Rabu, 23 April 2014

PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM



DAFTAR ISI


DAFTAR ISI …………………………………………………………….…………………  1

BAB I ………………………………………………………………………….....................  2
PENDAHULUAN
1. LatarBelakang ……………………………………………………………………....  2
2. Pembahasan ................................................................................................................  2

BAB II ……………………………………………………………………………………....  4
PEMBAHASAN
1.Psikolkogi Pendidikan Islam ......................................................................................   4
2.Tujuaan Pendidikan Islam .........................................................................................   5
3. Aspek-aspek Psikologi Manusia ................................................................................  7
4. Ruang lingkup kajian Psikologi ................................................................................   8
5. Hubungan Psikologi pendidikan islam dengan Psikologi .......................................   9
6. Struktur Kepribadian Islam .....................................................................................  13
7. Manfaat Psikologi Pendidikan Terhadap Perkembangan Dan Keperibadian ....  17
BAB III ……………………………………………………………………….……………  19
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................     20












BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi fitrah yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifatullah di muka bumi dan juga abdi Allah untuk beribadah kepada-Nya. Manusia dengan berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa yang akan diembannya dapat terwujud.
Dalam literatur lain mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkepribadian muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, hakikat cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang.[1][1]
Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan psikologi. Pendidikan merupakan suatu proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam proses mengaktualisasi diri tersebut diperlukan pengetahuan tentang keberadaan potensi, situasi dan kondisi lingkungan yang tepat untuk mengaktualisasikannya. Pengetahuan tentang diri manusia dengan segenap permasalahannya akan dibicarakan dalam psikologi umum.
Dalam hal pendidikan Islam yang dibutuhkan psikologi Islami, karena manusia memiliki potensi luhur, yaitu fitrah dan ruh yang tidak terjamah dalam psikologi umum (Barat). Berdasarkan uraian diatas, maka sudah selayaknya dalam pendidikan Islam memiliki landasan psikologis yang berwawasan kepada Islam, dalam hal ini  dengan berpandu kepada al-Quran dan hadits sebagai sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insan kamil bahagia di dunia dan akhirat.
Sebenarnya, banyak sekali istilah untuk menyebutkan psikologi yang berwawasan kepada Islam. Diantara para psikolog ada yang menyebut dengan istilah psikologi Islam, psikologi al-Qur’an, psikologi Qur’ani, psikologi sufi dan nafsiologi. Namun pada dasarnya semua istilah tersebut memiliki makna yang sama.
Manusia sebagaimana mahluk lainnya memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya, maka dari itu kita di sebut sebagai makhluk sosial, begitu juga manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya.
Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya, begitu juga manusia tidak bisa lepas dari pendidikan, karena itu yang bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam masyarakat itu sendiri.
Ketiga aspek di atas tidak bisa terlepaskan dari satu salah satu cabang ilmu pengetahuan yaitu psikologi, karena pada hakikatnya merupakan ilmu yang tidak bisa terpisah-bisahkan, dan termasuk dari dari baigian ilmu itu sendiri, untuk mengetahui lebih lanjut, kami menyajikan pembahasan yang akan membahas tentang, sebuah relasi psikologi pendidikan islam dengan psikologi pada umumnya dan keperibadian manusia pada hususnya.

2. Pembahasan
Pengertian Hubungan Psikologi pendidikan islam





















BAB I
PEMBAHASAN

1.Psikolkogi Pendidikan Islam

Menurut  bahasa psikologi berasal dari perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan.  Karena itu psikologi sering diartikan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa. Menurut Branca yang dimaksud dengan psikologi adalah ilmu yang berbicara tentang tingkah laku manusia. Pendapat  ini juga didukung oleh Morgan  dkk.[2][2] Ernest Hilgert menyatakan “Psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and other the animal”etc.(Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya).[3][3]
Sedangkan pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung merupakan suatu proses atau segala macam aktivitas yang berusaha membimbing dan memberi suatu tauladan ideal yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi serta mempersiapkan bagi kehidupan dunia dan akhirat. Dalam hal ini Hasan Langgulung lebih memberikan gambaran yang jelas tentang arah dari pendidikan Islam tersebut yaitu mempersiapkan individu dalam menempuh kehidupan di dunia dan akhirat. [4][4]
Devinisi lain menyebutkan “Pendidikan Islam diartikan sebagai rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup seseorang yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam  kehidupan pribadinya sebagai makhluk individual dan sosial serta dalam hubungannya dengan alam sekitarnya dimana ia hidup. Proses tersebut senantiasa berada dalam  nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlaq al-karimah.[5][5] Ada pula yang memberikan pengertian bahwa Pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku dalam kehidupan, baik individu atau bermasyarakat serta berinteraksi dengan alam sekitar melalui proses kependidikan berlandaskan Islam.[6][6]
Terkait dengan teori pendidikan Islam, Ahmad Tafsir mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.[7][7]
Berdasarkan penjelasan tentang Psikologi dan pendidikan islam diatas dapat ditarik sebuah pengertian bahwa yang dimaksudkan dengan “Psikologi pendidikan islam adalah satu bagian kajian psikologi secara menyeluruh, yang membahas masalah-masalah kejiwaan yang berkaitan dengan pendidikan yang mendasarkan seluruh bangunan teori-teori dan konsep-konsepnya kepada Islam islam”. Pendidikan agama islam sanagat penting karena merupakan alternatif pemecahan masalah dalam kehidupan, dengan pendidikan islam manusia (umat islam) akan dapat menyelesaikan persoalaan yang berkaitan dengan jiwa dan kehidupan praktis mereka.Kekayaan, jabatan, kekuasaan dan segala bentuk kenikmatan duniawi, tidak menjadi jaminan bagi manusia untuk dapat menyelesaikan masalah dalam hidupnya.

