda akan membeli tabloid gosip dibandingkan membeli koran Kompas,
• Kedua, persentase ketergantungan juga ditentukan oleh stabilitas sosial saat itu. Sebagai contoh, bila negara dalam keadaan tidak stabil, anda akan lebih bergantung/ percaya pada koran untuk mengetahui informasi jumlah korban bentrok fisik antara pihak keamanan dan pengunjuk rasa, sedangkan bila keadaan negara stabil, ketergantungan seseorang akan media bisa turun dan individu akan lebih bergantung pada institusi - institusi negara atau masyarakat untuk informasi. ,
Sebagai contoh di Malaysia dan Singapura dimana penguasa
memiliki pengaruh besar atas pendapat rakyatnya, pemberitaan media membosankan
karena segala sesuatu tidak bebas untuk digali, dibahas, atau dibesar-besarkan,
sehingga masyarakat lebih mempercayai pemerintah sebagai sumber informasi
mereka.
Ketergantungan
hubungan dalam teori Ketergantungan Sistem Media, berjalan dua arah yaitu Media
sumber dapat menyesuaikan konten mereka berdasarkan pada hubungan
ketergantungan penonton, dan penonton dapat menyesuaikan pilihan mereka dari
sumber media berdasarkan pada hubungan ketergantungan media.
Hubungan
Ketergantungan Sistem Media berasal dari tujuan pribadi individu, Sebagai
individu mengembangkan harapan bahwa sistem media dapat memberikan bantuan ke
arah pencapaian tujuan, individu pada umumnya mengembangkan hubungan
ketergantungan dengan media atau media dianggap paling membantu dalam mengejar
tujuan.
Komponen
sistem Ketergantungan Sistem Media adalah dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu
1. Makro artinya meliputi lingkungan sosial dan sistem media.
2. Mikro artinya mencakup individu dengan tujuan.
3. Meso artinya melibatkan hubungan interpersonal.
1. Makro artinya meliputi lingkungan sosial dan sistem media.
2. Mikro artinya mencakup individu dengan tujuan.
3. Meso artinya melibatkan hubungan interpersonal.
6. Efek Komunikasi Massa
Umumnya
kita lebih tertarik bukan kepada apa yang kita lakukan pada media, tetapi pada
apa yang dilakukan media pada kita. Kita ingin tahu apa yang kita baca surat
kabar atau menonton televisi, tetapi bagaimana surat kabar dan televisi
menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku kita.
Di
saat kita menjelaskan perkembangan penelitian efek komunikasi massa, kita telah
melihat pasang-surut efek media massa pada pandangan peneliti. Ada satu saat
ketika media massa dipandang sangat berpengaruh, tetapi ada saat lain ketika
media massa dianggap sedikit, bahkan hampir tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Perbedaan
pandangan ini tidak saja disebabkan karena perbedaan latar belakang teoritis,
atau latar belakang historis, tetapi juga karena perbedaan mengartikan “
efek “. Misal: seseorang yang mengantikan abu merang padi dengan shampoo untuk
keramas.
Seperti
dinyatakan Donald K. Robert ( Schramm dan Roberts, 1977:359 ), ada yang
beranggapan bahwa efek hanyalah “ perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan
media massa “. Karena fokusnya pesan , maka efek haruslah
berkaitan dengan pesan yang di sampaikan media massa.
Kita cenderung melihat efek media
massa, baik yang berkaitan dengan pesan maupun dengan media itu sendiri.
Menurut Steven M. Chaffe ( Dalam Withoit danHarold de bock, 1980:78 ) ada
tiga pendekatan.
Dalam melihat efek media massa.
Melihat jenis
perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa-penerimaan
informasi, perubahan perasaan atau sikap, dan perubahan perilaku; atau dengan
istilah lain perubahan kognitif, efektif, dan behavioral.
Meninjau satuan observasi yang dikenai efek komunikasi
massa-individu, kelompok, organisasi, masyarakat, atau bangsa.
7. Efek Kehadiran Komunikasi Massa
Teori McLuhan, disebut teori teori perpanjangan alat
indera ( sense extension theory ), menyatakan bahwa media massa adalah
perluasan dari alat indera manusia; telepon adalah perpanjangan dari telinga,
dan televisi adalah perpanjangan dari mata.
Menurut
Steven H. Chaffe ada lima hal tentang efek:
Efek ekonomis, bahwa kehadiran media massa mengerakkan
berbagai usaha. Seperti: produksi, distribusi, dan konsumsi “jasa” media massa.
Efek sosial, berkenaan dengan perubahan pada struktur atau
interaksi sosial akibat kehadiran media massa.
Efek pada penjadwalan kegiatan, penjadwalan kembali kegiatan
sehari-hari.
Efek pada penyaluran/penghilangan perasaan tertentu, orang
menyalurkan perasaannya dengan mengunakan media massa.
Efek pada perasaan orang terhadap media, bagaimana orang
menggunakan media massa untuk memuasakan kebutuhan psikologis.
8.
Efek Afektif Komunikasi Massa
Pembentukan
dan perubahan sikap
Menurut Joseph Klepper (1960),
berdasarkan penelitian yang komprehensif mengenai media massa, dalam
hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap, pengaruh media massa dapat disimpulkan pada
lima prinsip umum :
Pengaruh komunikasi massa,
faktor-faktornya :
-
predisposisi personal
-
proses selektif
-
keanggotaan kelompok
Faktor-faktor diatas berfungsi memperkokoh
sikap dan pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang berfungsi sebagai agent of change.
Komunikasi massa menimbulkan
perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi
daripada konversi (perubahan seluruh sikap).
Komunikasi massa efektif dalam
bidang dimana pendapat orang lemah (misalnya pada iklan komersial).
Komunikasi massa afektif dalam
menciptakan pendapat tentang masalah-masalah baru bila tidak ada predisposisi
yang harus diperteguh.
Perubahan sikap secara berarti tidak
ditemukan oleh peneliti sebab :
alat ukur yang digunakan oleh
peneliti gagal mendeteksi perubahan tersebut.
terjadi terpaan selektif yang
menyebabkan orang cenderung menerima konsepsi yang sudah ada sebelumnya.
ketika kita mengukur efek media
massa, kita mengukur efek yang saling menghapus, artinya orang menerima bukan
saja media massa yang mengkampanyekan hal tertentu, tetapi juga menentang hal
tersebut.
media memang tidak menyebabkan orang
beralih sikap, tetapi hanya memperkokoh kecenderungan yang sudah ada sehingga
setiap pihak, dengan kampanye berusaha menghindari pindah ke pihak lain.
umumnya kita mengukur efek media
massa pada sikap politik yang didasarkan
pada keyakinan yang dipegang teguh, bukan pada sikap yang berlandaskan kegiatan
yang dangkal.
diduga, mereka yang diterpa media
massa adalah orang-orang yang lebih terpelajar.
diduga, media massa tidak
berpengaruh langsung pada khalayak, tetapi melewati dulu pemuka-pemuka
pendapat.
media massa tidak mengubah pendapat,
tetapi memengaruhi penonjolan suatu isu di atas isu yang lain.
Rangsangan
Emosional
Faktor-faktor yang mempengaruhi
intensitas rangsangan emosional pesan pada media massa :
Suasana emosional (mood) : dalam
mempersepsi sesuatu, suasana mental sangat berpengaruh.
Skema kognitif : naskah pada pikiran
kita yang menjelaskan alur peristiwa yang dapat juga terbentuk karena induksi
verbal atau petunjuk pendahuluan yang menggerakkan kerangka interpretatif.
Suasana terpaan : kondisi sekitar
akan memengaruhi dalam emosi pada saat memberikan respons.
Predisposisi individual : mengacu
pada karakter individu yang khas, semua orang berbeda-beda.
Tingkat identifikasi khalayak
terhadap tokoh dalam media massa : sejauh mana orang merasa terlibat dengan
tokoh yang ditampilkan di media massa
Rangsangan
Seksual
Merupakan rangsangan yang muncul akibat adegan-adegan erotis
di media massa, yang kita kenal dengan pornografi. Beberapa ahli menggunakan
istilah SEM (Sexually Explicit Materials)
atu erotika. Erotika merangsang gairah seksual, meruntuhkan nilai moral,
mendorong orang gila seks, dan merangsang gairah seksual.
Dalam
bab ini, dikenal adanya stimuli erotis, yaitu stimuli yang membangkitkan gairah
seksual internal dan eksternal. Stimuli internal adalah perangsang yang timbul
dari mekanisme dalam tubuh organisme. Sedangkan stimuli eksternal adalah
petunjuk-petunjuk (cues) yang
bersifat visual (olfactory), sentuhan (tactual), gerakan (kinesthetic),
dan intelektual.
Menurut
tokoh Baron dan Byrne, erotika telah diungkapkan sejak masa kemanusiaan yang
paling dini. Di dunia modern sekarang, erotika menjadi komoditi yang laku.
Minat orang pada erotika timbul karena beberapa motif, antara lain rasa ingin
tahu dan aphrodisiac. Seks sendiri dikenal pertama kali dari media
erotika.
9.
Efek Behavioral Komunikasi Massa
Efek komunikasi massa pada perilaku sosial yang diterima
atau efek prososial behavioral (dan pada perilaku agresif). Selanjutnya, akan
diulas teori-teori yang menjelaskan efek komunikasi massa pada
peristiwa-peristiwa sosial.
Efek
Prososial Behavioral
Salah
satu perilaku prososiala memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan
orang lain. Teori psikologi yang menjelaskan efek prososial media massa adalah
teori belajar sosial menurut Bandura. Menurut Bandura, kita belajar bukan saja
dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan atau peneladanan (modeling).