2.Tujuaan Pendidikan Islam

Menurut Ahmad Tafsir merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu muslim yang sempurna dengan ciri-ciri :
1.      Memiliki jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan;
2.      Memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu menyelesaikan secara cepat dan tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan filosofis; memiliki dan mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan filsafat dan
3.      Memiliki hati yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati yang berkemampuan dengan alam gaib.
Dalam teori pendidikan Islam, dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan substansi pendidikan lainnya, seperti tentang sosok guru yang islami, proses pembelajaran dan penilaian yang islami, dan sebagainya. (selengkapnya lihat pemikiran Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam
Sejalan dengan itu pendapat Muhammad Amin dan Muhammad Qutb yang intinya tujuan pendidikan Islam melakukan pendekatan secara menyeluruh baik dimensi badan, akal, perasaan, kehendak, dan lain-lain untuk dibina dan dikembangkan secara serasi dan seimbang. Karena sesungguhnya potensi-potensi itu merupakan kekayaan dalam diri manusia yang sangat berharga. “Hakekat tujuan pendidikan Islam yang ingin dicapai adalah membina manusia agar mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifahnya.
Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur materi (jasmani) dan imateril (akal dan jiwa). Pembinaan akalnya akan menghasilkan ilmu, pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan kertampilan”. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwi dimensi dan satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman.
Sedangkan menurut Hasan Langgulung tujuan pendidikan Islam adalah tujuan dasar hidup manusia itu sendiri. Sebagaimana tersirat dalam firman Allah Swt., yang artinya “Tidaklah aku Menciptakan jindan Manusia kecuali agar mereka menyembahku “ ( Q.S 51-56 ). Sebab bagi Hasanlanggulung tugas pendidikan adalah memelihara kehidupan manusia.[8][8]
Dalam Al-qur'an disebutkan bahwa manusia menduduki posisi kholifah. dimuka bumi, seperti tercemin dalam firman Allah SWT., yang artinya : “ Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, Aku akan menciptakan kholifah di atasmuka bumi “.( Q.s. 2 : 30 ). Manusia akan mampu mempertahankan kekholifahannya hanya jika ia dibekali dengan potensi-potensi yang memperbolehkan berbuat demikian. Lalu Al-qur'an menegaskan ciri-ciri fitrah.[9][9]
Berkenaan dengan tujuan pendidikan Islam,  pada umumnya seseorang yang memiliki dasar-dasar pendidikan gama yang kuat akan mampu menyelesaikan persoalan hidup yang di hadapi dengan cara-cara yang bijak/baik, salah satunya adalah penyelesaiannya melalui solusi agama.Tetapi jika sebaliknya, maka pelariannya adalah pada hal-hal yang bersifat negatif.Untuk itu pendidikan agama bagi kebanyakan orang adalah alternatif yang sangat layak untuk dijadikan sebagai pandangan hidup (way of life).
Sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang mengrahkan kepada pembentukan manusia yang seutuhnya, berarti proses kependidikan yang harus dikelola oleh para pendidik harus berjalan di atas pola dasar  manusia dari fitrah yang telah dibentuk Allah dalam setiap pribadi manusia.[10][10]
Pola dasar ini mengandung potensi psikologis yang kompleks, karena di dalamnya terdapat aspek-aspek kemampuan dasar yang dapat dikembangkan secara dialektis-interaksional (saling mengacu dan mempengaruhi) untuk terbentuknya kepribadian yang serba utuh dan sempurna melalui arahan kependidikan. Salah satu  aspek potensial dari apa yang disebut  “fitrah” adalah kemampuan berfikir manusia dimana rasio atau intelegensia (kecerdasan) menjadi pusat perkembangannya.
Para pendidik muslim sejak dahulu menganggap bahwa kemampuan berpikir inilah yang menjadi kriterium (pembeda) yang esensial antara manusia dan mahkluk-makhluk lainnya. Disamping itu, kemampuan ini memiliki kapabilitas untuk berkembang seoptimal mungkin yang banyak bergantung pada daya guna proses kependidikan.
Dalam unsur ini Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkarya yang disebut potensialitas yang menurut pandangan Islam dinamakan “Fitrah”. Kata fitrah diambil dari kata fathara yang berarti mencipta. Sementara pakar menambahkan, fitrah adalah mencipta sesuatu pertama kali/tanpa ada contoh sebelumnya.






3. Aspek-aspek Psikologi Manusia

Aspek-aspek psikologis dalam fitrah manusia adalah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.anatara lain:
1.      Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan akademis dan keahlian dalam bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan Kognisi (daya cipta), Konasi (Kehendak) dan Emosi (rasa) yang disebut dalam psikologi filosifis dengan tiga kekuatan rohaniah manusia.
2.       Insting atau gharizah adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar. Kemampuan insting ini merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa belajar.
3.      Nafsu dan dorongan-dorongan. Dalam tasawuf dikenal nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong kearah perbuatan mencela dan merendahkan orang lain. Nafsu ammarah yang mendorong kea rah perbuatan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain. Nafsu berahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntutan akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut al-Ghazali, nafsu manusia terdiri dari nafsu malakiah yang cenderung ke arah perbuatan mulia sebagai halnya para malaikat, dan nafsu bahimiah yang mendorong ke arah perbuatan rendah sebagaimana binatang.
4.      Karakter adalah merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang. Karakter terbentuk oleh kekuatan dari dalam diri manusia, bukan terbentuk dari pengaruh luar
5.      Hereditas atau keturunan adalah merupakan factor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang terdekat maupun yang telah jauh.
6.      Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus diluar kesadaran akal pikiran, namun mengandung makna yang bersifat konstruktif bagi kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan Tuhan kepada orang yang bersih jiwanya.[11][11]
Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberikan kebebasan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut.
Namun demikian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak dapat lepas dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, hukum yang menguasai benda-benda maupun masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung pada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut dengan taqdir (Keharusan universal)
Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruh oleh faktor-faktor hereditas, lingkngan alam, lingkungan sosial, sejarah. Dalam ilmu-ilmu pendidikan ada 5 macam faktor yang menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan, yaitu:tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan lingkungan. Karena itulah maka minat, bakat, kemampuan (skill), sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang dicapai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut bermacam-macam.[12][12]

4. Ruang lingkup kajian Psikologi adalah sebagai berikut:

1.Psikologi Umum (psikologi yg memepelajari kegiatan atau aktivitas psikis manusia pada umumnya yg normal dan beradab).
2.Psikologi khusus (psikologi yang mempelajari segi-segi kekhususan aktivatas psikis manusia) macam-macamnya:
a. Psikologi Perkembangan Yaitu psikologi yang membicarakan perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai tua, yang mencakup:
a)    Psikologi anak (mencakup masa bayi)
b)   Psikologi puber dan adolesensi (psikologi pemuda)
c)    Psikologi orang tua
b. Psikologi sosial Yaitu psikologi yang khusus membicarakan tentang tingkah laku atau aktifitas-aktifitas manusia hubungannya dengan situasi sosial.
c.Psikologi pendidikan Yaitu psikologi yang menguraikan kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan . Misalnya, bagaimana dalam menarik perhatian agar dapat dengan mudah diterima oleh peserta didik.
d.Psikopatologi Yaitu psikologi yang khusus menguraikan mengenai keadaan psikis yang tidak normal (abnormal).
 e.Psikologi kepribadian dan tifologi Yaitu psikologi yang khusus menguraikan tentang struktur pribadi manusia, mengenai tipe-tipe kepribadian manusia.






5. Hubungan Psikologi pendidikan islam dengan Psikologi
Psikologi beserta sub-sub ilmunya,pada dasarnya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ilmu-ilmu lain dan bersifat timbal-balik. Psikologi memerlukan bantuan ilmu-ilmu lain dan sebaliknya ilmu-ilmu lain juga memerlukan bantuan psikologi sebagai salah satu contoh bagaimana Keterkaitan psikologi Pendidikan dengan psikologi keperibadian dimana guru tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai tenaga pendidik dengan baik tanpa memahami bagaimana psikologi anak didiknya.
Usaha untuk memperoleh pemahaman mengenai perilaku manusia (peserta didik) bukan hanya dimaksudkan untuk melampiaskan hasrat ingin tahu saja tetapi juga diharapkan bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Pengetahuan mengenai perilaku individu-individu beserta faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan terapan atau praktik seperti psikoterapi dan program-program bimbingan, latihan dan belajar yang efektif, juga melalui perubahan lingkungan psikologis sedemikian rupa agar individu-individu itu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki secara optimal.[13][13]
Interaksi yang terjadi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pendidikan merupakan interaksi di mana pihak pendidik berusaha mempengaruhi peserta didik agar peserta didik dapat berkembang secara optimal. Untuk mewujudkan keinginan tersebut pendidik harus membekali dirinya dengan seperangkat persyaratan, diantaranya adalah pemahaman mengenai perilaku manusia, baik tentang dirinya sendiri (self understanding) maupun orang lain, khususnya peserta didik (understanding the other).Tanpa disertai dengan pemahaman yang baik tentang perilaku manusia atau tepatnya kepribadian, akan sulit mewujudkan interaksi edukatif.
Banyak ahli yang telah merumuskan definisi kepribadian berdasarkan paradigma yang mereka yakini dan focus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Dengan demikian akan dijumpai banyak variasi definisi sebanyak ahli yang merumuskannya. Berikut ini dikemukakan beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam mempelajari kepribadian.
a. Gordon w. W allport
Pada mulanya Allport mendefinisikan kepribadian sebagai “What aman really is.” Tetapi definisi tersebut oleh Allport dipandang tidak memadai lalu dia merevisi definisi tersebut (Soemadi Suryabrata, 2005:240) Definisi yang kemudian dirumuskan oleh Allport adalah:“Personality is the dynamic organization within the individual ofthose psychophysical systems that determine his uniqueadjustments to his environment.[14][14]”
Pendapat Allport di atas bila diterjemahkan menjadi : Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
b. Krech Dan Crutchfield
David Krech dan Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunyayang berjudul Elelemnts of Psychology merumuskan definsi kepribadian sebagai berikut : “Personality is the integration of all of an individual’s characteristics into a unique organization thatdetermines, and is modified by, his attemps at adaption to hiscontinually changing environment.”(Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus)
c. Adolf heuken, s.j. Dkk
Adolf Heuken S.J. dkk. dalam bukunya yang berjudul Tantangan Membina Kepribadian menyatakan sebagai berikut. “Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Semuanya ini telah ditatanya dalam caranya yang khas di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya”.
Berdasarkan definisi dari Allport, Kretch dan Crut chfield, serta Heuken dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sebagai berikut.:Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari aspek psikis, seperti : inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita, dst. serta aspek fisik, seperti : bentuk tubuh, kesehatan jasmani, dst.· Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus-menerus, dan terwujudlah pola tingkah laku yang khas atau unik. Psikologi Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan,tetapi dalam perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap. Kepribadian terwujud berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh individu.[15][15]
Dalam profesi bimbingan dan konseling, khususnya di sekolah, pemahaman mengenai perilaku manusia melalui psikologi kepribadian merupakan kebutuhan yang tidak disa diabaikan. Pemahaman kepribadian diperlukan oleh pendidik atau konselor untuk :
1.Acuan dalam mengembangkan kepribadiannya agar mengarah kepada kepribadian pendidik atau konselor ideal;
 2. Mempermudah dalam mengenal karakteristik peserta didik;
 3. Acuan dalam pengembangan berbagai potensi peserta didik;
 4. Acuan dalam mengambil tindakan preventif;
 5. Acuan dalam membimbing peserta didik ke arah kedewaan;
 6. Menghindari terjadinya konflik antara guru / konselor dengan peserta didik / klien.
Psikologi menempati peringkat teratas dalam dunia pendidikan. Dengan menguasai psikologi, seorang guru dapat lebih bijak dalam menyalurkan ilmu pengetahuan terhadap anak didiknya. Disamping guru mendidik jasmani, guru juga dituntut untuk mendidik rohaninya. Dengan demikian jiwa anak didik akan lebih sempurna dalam menuntut ilmu, dan guru lebih bias memfokuskan dan menilai setiap anak didik,mana yang konsentrasi dalam belajar dan yang tidak.[16][16]
Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.[17][17] Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.[18][18]
 Kepribadian seorang Muslim berarti adalah keperibadian yang menuntut agar jiwanya selalu hidup dengan nur ilahi. Inilah yang membedakan antara kepribadian menurut konsep Islam dengan yang lainnya. Kepribadian Islam merupakan ciri khas, watak maupun karakter umat Islam.” Kepribadian Muslim atau sering disebut akhlak Islami yaitu prilaku seorang Muslim yang merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal dan fitrah insan”i.
Kepribadian bagi seorang Muslim ialah yang senantiasa menjaga hatinya untuk selalu taat kepada Allah dan berbahagia karena dekat kepada Allah sehingga memperoleh sinarnya dengan  senantiasa mengerjakan ibadah dan amal saleh lainya..sedangkan hati yang kotor dan ingkar kepada Allah yang muncul dari anggota badanya adalah sifat keji ,  hati yang kotor dan gelap tanpa sinar.[19][19] 
Dalam hal ini Hasan al Basri berkata : Kebagusan Akhlak ialah manis mukanya, memberi kelebihan dan mencegah kesakitan. Sedang Al Washili berkata akhlak yang baik ialah menyenangkan manusia pada waktu suka dan duka. Dan Sahal al Tsauri berkata akhlak yang baik ialah sekurang-kurangnya menanggung penderitaan orang lain, tidak membalas kezaliman orang lain, memintakan ampunan kepada Allah terhadap orang yang berbuat zalim dan belas kasih kepadanya.
 Substansi nafsani/diri keperibadian memiliki tiga daya yaitu (1) kalbu atau fitrah ilahiyah, akal atau fitrah insani dan nafsu atau fitrah hayawaniah. Kepribadian pada dasarnya merupakan perpaduan antara ketiga daya tersebut, hanya saja biasanya ada salah satu diantaranya yang mendominasi yang lain.[20][20]
 Al Kindi mendefinisikan jiwa adalah annafs nathiqah substansinya bersifat ilahi rabbani yang berasal dari cahaya (nur) sang pencipta.[21][21] Oleh karena itu jiwa atau hati harus senantiasa dihidupkan dengan cahaya ilahi. Dalam Islam hati yang hidup adalah sumber kebaikan dan kematian hati adalah sumber keburukan. Akar semua kebaikan dan kebahagiaan seorang hamba adalah kesempurnaan hidup dan cahayanya. Hati yang sehat dan hidup akan bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan.[22][22]
Jika dilihat dari definisi - definisi tersebut maka menurut pendapat penulis maka hal-hal seperti tersebut adalah buah dari akhlak karena akhlak itu sendiri adalah system kerja rohani yang terdapat dalam jiwa manusia.[23][23]
Kadang-kadang dalam kondisi tertentu terjadi perubahan tingkah laku. Hal ini disebabkan karena salah satu substansi jiwa mendominasi yang lainnya. Jika dalam interaksi seseorang didominasi oleh nafsu maka yang muncul ialah sifat pendusta, egois, bakhil, suka mengancau dan amarah. Hal ini dalam psikologi Islam dinamakan jiwa yang sedang sakit. Tetapi apabila yang mendominasi akal dan kalbu maka yang muncul adalah sifat-sifat terpuji dan ma’rifat kepada Allah, inilah yang akan mendatangkan kebahagiaan.[24][24]
Hasil kerja kalbu atau kepribadian yang didominasi dengan kalbu akan menghasilkan kepribadian mutmainah wujudnya kepribadian atas dasar iman, Islam, dan ikhsan. Sedangkan kepribadian yang didominasi dengan akal akan menghasilkan kepribadian lawwamah, suatu kepribadian yang berdasarkan sosial moral dan rasional.
Dan kepribadian yang didominasi oleh nafsu menghasilkan kepribadian amarah, ia bersifat produktif, kreatif dan konsumtif.[25][25] Oleh karena itu kepribadian ada yang menarik dan ada yang tercela. Kepribadian yang menarik ialah kepribadian yang memiliki sifat-sifat positif seperti rajin, sabar, pemurah dan suka menolong. Sedangkan kepribadian yang tercela yaitu kepribadian yang negatif seperti pemalas, pemarah, kikir, sombong dan sebagainya.











6. Struktur Kepribadian Islam

Wacana psikologi Islam tentang struktur dan kepribadian sangat erat pembahasannya dengan substansi manusia. Substansi jiwa menurut para filosof maupun psikolog Islam terdiri atas tiga bagian yaitu jasmani, rohani dan nafsani atau nafsu. Substansi jasmani berupa organisme fisik manusia ia lebih sempurna dibanding makhluk-makhluk yang lain bersifat lahiriyah yang memiliki unsur-unsur  tanah, udara, api, dan air.[26][26]  ia akan hidup jika diberi daya hidup atau al bayah.[27][27]
Substansi ruh adalah substansi yang merupakan kesempurnaan awal. Al Gazali menyebutnya lathifah yang halus dan bersifat ruhani. Ruh sudah ada ketika tubuh belum ada dan tetap ada meskipun jasadnya telah mati. Fathur Rahman menyatakan bahwa ruh adalah amanah, karena itu ia memiliki keunikan dibanding dengan makhluk yang lain.
Dengan amanah inilah ia menjadi kalifah di muka bumi.[28][28] Substansi nafsani berarti jiwa, nyawa atau ruh, konotasinya ialah kepribadian dan substansi psiko fisik manusia. Nafs ini merupakan gabungan dari jasad dan ruh. Karena itu nafs adalah potensi jasadi dan rohani. Ia berupa potensi aktualisasinya akan membentuk suatu kepribadian Muslim yaitu merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal dan nafsani.
Struktur kepribadian Islam merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal, dan nafsani ;
1.      Al Qalb atau kalbu
Merupakan materi organik yang memiliki system kognisi yang berdaya emosi. Al Gazali menyatakan bahwa kalbu memiliki insting yang disebut al nur al ilahy dan al bashirah al bathinah (mata batin).[29][29] Kalbu dalam arti jasmani adalah jantung (heart) bukan hati (lever).
Kalbu dalam artian rohani ialah menunjukan kepada hati nurani (conscience) dan ruh (soul).[30][30] Kalbu ini berfungsi sebagai pemandu, pengontrol dan pengendali struktur nafs yang lain. Apabila kalbu ini berfungsi normal maka manusia menjadi baik sesuai dengan fitrah aslinya. Karena kalbu memiliki nature ilahiyah yang dipancarkan dari Tuhan. Ia tidak saja mampu mengenal fisik dan lingkungannya tetapi juga mampu mengenal lingkungan spiritual ketuhanan dan keagamaan



Mengenai kalbu ini Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak pula, ingatlah bahwa ia adalah kalbu” [31][31]
Menurut Huzaifah, hati terbagi menjadi empat yaitu hati yang bersih, yaitu (1) hatinya orang beriman dan mendapat sinar (2) hati yang tertutup yaitu hatinya orang kafir, hati yang buta dan tidak melihat kebenaran (3) hati yang terjungkir yaitu hatinya orang munafik yaitu melihat kebenaran tetapi kemudian mengingkarinya (4) hati yang memiliki dua bekal yakni bekal iman dan bekal kemunafikan, ia tergantung dari mana yang paling dominan.[32][32]
Orang yang kalbunya disinari Tuhan maka ia akan memiliki kepribadian yang kuat, teguh dan tidak mudah putus asa. Dan apabila ia memiliki nafsu muthmainah ia akan tenang dan optimis karena ia yakin rahmat Tuhan  pasti akan diberikan. Agar kalbu selalu mandapat sinar Ilahiyah menurut imam Al Gazali maka harus berilmu dan iradah (kemauan). Dengan ilmu manusia akan mengetahui segala urusan dunia dan akhirat, dan menurut al Gazali kalbu berfungsi untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Secara psikologis kalbu memiliki daya emosi (al infialy) dan kognisi.

2.      Akal
Secara estimologi memiliki arti al-imsak (menahan) al Ribath (ikatan) al Bajr (menahan) al Naby (melarang) dan manin (mencegah).[33][33]
Berdasarkan makna ini maka yang disebut orang berakal adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat maka rasionalitinya mampu bereksistensi. Dengan akal seseorang mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang menguntungkan dan merugikan. Akal mampu memperoleh pengetahuan dengan daya nalar (al Nazhr) dan daya argumentatif. Melalui akal manusia bisa bermuhasabah yakni menunda keinginan tidak terburu-buru mengerjakannya sehingga menjadi jelas olehnya kelayakannya untuk dikerjakan atau ditinggalkan.
Menurut al Hasan jika pekerjaan tersebut dimotivasi untuk mengharap ridho Allah maka kerjakanlah, tetapi jika tidak karena Allah lebih baik ditunda dahulu. Dan jika motivasinya untuk memperoleh ridha Allah maka harus berfikir dahulu apakah dalam mengerjakan sesuatu itu ia memperoleh pertolongan atau tidak, jika tidak sebaiknya ditunda terlebih dahulu.
Dan apabila sudah mendapat kepastian akan pertolongan Allah maka kerjakanlah sehingga ia akan mendapat keberuntungan. Muhasabah juga bisa dilakukan setelah selesai mengerjakan sesuatu, yakni apakah yang dikerjakan sudah ikhlas karena Allah, sesuai dengan ketentuan Allah. Apakah waktu mengerjakan lepas kendali atau tidak, bagus akibatnya atau tidak. Dengan muhasabah orang akan selamat dan bisa menjadi lebih baik perilkunya dan kepribadiannya.
Sebagaimana Plato, Al Zukhaily berpendapat bahwa jiwa rasional itu bertempat di kepala sehingga yang berfikir adalah akal bukan kalbu. Antara akal dan kalbu sama sama memperoleh daya kognisi tetapi cara dan hasilnya berbeda. Akal mampu mencapai pengetahuan rasional tetapi tidak yang supra rasional, sehingga ia mampu mencapai kebenaran tetapi tidak mampu merasakan hakekatnya.[34][34] Menurut Al Gazali agar manusia dapat senantiasa berdekatan dan mendapat nur ilahy maka ia harus berilmu dan mempunyai iradah (kemauan).
Dengan ilmu seseorang akan mengetahui segala urusan dunia dan akhirat serta segala sesuatu yang berhubungan dengan akal. Dengan kemauan dan akal seseorang akan mengetahui cara-cara untuk memperbaiki serta mencari sebab sebab yang berhubungan dengan hal itu. Al Gazali berpendapat bahwa orang yang sakit nafsunya selalu menginginkan makanan yang enak.[35][35]
Hal ini memberi pengertian kepada kita bahwa jika orang tersebut sehat maka secara akal berarti semua makanan asalkan sehat dan halal dan toyyiban pasti akan terasa enak (lezat). Dengan demikian nafsu untuk selalu menginginkan hal hal yang enak enak akan dapat dikurangi atau dilawan dengan kondisi sehat. Al Gazali juga berpendapat bahwa ilmu yang diperoleh dalam hati akan memiliki kekuatan untuk melihat dan dapat membedakan aneka bentuk. Pandangan batin dan pandangan lahir sesungguhnya sama sama memiliki kebenaran, tetapi berbeda derajatnya.
Hati laksana pengendara sedang akal laksana kendaraan. Buruknya hati atau pengendara akan lebih membahayakn dari pada buruknya kendaraan itu sendiri. Namun demikian akal tetap diperlukan untuk menyelesaikan problem-problem kehidupan. Akal yang sehat akan mempengaruhi tindakan dan emosi seseorang juga kepribadiannya.
Akal terbagi menjadi dua yaitu akal dharuri dan akal muktasabah. dharuri yaitu akal yang dapat mengetahui secara mudah. Akal muktasabah ialah akal yang baru mengetahui dengan cara diusahakan, akal muktasabah terbagi dua yaknu muktasabah duniawi ialah akal yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan keduniawiyan. Akal muktasabah ukhrawi yakni akal yang digunakan untuk mencapai akhirat. [36][36]
Secara psikologis orang-orang yang memiliki jiwa yang bersih dan akal yang sempurna maka ia akan mampu mengaktualisasikan diri dalam hidup dan kehidupan, yakni melihat realitas secara cermat, tepat apa adanya dan lebih efisien.[37][37] Ia dapat menerima keadaan dirinya dan orang lain secara professional, yakni mengakui segala kelebihan dan keterbatasan masing-masing, dengan demikian ia akan bisa menerima masukan-masukan dari orang lain secara alamiah tanpa paksaan[38][38]



3.      Nafsani
Nafsu merupakan daya nafsani, ia memiliki dua kekuatan yaitu, al-Ghadhabiyah dan al-Syahwaniyah. Al-Ghadhabiyah adalah suatu daya  yang berpotensi untuk menghindari segala hal yang membahayakan. Ghadab dalam psikoanalisa disebut defenci (pertahanan, pembelaan dan penjagaan), yaitu suatu tindakan untuk melindungi egonya sendiri terhadap kesalahan, kecemasan, dan rasa malu atas perbuatannya sendiri, sedang syahwat dalam psikologi disebut appetite yaitu hasrat atau keinginan atau hawa nafsu, prinsipnya adalah kenikmatan.
Apabila keinginannya tidak dipenuhi maka terjadilah ketegangan, prinsip kerjanya adalah sama dengan prinsip kerja binatang, baik binatang buas yang suka menyerang maupun binatang jinak yang cenderung pada nafsu seksual. Nafsu merupakan struktur di bawah sadar dalam kepribadian manusia, apabila manusia didominasi oleh nafsunya, maka ia tidak akan dapat bereksistensi baik di dunia maupun diakhirat. Karena itu apabila kepribadian seseorang didomonasi oleh nafsu maka prinsip kerjanya adalah mengejar kenikmatan dunia, tetapi apabila nafsu tersebut dibimbing oleh kalbu cahaya ilahi maka ghadabnya akan berubah menjadi kemampuan yang tinggi derajatnya.[39][39]
Jika nafsu tersebut dikuasai oleh cahaya ilahi yang muncul adalah sifat-sifat kebaikan, tetapi jika nafsu itu dikuasai oleh syaitan maka yang muncul adala sifat-sifat syaitaniyah dan ini disebut hati yang sakit ,hati yang  sakit bisa sembu apabila ia kembali kepada cahaya ilahi tetapi akan lebih sakit apabila ia dikuasai oleh nafsu syaitan.
Dalam ilmu jiwa orang yang terganggu mentalnya tidaklah mudah diukur atau diperiksa dengan alat-alat kesehatan, untuk mengetahuinya biasanya hanya bisa dilihat gejalanya seperti tindakannya, tingkah laku dan pikirannya, seperti gelisah, iri hati, sedih yang tidak beralasan, hilangnya rasa kepercayaan diri, pemarah, keras kepala, merosot kecedasannya, suka memfitnah, mengganggu orang lain dan sebagainya.
Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap kesehatan badan, akhir-akhir ini dalam ilmu kedokteran ditemukan istilah psychomtic yaitu penyakit yang disebabkan oleh mental, misalnya tekanan darah tinggi, tekanan darh rendah, exceem, sesak nafas, dan sebagainya.[40][40]  Obat dari berbagai penyakit mental dan yang disebabkan oleh mental adalah berfungsinya system kerja yang harmonis antara kalbu, akal, dan nafsu. Dan ini hanya bisa dilakukan melalui latihan-latihan kejiwaan secara terus menerus.
Harmonisnya jiwa memungkinkan seseorang dapat berhubungan secara harmonis ditengah masyarakat. Untuk itu diperlukan The Art of Interction yaitu seni berhubungan yang baik menuju akhlak yang baik, sebagai landasan utama kebahagian umat, akhlak yang baik juga merupakan faktor utama dalam memperbaiki kepribadian seseorang.[41][41] Dalam ilmu tasawuf jiwa yang bersih dan jiwa kotor termasuk dalam katagori nafsu. Dan mereka membagi nafsu menjadi 3 bagian :

1. Nafsu amarah, ia senantiasa cenderung maksiat, baik maksiat lahir maupun maksiat bathin. Orang yang didominasi oleh nafsu amarah maka wujud kepribadiannya ialah tamak, serakah, keras kepala, angkuh, dan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji lainnya seperti free sexs, suka berkelahi dan sebagainya.
2. Nafsu lawamah, ia sudah mendapat nur ilahi dan suka beribadah tetapi masih sering melakukan maksiat bathin kemudian bersegera beristighfar dan berusaha memperbaikinya. Orang yang berkepribadian lawamah maka senantiasa akan mengevaluasi diri (self correction) untuk menjadi lebih baik.
3. Nafsu muthmainah, suatu kepribadian yang bersumber dari kalbu manusia, di dalamnya selalu terhindar dari sifat-sifat yang tercela dan tumbuh sifat-sifat yang terpuji dan selalu tenang. Kecenderungannya ialah beribadah, mencintai sesama, bertambah tawakal, dan mencari ridho Allah dan bersifat teosentris. Menurut Ibnu Kholdum bahwa ruh kalbu itu disinggahi oleh ruh akal. Ruh akal ini substansinya mampu mengetahui apa saja di alam amar. Ia menjadi tidak mampu mencapai pengetahuan disebabkan adanya hijab, apabila hijab itu hilang maka ia akan mampu menemukan pengetahuan.[42][42] Bahkan sebagian ahli tasawuf yang lain membagi nafsu menjadi 7 bagian, yaitu : nafsu amarah, nafsu lawamah, nafsu malhamah, nafsu muthmainah, nafsu al rodhiyah, nafsu mardhiyah, dan nafsu kamilah.

7. Manfaat Psikologi Pendidikan Terhadap Perkembangan Dan Keperibadian

Ilmu pendidikan sebagai suatu disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati, pendidikan tidak akan pernah berhasil dengan baik bila tidak berdasarkan kepada psikologi perkembangan, demikian pula watak dan kepribadian seseorang. Rober menyebut psikologi pendidikan sebagai sub disiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan memiliki kegunaan dalam hal-hal sebagai berikut.[43][43]
a. Perkembangan jiwa peserta didik yang diikuti dengan memberikan didikan psikologi pendidikan islam yang memadai akan dapat melahirkan peserta didik yang memiliki keperibadian yang jauh lebih baik dari sekedar menanamkan pendidikan biasa 
b.Tenaga pendidik dapat melakukan usaha dalam upaya Pengembangan dan pembaruan kurikulum pembelajaran
c. Sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif
d. Penyelenggaraan pendidikan keguruan
Menurut Rifai  Achmad dan Tri Anni, Catharina Psikologi pendidikan bermanfaat untuk:
a)      Membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b)      Membantu pendidik dalam memahami karakteristik peserta didik.
c)      Memahami proses belajar peserta didik.
d)     Memilih dan menggunakan berbagai strategi dalam pembelajaran.
e)      Membantu pendidik untuk melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar atau perolehan hasil belajar yang telah dicapai peserta didik.[44][44]





























BAB III
KESIMPULAN
           
            Psikologi pendidikan islam adalah satu bagian kajian psikologi secara menyeluruh, yang membahas masalah-masalah kejiwaan yang berkaitan dengan pendidikan yang mendasarkan seluruh bangunan teori-teori dan konsep-konsepnya kepada Islam islam”
Aspek-aspek psikologis dalam fitrah manusia adalah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.anatara lain:
1.      Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan akademis dan keahlian dalam bidang kehidupan.
2.      Insting atau gharizah adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar.
3.      Nafsu dan dorongan-dorongan. Dalam tasawuf dikenal nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong kearah perbuatan mencela dan merendahkan orang lain. Nafsu ammarah yang mendorong kea rah perbuatan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain. Nafsu berahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntutan akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4.      Karakter adalah merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang.
5.      Hereditas atau keturunan adalah merupakan factor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang terdekat maupun yang telah jauh.
6.      Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan.
Kepribadian atau watak, ciri khas atau karakter seseorang yang secara eksis dan terus menerus dipertahankan, meskipun demikian kepribadian bisa berubah ubah sesuai dengan faktor yang mempengaruhi. Dalam Islam kepribadian Muslim identik dengan akhlak Islam, ia merupakan perpaduan harmonis antara system kalbu, akal dan nafsu yang menimbulkan tingkah laku dan merupakan ciri khas umat Islam. Karena itu ciri khas kepribadian Muslim ialah yang selalu menjaga hatinya untuk taat kepada Allah sehingga senantiasa mendapat sinarnya dan menjauhi segala larangannya yang merupakan kotoran-kotoran manusia.
Struktur kepribadian Muslim meliputi tiga substansi, yaitu jasad atau jasmani, ruh atau ruhani dan nafsani atau jiwa, jiwa itu sendiri terdiri dari kalbu, akal dan nafsu. Sedangkan nafsu terdiri dari nafsu amarah, lawamah dan muthmainah. Semuanya ini merupakan struktur kepribadian Islam, yang jika system kerjanya bagus semua akan membentuk kepribadian kamil atau manusia paripurna yang tenang, selalu berbuat kebaikan, tawakal dan terhindar dari sifat sifat tercela.

DAFTAR PUSTAKA

A.Arifin filsafat Pendidikan islam, jakarta:Bumi Aksara 2004
Adolf S.J Heuken,. Tantangan Membina Kepribadian PedomanMengenal Diri. Yogyakarta.Kanisius 1979,
Alex Sobur, , Psikologi Umum, Bandung:Pustaka setia, 2003
Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991
Branca Psychology: The science of Behavio r 1964
Dirgagunarsa Singgih, Pengantar Psikologi. Jakarta : BPK Gunung Mulia. 1978
Ernest Hilgert Introduction to Psychology 1957
H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, 1998
  http://www.perkuliahan.com/apa-pengertian-pendidikan-islam diakses 20/10/2012 http/ciebad wordpress/keterkaitan psikologi umum dan psikologi perkembangan diakses 20/10/2012
Langgulung Hasan, Manusia dan Pendididikan Suatu Analisa Psikologi dan         Pendidikan, Jakarta : Pustaka  Al-Husna, 1992
Koeswara, E. Teori-teori Kepribadian. Bandung:Eresco,2001
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam Jakarta:PT Bumi Aksara, 2000 Pustaka  Al-Husna, 1992
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakrya, 2002
M. Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani,Irfani, dan dan Burhani Yogyakarta: Mikraj, 2005
Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press 2009


[45][1] H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam,(1998), 54.
[46][2] Branca Psychology: The science of Behavio r (1964)
[47][3] Ernest Hilgert Introduction to Psychology (1957)
[49][5] A.Arifin filsafat Pendidikan islam, ( jakarta:2004),27
[50][6] M. Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani,Irfani, dan Burhani (Yogyakarta: Mikraj, 2005), 55.
[51][7] Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. (Bandung: Rosda Karya, 1992),
[52][8] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendididikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan,( Jakarta : Pustaka  Al-Husna, 1992 ), 33.
[53][9] Kata Kholifah di ambil dari kata Khalafa yang berarti mengganti / mengikat. Jadi kholifah adalah
seorang  yang  menggantikan  orang  lain. Berkenaan dengan siapa mengganti siapa, disini ada tigapendapat. Pertama, mengatakan bahwa umat manusia sebagai makhluk menggantikan makhluk yang lain dapat yang telah menempati bumi ini. Kedua, bahwa kata kholifah hanya berarti setiap kumpulan yang lain dapat mengganti kumpulan lain. Ketiga, kholifah bukan sekedar seorangmengganti orang lain, akan tetapi manusia adalah sebagai wakil Allah, hasan Langgulung, teoriteoriKesehatan Mental, ( Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1986 ), 42.
[54][10] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2003), 16
[55][11] Arifin M, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 103.
[56][12] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakrya, 2002) , 19.
[57][13] Koeswara, E. Teori-teori Kepribadian.(Bandung:Eresco,2001), 4-5
[58][14] Singgih.Dirgagunarsa, Pengantar Psikologi. (Jakarta : BPK Gunung Mulia. 1978), 11.
[59][15] Heuken, Adolf S.J. Tantangan Membina Kepribadian : PedomanMengenal Diri. (Yogyakarta.Kanisius (1979),  10.
[60][16] http/ciebad wordpress/keterkaitan psikologi umum dan psikologi perkembangan diakses 20/10/2012
[61][17] Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 359
[62][18] Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 186
[63][19] Imam al Gazali, Ihya Ulumuddin, Bab Keajaiban Hati, terj. H. Ismail Yakub, Jakarta, Faisan, 1984, hlm.5
[64][20] Abdul Mujib, M.Ag dan Yusuf Mudzakir, M.Si, Nuansa Nuansa Psikologi Islam.., hlm. 59
[65][21] Al Kindi, Al Qaul fi an Nafs dalam Risail al Kindi al Falasifa, hlm. 274
[66][22] Ibnu Qoyyim al Jauriah, Keajaiban Hati, Jakarta, Pustaka Ahzam, 2000, hlm. 35
[67][23] Ibid.., hlm. 142
[68][24] Abdul Mujib, M.Ag dan Yusuf Mudzakir, M.Si, Nuansa Nuansa Psikologi Islam…, hlm. 57
[69][25] Ibid.., hlm. 62
[70][26] Lihat. De Bali Tj, The History of The Philosophy in Islam, New York, Dowh Publication Inc, 1967,  131
[71][27] Abdul Mujib, M.Ag, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filasofik Kerangka Dasar Operasio nalisa sinya , Bandung, Tri Genda Karya, 1993, 11
[72][28] Abdul Mujib, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam..,  41-45
[73][29] Victor Said Basil, Manhaj al Babs an al Ma’rifah inda al Gazali, Beirut, Dar al Kutub, 155
[74][30] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta , Pustaka Pelajar, 1997, 78
[75][31] Ibn Abd Allah Muhammad Ibn Ismail Ibn al Mughirah Ibn Bardhahal al ya’fi al Bukhary, Imam, Shahih al Bukhary, Semarang, Thaha Putra, TT, Juz I, 19
[76][32] Ibnu Qoyyim al Jauriyah.., 22
[77][33] Maan Zidadat, dkk, al Mansu’at al Falasafiyah al Arabiyah, Arab, Imam al Araby, 1986, 465-466
[78][34] Abdul Mujib, Nuansa Nuansa Psiokologi Islami..., 55
[79][35] Imam al Gazali, Ihya Ulumuddin,Bab Keajaiban Hati..,. 20
[80][36] Ibid.., 42.
[81][37] Maslaw, Abraham, Motivasi dan Kepribadian, terj Nurul Iman, Bandung, Pustaka Binaan Pressindo, 1993, jilid I, 6
[82][38] asyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, Telaah atas Pemikiran Psikologi Humanistik Abraham Maslaw, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, 88.
[83][39] Afifi, AE, Filsafat Mistik Ibnu Arabi, terj Syahrir Mawi dan Nandi Rahman, judul: A Mystical Philosophy of Muhyidin Ibnu Arabi, Jakarta, Media Pratama, 1995,176-177
[84][40] Zakiah Derajat Dr. Kesehatan Mental, Jakarta, Gunung Agung , 1970, hlm. 23
[85][41] Sayyid Mujtaba Musafi Hari, Psikologi Islam, Bandung, Pustaka Hidayah, 1990, hlm. 17
[86][42] Lihat Abd Rahman Ibn Kholdum, Muqaddimah min Kitab al Ibar wa Diwan al Mubtada’ wa al Khabar fi Ayyam al Arab wa al Ajam wa al Bar bar, Beirut, Dar al Fikr, TT, hlm. 476
[87][43] Alex Sobur, , Psikologi Umum, ( Bandung:Pustaka setia, 2003),  42.
[88][44] Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. Psikologi Pendidikan. (Semarang: Unnes Press2009),43.



[1][1] H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam,(1998), 54.


[2][2] Branca Psychology: The science of Behavio r (1964)
[3][3] Ernest Hilgert Introduction to Psychology (1957)
[5][5] A.Arifin filsafat Pendidikan islam, ( jakarta:2004),27
[6][6] M. Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani,Irfani, dan Burhani (Yogyakarta: Mikraj, 2005), 55.
[7][7] Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. (Bandung: Rosda Karya, 1992),
[8][8] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendididikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan,( Jakarta : Pustaka  Al-Husna, 1992 ), 33.
[9][9] Kata Kholifah di ambil dari kata Khalafa yang berarti mengganti / mengikat. Jadi kholifah adalah
seorang  yang  menggantikan  orang  lain. Berkenaan dengan siapa mengganti siapa, disini ada tigapendapat. Pertama, mengatakan bahwa umat manusia sebagai makhluk menggantikan makhluk yang lain dapat yang telah menempati bumi ini. Kedua, bahwa kata kholifah hanya berarti setiap kumpulan yang lain dapat mengganti kumpulan lain. Ketiga, kholifah bukan sekedar seorangmengganti orang lain, akan tetapi manusia adalah sebagai wakil Allah, hasan Langgulung, teoriteoriKesehatan Mental, ( Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1986 ), 42.
[10][10] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2003), 16
[11][11] Arifin M, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 103.
[12][12] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakrya, 2002) , 19.
[13][13] Koeswara, E. Teori-teori Kepribadian.(Bandung:Eresco,2001), 4-5
[14][14] Singgih.Dirgagunarsa, Pengantar Psikologi. (Jakarta : BPK Gunung Mulia. 1978), 11.
[15][15] Heuken, Adolf S.J. Tantangan Membina Kepribadian : PedomanMengenal Diri. (Yogyakarta.Kanisius (1979),  10.
[16][16] http/ciebad wordpress/keterkaitan psikologi umum dan psikologi perkembangan diakses 20/10/2012
[17][17] Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 359
[18][18] Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 186
[19][19] Imam al Gazali, Ihya Ulumuddin, Bab Keajaiban Hati, terj. H. Ismail Yakub, Jakarta, Faisan, 1984, hlm.5
[20][20] Abdul Mujib, M.Ag dan Yusuf Mudzakir, M.Si, Nuansa Nuansa Psikologi Islam.., hlm. 59
[21][21] Al Kindi, Al Qaul fi an Nafs dalam Risail al Kindi al Falasifa, hlm. 274
[22][22] Ibnu Qoyyim al Jauriah, Keajaiban Hati, Jakarta, Pustaka Ahzam, 2000, hlm. 35
[23][23] Ibid.., hlm. 142
[24][24] Abdul Mujib, M.Ag dan Yusuf Mudzakir, M.Si, Nuansa Nuansa Psikologi Islam…, hlm. 57
[25][25] Ibid.., hlm. 62
[26][26] Lihat. De Bali Tj, The History of The Philosophy in Islam, New York, Dowh Publication Inc, 1967,  131
[27][27] Abdul Mujib, M.Ag, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filasofik Kerangka Dasar Operasio nalisa sinya , Bandung, Tri Genda Karya, 1993, 11
[28][28] Abdul Mujib, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam..,  41-45
[29][29] Victor Said Basil, Manhaj al Babs an al Ma’rifah inda al Gazali, Beirut, Dar al Kutub, 155
[30][30] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta , Pustaka Pelajar, 1997, 78
[31][31] Ibn Abd Allah Muhammad Ibn Ismail Ibn al Mughirah Ibn Bardhahal al ya’fi al Bukhary, Imam, Shahih al Bukhary, Semarang, Thaha Putra, TT, Juz I, 19
[32][32] Ibnu Qoyyim al Jauriyah.., 22
[33][33] Maan Zidadat, dkk, al Mansu’at al Falasafiyah al Arabiyah, Arab, Imam al Araby, 1986, 465-466
[34][34] Abdul Mujib, Nuansa Nuansa Psiokologi Islami..., 55
[35][35] Imam al Gazali, Ihya Ulumuddin,Bab Keajaiban Hati..,. 20
[36][36] Ibid.., 42.
[37][37] Maslaw, Abraham, Motivasi dan Kepribadian, terj Nurul Iman, Bandung, Pustaka Binaan Pressindo, 1993, jilid I, 6
[38][38] asyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, Telaah atas Pemikiran Psikologi Humanistik Abraham Maslaw, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, 88.
[39][39] Afifi, AE, Filsafat Mistik Ibnu Arabi, terj Syahrir Mawi dan Nandi Rahman, judul: A Mystical Philosophy of Muhyidin Ibnu Arabi, Jakarta, Media Pratama, 1995,176-177
[40][40] Zakiah Derajat Dr. Kesehatan Mental, Jakarta, Gunung Agung , 1970, hlm. 23
[41][41] Sayyid Mujtaba Musafi Hari, Psikologi Islam, Bandung, Pustaka Hidayah, 1990, hlm. 17
[42][42] Lihat Abd Rahman Ibn Kholdum, Muqaddimah min Kitab al Ibar wa Diwan al Mubtada’ wa al Khabar fi Ayyam al Arab wa al Ajam wa al Bar bar, Beirut, Dar al Fikr, TT, hlm. 476
[43][43] Alex Sobur, , Psikologi Umum, ( Bandung:Pustaka setia, 2003),  42.
[44][44] Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. Psikologi Pendidikan. (Semarang: Unnes Press2009),43.































http://idharmuslim.blogspot.com/2013/01/psikologi-pendidikan-islam-dan.html












Tidak ada komentar:

Posting Komentar