Artinya, kita mampu memiliki keterampilan tertentu bila terdapat jalinan
positif yang kita amati dan karakteristik kita.
Agresi
Sebagai Efek Komunikasi Massa
Agresi sebagai setiap bentuk perilaku yang diarahkan untuk
merusak atau melukai orang lain yang menghindari perlakuan seperti itu (Baron
dan Byrne, 1979:405). Menurut teori belajar sosial dari Bandura, orang
cenderung meniru perilaku yang diamatinya, stimuli menjadi teladan untuk
perilakunya. Kita dapat menduga penyajian cerita atau adegan kekerasan dalam
media massa akan menyebabkan orang melakukan kekerasan pula, dengan kata lain
mendorong orang menjadi agresif.
Teori-teori Efek Komunikasi Massa
Menurut
Innis (1951), media mempengaruhi bentuk-bentuk organisasi sosial. Setiap media
memiliki kecenderungan memihak ruang atau waktu – communication bias. Bila komunikasi yang dilakukan bias pada ruang
– artinya, pesan dapat disampaikan ke tempat-tempat yang jauh – orang cenderung bergerak ke
tempat-tempat yang jauh, sehingga terjadi ekspansi teritorial, mobilisasi penduduk
secara horizontal, dan kekaisaran. Sebaliknya, bila komunikasi bias pada waktu,
orang tinggal pada ruang yang terbatas, pada kelompok yang terikat erat karena
sejarah, tradisi, agama, dan keluarga. Bias waktu membawa ke masa lalu, bias
ruang membawa ke masa depan.
Dengan demikian, media komunikasi membentuk jenis kebudayaan
tertentu. Media lisan mengandung bias waktu, karena sukar didengar dari jarak
jauh. Ini melahirkan masyarakat tradisional dan kekuasaan kelompok agama serta
orang-orang tua. Media tulisan memiliki bias ruang. Ini melahirkan masyarakat
yang menolak tradisi, meninggalkan mitos dan agama, serta berorientasi pada
masa depan.
David P. Phillips, teori yang dikemukakan Phillips telah
banyak dibicarakan oleh ahli-ahli sosiologi. Namun, yang baru dari Phillips
ialah penggunaan kerangka teori imitasi pada efek media massa terhadap
anggota-anggota masyarakat. Ia menyebutkan proses imitasi ini sebagai penularan
kultural (cultural contagion) yang ia analogikan dengan penularan penyakit (biological
contagion). Ia menyebutkan 6 karakteristik penularan kultural.
Inkubasi
Imunisasi
Penularan Khusus atau Umum
Kerentanan untuk Ditulari
Media Infeksi
Karantina
BAB III
KESIMPULAN
Komunikasi
kelompok mempunyai pengertian sebagai berikut interaksi secara tatap muka
antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti
berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana
anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang
lain secara tepat.
Di dalam komunikasi kelompok juga mencakup tentang
prinsip, klasifikasi dan karakteristik komunikasinya, fungsi kelompok serta
faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok. Sedangkan Komunikasi organisasi
mempunyai oengertian sebagai berikut pengiriman dan penerimaan berbagai pesan
organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi.
Serta mencakup pendekatan-pendekatan yang terkait
dalam komunikasi organisasi, selain itu terdapat pula jaringan komunikasi dan
arus dalam komunikasi. Serta format interaksi komunikasi organisasi terdiri
dari komunikasi interpersonal, publik dan komunikasi kelompok kecil.
DAFTAR PUSTAKA
McQuail, 1987, Teori
Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga
Nurudin, 2003, Komunikasi
Massa, Malang: CESPUR.
Warsito, 2005, Pengantar
Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jalaluddin Rakhmat, 1994, Psikologi
Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Shoemaker & Reese, 1996, Mediating
the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, USA:Longman.
Rakhmat,
Jalaluddin, Drs. M.Sc., Psikologi Komunikasi. 2003. Remaja
Rosda Karya, Bandung.
McQuail,
Dennis, McQuail’s Mass Communication Theory 5th Edition. 2005.
SAGE Publications
[1] McQuil (1987)
dalam Teori Komunikasi Massa meyakini bahwa pengertian komunikasi massa
terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massa
dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Di samping itu, ada pula
makna lain _yang dianggap makna asli_ dari kata massa, yaitu makna yang mengacu
pada kolektivitas tanpa bentuk, yang komponen-komponennya sulit dibedakan satu
sama. Kamus bahasa Inggris memberikan definisi massa sebagai
suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas.
Definisi ini ini hampir menyerupai pengertian massa yang digunakan oleh para
ahli sosiologi, khususnya bila dipakai dalam kaitannya dengan audien
media.
[2] Reese & Shoemaker (1996) dalam Mediating
the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, menyatakan bahwa
terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi peran gate keeping dari
institusi pers. Faktor-faktor itu adalah individual; rutinitas; organisasi;
ekstra media; dan ideologi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar