DAFTAR
ISI
DAFTAR
ISI …………………………………………………………….………………… 1
BAB
I …………………………………………………………………………..................... 2
PENDAHULUAN
1.
LatarBelakang …………………………………………………………………….... 2
2. Pembahasan ................................................................................................................ 2
BAB
II …………………………………………………………………………………….... 4
PEMBAHASAN
1.Psikolkogi Pendidikan Islam
...................................................................................... 4
2.Tujuaan
Pendidikan Islam
......................................................................................... 5
3. Aspek-aspek
Psikologi Manusia ................................................................................ 7
4. Ruang
lingkup kajian Psikologi
................................................................................ 8
5. Hubungan
Psikologi pendidikan islam dengan Psikologi ....................................... 9
6. Struktur
Kepribadian Islam
..................................................................................... 13
7. Manfaat
Psikologi Pendidikan Terhadap Perkembangan Dan Keperibadian .... 17
BAB
III ……………………………………………………………………….…………… 19
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
..........................................................................................................
20
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Manusia
merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi fitrah
yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar
manusia dapat mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifatullah di
muka bumi dan juga abdi Allah untuk beribadah kepada-Nya. Manusia dengan
berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa
yang akan diembannya dapat terwujud.
Dalam literatur
lain mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang
berkepribadian muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala
amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, hakikat
cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan
berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang.[1][1]
Pendidikan
memiliki hubungan yang sangat erat dengan psikologi. Pendidikan merupakan suatu
proses panjang untuk mengaktualkan seluruh potensi diri manusia sehingga
potensi kemanusiaannya menjadi aktual. Dalam proses mengaktualisasi diri
tersebut diperlukan pengetahuan tentang keberadaan potensi, situasi dan kondisi
lingkungan yang tepat untuk mengaktualisasikannya. Pengetahuan tentang diri
manusia dengan segenap permasalahannya akan dibicarakan dalam psikologi umum.
Dalam hal
pendidikan Islam yang dibutuhkan psikologi Islami, karena manusia memiliki
potensi luhur, yaitu fitrah dan ruh yang tidak terjamah dalam
psikologi umum (Barat). Berdasarkan uraian diatas, maka sudah selayaknya dalam
pendidikan Islam memiliki landasan psikologis yang berwawasan kepada Islam,
dalam hal ini dengan berpandu kepada al-Quran dan hadits sebagai
sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan
menciptakan insan kamil bahagia di dunia dan akhirat.
Sebenarnya, banyak
sekali istilah untuk menyebutkan psikologi yang berwawasan kepada Islam.
Diantara para psikolog ada yang menyebut dengan istilah psikologi Islam,
psikologi al-Qur’an, psikologi Qur’ani, psikologi sufi dan nafsiologi. Namun
pada dasarnya semua istilah tersebut memiliki makna yang sama.
Manusia
sebagaimana mahluk lainnya memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir
akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga
dibutuhkan oleh manusia lainnya, maka dari itu kita di sebut sebagai makhluk
sosial, begitu juga manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut
agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang
mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon
pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. sikap
orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuaan akan beragama
tertanam dalam dirinya.
Kesetabilan
hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah
kesetabilan yang statis. adanya perubahan itu terjadi karena proses
pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang
ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas
didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya, begitu juga manusia tidak bisa
lepas dari pendidikan, karena itu yang bisa mempertahankan nilai-nilai
kemanusiaan yang ada dalam masyarakat itu sendiri.
Ketiga aspek di
atas tidak bisa terlepaskan dari satu salah satu cabang ilmu pengetahuan yaitu
psikologi, karena pada hakikatnya merupakan ilmu yang tidak bisa
terpisah-bisahkan, dan termasuk dari dari baigian ilmu itu sendiri, untuk
mengetahui lebih lanjut, kami menyajikan pembahasan yang akan membahas tentang,
sebuah relasi psikologi pendidikan islam dengan psikologi pada umumnya dan
keperibadian manusia pada hususnya.
2. Pembahasan
Pengertian Hubungan
Psikologi pendidikan islam
BAB I
PEMBAHASAN
1.Psikolkogi
Pendidikan Islam
Menurut bahasa psikologi berasal dari perkataan psyche
yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berarti ilmu
atau ilmu pengetahuan. Karena itu psikologi sering
diartikan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu
jiwa. Menurut Branca yang dimaksud dengan psikologi adalah ilmu yang berbicara
tentang tingkah laku manusia. Pendapat ini juga didukung oleh
Morgan dkk.[2][2]
Ernest Hilgert menyatakan “Psychology may be defined as the science that
studies the behavior of men and other the animal”etc.(Psikologi adalah ilmu
yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya).[3][3]
Sedangkan
pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung merupakan suatu proses atau segala
macam aktivitas yang berusaha membimbing dan memberi suatu tauladan ideal yang
bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi serta mempersiapkan bagi
kehidupan dunia dan akhirat. Dalam hal ini Hasan Langgulung lebih memberikan
gambaran yang jelas tentang arah dari pendidikan Islam tersebut yaitu
mempersiapkan individu dalam menempuh kehidupan di dunia dan akhirat. [4][4]
Devinisi lain
menyebutkan “Pendidikan Islam diartikan sebagai rangkaian usaha membimbing,
mengarahkan potensi hidup seseorang yang berupa kemampuan-kemampuan dasar dan
kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam kehidupan
pribadinya sebagai makhluk individual dan sosial serta dalam hubungannya dengan
alam sekitarnya dimana ia hidup. Proses tersebut senantiasa berada dalam
nilai-nilai yang melahirkan norma-norma syariah dan akhlaq al-karimah.[5][5]
Ada pula yang memberikan pengertian bahwa Pendidikan Islam adalah usaha
mengubah tingkah laku dalam kehidupan, baik individu atau bermasyarakat serta
berinteraksi dengan alam sekitar melalui proses kependidikan berlandaskan
Islam.[6][6]
Terkait dengan teori
pendidikan Islam, Ahmad Tafsir mengemukakan dasar ilmu
pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai
dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal
digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan
kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin
kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada
aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat
kebenarannya.[7][7]
Berdasarkan
penjelasan tentang Psikologi dan pendidikan islam diatas dapat ditarik sebuah
pengertian bahwa yang dimaksudkan dengan “Psikologi pendidikan islam adalah
satu bagian kajian psikologi secara menyeluruh, yang membahas masalah-masalah
kejiwaan yang berkaitan dengan pendidikan yang mendasarkan seluruh bangunan
teori-teori dan konsep-konsepnya kepada Islam islam”. Pendidikan agama
islam sanagat penting karena merupakan alternatif pemecahan masalah dalam
kehidupan, dengan pendidikan islam manusia (umat islam) akan dapat
menyelesaikan persoalaan yang berkaitan dengan jiwa dan kehidupan praktis
mereka.Kekayaan, jabatan, kekuasaan dan segala bentuk kenikmatan duniawi, tidak
menjadi jaminan bagi manusia untuk dapat menyelesaikan masalah dalam hidupnya.
2.Tujuaan Pendidikan Islam
Menurut Ahmad
Tafsir merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu muslim yang
sempurna dengan ciri-ciri :
1.
Memiliki
jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan;
2.
Memiliki
kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu menyelesaikan secara cepat dan
tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan filosofis; memiliki dan
mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan filsafat dan
3.
Memiliki hati
yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela melaksanakan perintah Allah SWT
dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati yang berkemampuan dengan alam
gaib.
Dalam teori
pendidikan Islam, dibicarakan pula tentang hal-hal yang berkaitan dengan
substansi pendidikan lainnya, seperti tentang sosok guru yang islami, proses
pembelajaran dan penilaian yang islami, dan sebagainya. (selengkapnya lihat
pemikiran Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam
Sejalan dengan
itu pendapat Muhammad Amin dan Muhammad Qutb yang intinya tujuan pendidikan
Islam melakukan pendekatan secara menyeluruh baik dimensi badan, akal,
perasaan, kehendak, dan lain-lain untuk dibina dan dikembangkan secara serasi
dan seimbang. Karena sesungguhnya potensi-potensi itu merupakan kekayaan dalam
diri manusia yang sangat berharga. “Hakekat tujuan pendidikan Islam yang ingin
dicapai adalah membina manusia agar mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba
Allah dan khalifahnya.
Manusia yang
dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur materi (jasmani) dan imateril
(akal dan jiwa). Pembinaan akalnya akan menghasilkan ilmu, pembinaan jiwanya
menghasilkan kesucian dan etika sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan
kertampilan”. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwi
dimensi dan satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman.
Sedangkan
menurut Hasan Langgulung tujuan pendidikan Islam adalah tujuan dasar hidup
manusia itu sendiri. Sebagaimana tersirat dalam firman Allah Swt., yang artinya
“Tidaklah aku Menciptakan jindan Manusia kecuali agar mereka menyembahku “ (
Q.S 51-56 ). Sebab bagi Hasanlanggulung tugas pendidikan adalah memelihara
kehidupan manusia.[8][8]
Dalam Al-qur'an
disebutkan bahwa manusia menduduki posisi kholifah. dimuka bumi,
seperti tercemin dalam firman Allah SWT., yang artinya : “ Ingatlah ketika
Tuhanmu berkata kepada malaikat, Aku akan menciptakan kholifah di atasmuka bumi
“.( Q.s. 2 : 30 ). Manusia akan mampu mempertahankan kekholifahannya hanya jika
ia dibekali dengan potensi-potensi yang memperbolehkan berbuat demikian. Lalu
Al-qur'an menegaskan ciri-ciri fitrah.[9][9]
Berkenaan
dengan tujuan pendidikan Islam, pada
umumnya seseorang yang memiliki dasar-dasar pendidikan gama yang kuat akan
mampu menyelesaikan persoalan hidup yang di hadapi dengan cara-cara yang
bijak/baik, salah satunya adalah penyelesaiannya melalui solusi agama.Tetapi
jika sebaliknya, maka pelariannya adalah pada hal-hal yang bersifat
negatif.Untuk itu pendidikan agama bagi kebanyakan orang adalah alternatif yang
sangat layak untuk dijadikan sebagai pandangan hidup (way of life).
Sejalan dengan
tujuan pendidikan Islam yang mengrahkan kepada pembentukan manusia yang
seutuhnya, berarti proses kependidikan yang harus dikelola oleh para pendidik
harus berjalan di atas pola dasar manusia dari fitrah yang telah dibentuk
Allah dalam setiap pribadi manusia.[10][10]
Pola dasar ini
mengandung potensi psikologis yang kompleks, karena di dalamnya terdapat
aspek-aspek kemampuan dasar yang dapat dikembangkan secara
dialektis-interaksional (saling mengacu dan mempengaruhi) untuk terbentuknya
kepribadian yang serba utuh dan sempurna melalui arahan kependidikan. Salah
satu aspek potensial dari apa yang disebut “fitrah” adalah
kemampuan berfikir manusia dimana rasio atau intelegensia (kecerdasan) menjadi
pusat perkembangannya.
Para pendidik
muslim sejak dahulu menganggap bahwa kemampuan berpikir inilah yang menjadi kriterium
(pembeda) yang esensial antara manusia dan mahkluk-makhluk lainnya. Disamping
itu, kemampuan ini memiliki kapabilitas untuk berkembang seoptimal mungkin yang
banyak bergantung pada daya guna proses kependidikan.
Dalam unsur ini
Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan
berkarya yang disebut potensialitas yang menurut pandangan Islam dinamakan
“Fitrah”. Kata fitrah diambil dari kata fathara yang berarti mencipta.
Sementara pakar menambahkan, fitrah adalah mencipta sesuatu pertama kali/tanpa
ada contoh sebelumnya.
3. Aspek-aspek
Psikologi Manusia
Aspek-aspek
psikologis dalam fitrah manusia adalah merupakan komponen dasar yang bersifat
dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.anatara
lain:
1. Bakat, suatu
kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan akademis dan
keahlian dalam bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan Kognisi
(daya cipta), Konasi (Kehendak) dan Emosi (rasa) yang disebut dalam psikologi
filosifis dengan tiga kekuatan rohaniah manusia.
2. Insting
atau gharizah adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa
melalui proses belajar. Kemampuan insting ini merupakan pembawaan sejak lahir.
Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan
berbuat sesuatu dengan tanpa belajar.
3. Nafsu dan
dorongan-dorongan. Dalam tasawuf dikenal nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong
kearah perbuatan mencela dan merendahkan orang lain. Nafsu ammarah yang
mendorong kea rah perbuatan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain. Nafsu
berahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntutan
akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah
ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut al-Ghazali, nafsu manusia terdiri
dari nafsu malakiah yang cenderung ke arah perbuatan mulia sebagai halnya para
malaikat, dan nafsu bahimiah yang mendorong ke arah perbuatan rendah
sebagaimana binatang.
4. Karakter adalah
merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir. Karakter ini berkaitan
dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang. Karakter terbentuk
oleh kekuatan dari dalam diri manusia, bukan terbentuk dari pengaruh luar
5. Hereditas atau
keturunan adalah merupakan factor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri
psikologis dan fisiologis yang diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang
terdekat maupun yang telah jauh.
6. Intuisi adalah
kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan
hati nurani manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus
diluar kesadaran akal pikiran, namun mengandung makna yang bersifat konstruktif
bagi kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan Tuhan kepada orang yang bersih
jiwanya.[11][11]
Alat-alat
potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus
ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan
sepanjang hayatnya. Manusia diberikan kebebasan untuk berikhtiar mengembangkan
alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut.
Namun demikian,
dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak dapat lepas dari adanya batas-batas
tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, hukum
yang menguasai benda-benda maupun masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk
dan tidak pula bergantung pada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut
dengan taqdir (Keharusan universal)
Di samping itu,
pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga
dipengaruh oleh faktor-faktor hereditas, lingkngan alam, lingkungan sosial,
sejarah. Dalam ilmu-ilmu pendidikan ada 5 macam faktor yang menentukan
keberhasilan pelaksanaan pendidikan, yaitu:tujuan, pendidik, peserta didik,
alat pendidikan, dan lingkungan. Karena itulah maka minat, bakat, kemampuan
(skill), sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang
dicapai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut bermacam-macam.[12][12]
4. Ruang
lingkup kajian Psikologi adalah sebagai berikut:
1.Psikologi
Umum (psikologi yg memepelajari kegiatan atau aktivitas psikis manusia
pada umumnya yg normal dan beradab).
2.Psikologi
khusus (psikologi yang mempelajari segi-segi kekhususan aktivatas psikis
manusia) macam-macamnya:
a. Psikologi
Perkembangan Yaitu psikologi yang membicarakan perkembangan
psikis manusia dari masa bayi sampai tua, yang mencakup:
a)
Psikologi anak
(mencakup masa bayi)
b) Psikologi puber
dan adolesensi (psikologi pemuda)
c)
Psikologi orang
tua
b. Psikologi
sosial
Yaitu psikologi yang khusus membicarakan tentang tingkah laku atau
aktifitas-aktifitas manusia hubungannya dengan situasi sosial.
c.Psikologi
pendidikan
Yaitu psikologi yang menguraikan kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya
dengan situasi pendidikan . Misalnya, bagaimana dalam menarik perhatian agar
dapat dengan mudah diterima oleh peserta didik.
d.Psikopatologi Yaitu
psikologi yang khusus menguraikan mengenai keadaan psikis yang tidak normal
(abnormal).
e.Psikologi kepribadian dan tifologi Yaitu psikologi
yang khusus menguraikan tentang struktur pribadi manusia, mengenai tipe-tipe
kepribadian manusia.
5. Hubungan
Psikologi pendidikan islam dengan Psikologi
Psikologi
beserta sub-sub ilmunya,pada dasarnya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
ilmu-ilmu lain dan bersifat timbal-balik. Psikologi memerlukan bantuan
ilmu-ilmu lain dan sebaliknya ilmu-ilmu lain juga memerlukan bantuan psikologi
sebagai salah satu contoh bagaimana Keterkaitan psikologi Pendidikan dengan
psikologi keperibadian dimana guru tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai
tenaga pendidik dengan baik tanpa memahami bagaimana psikologi anak didiknya.
Usaha untuk
memperoleh pemahaman mengenai perilaku manusia (peserta didik) bukan hanya
dimaksudkan untuk melampiaskan hasrat ingin tahu saja tetapi juga diharapkan
bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Pengetahuan mengenai
perilaku individu-individu beserta faktor-faktor yang berhubungan dengan
perilaku tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan dalam kegiatan terapan atau
praktik seperti psikoterapi dan program-program bimbingan, latihan dan belajar
yang efektif, juga melalui perubahan lingkungan psikologis sedemikian rupa agar
individu-individu itu mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki secara
optimal.[13][13]
Interaksi yang
terjadi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pendidikan merupakan
interaksi di mana pihak pendidik berusaha mempengaruhi peserta didik agar
peserta didik dapat berkembang secara optimal. Untuk mewujudkan keinginan
tersebut pendidik harus membekali dirinya dengan seperangkat persyaratan,
diantaranya adalah pemahaman mengenai perilaku manusia, baik tentang dirinya
sendiri (self understanding) maupun orang lain, khususnya peserta didik
(understanding the other).Tanpa disertai dengan pemahaman yang baik tentang
perilaku manusia atau tepatnya kepribadian, akan sulit mewujudkan interaksi
edukatif.
Banyak ahli
yang telah merumuskan definisi kepribadian berdasarkan paradigma yang mereka
yakini dan focus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Dengan demikian
akan dijumpai banyak variasi definisi sebanyak ahli yang merumuskannya. Berikut
ini dikemukakan beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam
mempelajari kepribadian.
a. Gordon w. W
allport
Pada mulanya
Allport mendefinisikan kepribadian sebagai “What aman really is.” Tetapi
definisi tersebut oleh Allport dipandang tidak memadai lalu dia merevisi
definisi tersebut (Soemadi Suryabrata, 2005:240) Definisi yang kemudian
dirumuskan oleh Allport adalah:“Personality is the dynamic organization within
the individual ofthose psychophysical systems that determine his
uniqueadjustments to his environment.[14][14]”
Pendapat
Allport di atas bila diterjemahkan menjadi : Kepribadian adalah organisasi
dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang
khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
b. Krech Dan
Crutchfield
David Krech dan
Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunyayang berjudul Elelemnts of
Psychology merumuskan definsi kepribadian sebagai berikut : “Personality is the
integration of all of an individual’s characteristics into a unique
organization thatdetermines, and is modified by, his attemps at adaption to
hiscontinually changing environment.”(Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik
individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang
dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan
yang berubah terus-menerus)
c. Adolf
heuken, s.j. Dkk
Adolf Heuken
S.J. dkk. dalam bukunya yang berjudul Tantangan Membina Kepribadian menyatakan
sebagai berikut. “Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan
serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun
yang sosial. Semuanya ini telah ditatanya dalam caranya yang khas di bawah
beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya, dalam
usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya”.
Berdasarkan
definisi dari Allport, Kretch dan Crut chfield, serta Heuken dapat disimpulkan
pokok-pokok pengertian kepribadian sebagai berikut.:Kepribadian merupakan
kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari aspek psikis, seperti : inteligensi,
sifat, sikap, minat, cita-cita, dst. serta aspek fisik, seperti : bentuk tubuh,
kesehatan jasmani, dst.· Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan
lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus-menerus, dan terwujudlah
pola tingkah laku yang khas atau unik. Psikologi Kepribadian bersifat
dinamis, artinya selalu mengalami perubahan,tetapi dalam perubahan tersebut
terdapat pola-pola yang bersifat tetap. Kepribadian terwujud berkenaan dengan
tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh individu.[15][15]
Dalam profesi
bimbingan dan konseling, khususnya di sekolah, pemahaman mengenai perilaku
manusia melalui psikologi kepribadian merupakan kebutuhan yang tidak disa
diabaikan. Pemahaman kepribadian diperlukan oleh pendidik atau konselor untuk :
1.Acuan dalam
mengembangkan kepribadiannya agar mengarah kepada kepribadian pendidik atau
konselor ideal;
2. Mempermudah dalam mengenal karakteristik
peserta didik;
3. Acuan dalam pengembangan berbagai potensi
peserta didik;
4. Acuan dalam mengambil tindakan preventif;
5. Acuan dalam membimbing peserta didik ke
arah kedewaan;
6. Menghindari terjadinya konflik antara guru
/ konselor dengan peserta didik / klien.
Psikologi
menempati peringkat teratas dalam dunia pendidikan. Dengan menguasai psikologi,
seorang guru dapat lebih bijak dalam menyalurkan ilmu pengetahuan terhadap anak
didiknya. Disamping guru mendidik jasmani, guru juga dituntut untuk mendidik
rohaninya. Dengan demikian jiwa anak didik akan lebih sempurna dalam menuntut
ilmu, dan guru lebih bias memfokuskan dan menilai setiap anak didik,mana yang
konsentrasi dalam belajar dan yang tidak.[16][16]
Para psikolog
memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang
menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan
respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.[17][17] Dalam
masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan
pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak
terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang
panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk,
kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor
yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.[18][18]
Kepribadian seorang Muslim berarti
adalah keperibadian yang menuntut agar jiwanya selalu hidup dengan nur ilahi.
Inilah yang membedakan antara kepribadian menurut konsep Islam dengan yang
lainnya. Kepribadian Islam merupakan ciri khas, watak maupun karakter umat
Islam.” Kepribadian Muslim atau sering disebut akhlak Islami yaitu prilaku
seorang Muslim yang merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal dan fitrah
insan”i.
Kepribadian bagi seorang Muslim ialah yang senantiasa menjaga hatinya untuk
selalu taat kepada Allah dan berbahagia karena dekat kepada Allah sehingga
memperoleh sinarnya dengan senantiasa mengerjakan ibadah dan amal saleh
lainya..sedangkan hati yang kotor dan ingkar kepada Allah yang muncul dari
anggota badanya adalah sifat keji , hati
yang kotor dan gelap tanpa sinar.[19][19]
Dalam hal ini Hasan al Basri berkata : Kebagusan Akhlak ialah manis
mukanya, memberi kelebihan dan mencegah kesakitan. Sedang Al Washili berkata
akhlak yang baik ialah menyenangkan manusia pada waktu suka dan duka. Dan Sahal
al Tsauri berkata akhlak yang baik ialah sekurang-kurangnya menanggung
penderitaan orang lain, tidak membalas kezaliman orang lain, memintakan ampunan
kepada Allah terhadap orang yang berbuat zalim dan belas kasih kepadanya.
Substansi nafsani/diri keperibadian
memiliki tiga daya yaitu (1) kalbu atau fitrah ilahiyah, akal atau fitrah
insani dan nafsu atau fitrah hayawaniah. Kepribadian pada dasarnya merupakan perpaduan
antara ketiga daya tersebut, hanya saja biasanya ada salah satu diantaranya
yang mendominasi yang lain.[20][20]
Al Kindi mendefinisikan jiwa adalah annafs
nathiqah substansinya bersifat ilahi rabbani yang berasal dari cahaya (nur)
sang pencipta.[21][21]
Oleh karena itu jiwa atau hati harus senantiasa dihidupkan dengan cahaya ilahi.
Dalam Islam hati yang hidup adalah sumber kebaikan dan kematian hati adalah
sumber keburukan. Akar semua kebaikan dan kebahagiaan seorang hamba adalah
kesempurnaan hidup dan cahayanya. Hati yang sehat dan hidup
akan bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan.[22][22]
Jika dilihat dari definisi - definisi tersebut maka menurut pendapat
penulis maka hal-hal seperti tersebut adalah buah dari akhlak karena akhlak itu
sendiri adalah system kerja rohani yang terdapat dalam jiwa manusia.[23][23]
Kadang-kadang dalam kondisi tertentu terjadi perubahan tingkah laku. Hal
ini disebabkan karena salah satu substansi jiwa mendominasi yang lainnya. Jika
dalam interaksi seseorang didominasi oleh nafsu maka yang muncul ialah sifat
pendusta, egois, bakhil, suka mengancau dan amarah. Hal ini dalam psikologi
Islam dinamakan jiwa yang sedang sakit. Tetapi apabila yang mendominasi akal
dan kalbu maka yang muncul adalah sifat-sifat terpuji dan ma’rifat kepada
Allah, inilah yang akan mendatangkan kebahagiaan.[24][24]
Hasil kerja kalbu atau kepribadian yang didominasi dengan kalbu akan
menghasilkan kepribadian mutmainah wujudnya kepribadian atas dasar iman,
Islam, dan ikhsan. Sedangkan kepribadian yang didominasi dengan akal akan
menghasilkan kepribadian lawwamah, suatu kepribadian yang berdasarkan sosial
moral dan rasional.
Dan kepribadian yang didominasi oleh nafsu menghasilkan kepribadian amarah,
ia bersifat produktif, kreatif dan konsumtif.[25][25] Oleh karena itu
kepribadian ada yang menarik dan ada yang tercela. Kepribadian yang menarik
ialah kepribadian yang memiliki sifat-sifat positif seperti rajin, sabar,
pemurah dan suka menolong. Sedangkan kepribadian yang tercela yaitu kepribadian
yang negatif seperti pemalas, pemarah, kikir, sombong dan sebagainya.
6. Struktur Kepribadian Islam
Wacana psikologi Islam tentang struktur dan kepribadian sangat erat
pembahasannya dengan substansi manusia. Substansi jiwa menurut para filosof
maupun psikolog Islam terdiri atas tiga bagian yaitu jasmani, rohani dan
nafsani atau nafsu. Substansi jasmani berupa organisme fisik manusia ia lebih
sempurna dibanding makhluk-makhluk yang lain bersifat lahiriyah yang memiliki
unsur-unsur tanah, udara, api, dan air.[26][26] ia akan hidup jika diberi daya hidup
atau al bayah.[27][27]
Substansi ruh adalah substansi yang merupakan kesempurnaan awal. Al Gazali
menyebutnya lathifah yang halus dan bersifat ruhani. Ruh sudah ada
ketika tubuh belum ada dan tetap ada meskipun jasadnya telah mati. Fathur
Rahman menyatakan bahwa ruh adalah amanah, karena itu ia memiliki keunikan
dibanding dengan makhluk yang lain.
Dengan amanah inilah ia menjadi kalifah di muka bumi.[28][28] Substansi nafsani berarti
jiwa, nyawa atau ruh, konotasinya ialah kepribadian dan substansi psiko fisik
manusia. Nafs ini merupakan gabungan dari jasad dan ruh. Karena itu nafs adalah
potensi jasadi dan rohani. Ia berupa potensi aktualisasinya akan membentuk
suatu kepribadian Muslim yaitu merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal
dan nafsani.
Struktur kepribadian Islam merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal,
dan nafsani ;
1.
Al Qalb atau kalbu
Merupakan materi organik
yang memiliki system kognisi yang berdaya emosi. Al Gazali menyatakan bahwa
kalbu memiliki insting yang disebut al nur al ilahy dan al
bashirah al bathinah (mata batin).[29][29] Kalbu dalam arti jasmani
adalah jantung (heart) bukan hati (lever).
Kalbu
dalam artian rohani ialah menunjukan kepada hati nurani (conscience) dan ruh
(soul).[30][30] Kalbu ini berfungsi
sebagai pemandu, pengontrol dan pengendali struktur nafs yang lain. Apabila
kalbu ini berfungsi normal maka manusia menjadi baik sesuai dengan fitrah
aslinya. Karena kalbu memiliki nature ilahiyah yang dipancarkan dari Tuhan. Ia
tidak saja mampu mengenal fisik dan lingkungannya tetapi juga mampu mengenal
lingkungan spiritual ketuhanan dan keagamaan
Mengenai kalbu ini Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka
semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi
rusak pula, ingatlah bahwa ia adalah kalbu” [31][31]
Menurut Huzaifah, hati terbagi menjadi empat yaitu hati yang bersih, yaitu
(1) hatinya orang beriman dan mendapat sinar (2) hati yang tertutup yaitu
hatinya orang kafir, hati yang buta dan tidak melihat kebenaran (3) hati yang
terjungkir yaitu hatinya orang munafik yaitu melihat kebenaran tetapi kemudian
mengingkarinya (4) hati yang memiliki dua bekal yakni bekal iman dan bekal
kemunafikan, ia tergantung dari mana yang paling dominan.[32][32]
Orang yang kalbunya disinari Tuhan maka ia akan memiliki kepribadian yang
kuat, teguh dan tidak mudah putus asa. Dan apabila ia memiliki
nafsu muthmainah ia akan tenang dan optimis karena ia yakin rahmat Tuhan
pasti akan diberikan. Agar kalbu selalu mandapat sinar Ilahiyah menurut imam Al
Gazali maka harus berilmu dan iradah (kemauan). Dengan ilmu manusia akan
mengetahui segala urusan dunia dan akhirat, dan menurut al Gazali kalbu
berfungsi untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Secara psikologis kalbu
memiliki daya emosi (al infialy) dan kognisi.
2.
Akal
Secara estimologi memiliki
arti al-imsak (menahan) al Ribath (ikatan) al
Bajr (menahan) al Naby (melarang)
dan manin (mencegah).[33][33]
Berdasarkan makna ini maka yang disebut orang berakal adalah orang yang
mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat maka
rasionalitinya mampu bereksistensi. Dengan akal seseorang mampu membedakan yang
baik dan yang buruk, yang menguntungkan dan merugikan. Akal mampu memperoleh
pengetahuan dengan daya nalar (al Nazhr) dan daya argumentatif. Melalui akal manusia
bisa bermuhasabah yakni menunda keinginan tidak terburu-buru mengerjakannya
sehingga menjadi jelas olehnya kelayakannya untuk dikerjakan atau ditinggalkan.
Menurut al Hasan jika pekerjaan tersebut dimotivasi untuk mengharap ridho
Allah maka kerjakanlah, tetapi jika tidak karena Allah lebih baik ditunda
dahulu. Dan jika motivasinya untuk memperoleh ridha Allah maka harus berfikir
dahulu apakah dalam mengerjakan sesuatu itu ia memperoleh pertolongan atau
tidak, jika tidak sebaiknya ditunda terlebih dahulu.
Dan apabila sudah mendapat kepastian akan pertolongan Allah maka
kerjakanlah sehingga ia akan mendapat keberuntungan. Muhasabah juga bisa
dilakukan setelah selesai mengerjakan sesuatu, yakni apakah yang dikerjakan
sudah ikhlas karena Allah, sesuai dengan ketentuan Allah. Apakah waktu
mengerjakan lepas kendali atau tidak, bagus akibatnya atau tidak. Dengan
muhasabah orang akan selamat dan bisa menjadi lebih baik perilkunya dan
kepribadiannya.
Sebagaimana Plato, Al Zukhaily berpendapat bahwa jiwa rasional itu
bertempat di kepala sehingga yang berfikir adalah akal bukan kalbu. Antara akal
dan kalbu sama sama memperoleh daya kognisi tetapi cara dan hasilnya berbeda.
Akal mampu mencapai pengetahuan rasional tetapi tidak yang supra rasional,
sehingga ia mampu mencapai kebenaran tetapi tidak mampu merasakan hakekatnya.[34][34] Menurut Al Gazali agar
manusia dapat senantiasa berdekatan dan mendapat nur ilahy maka ia harus
berilmu dan mempunyai iradah (kemauan).
Dengan ilmu seseorang akan mengetahui segala urusan dunia dan akhirat serta
segala sesuatu yang berhubungan dengan akal. Dengan kemauan dan akal seseorang
akan mengetahui cara-cara untuk memperbaiki serta mencari sebab sebab yang
berhubungan dengan hal itu. Al Gazali berpendapat bahwa orang yang sakit nafsunya
selalu menginginkan makanan yang enak.[35][35]
Hal ini memberi pengertian kepada kita bahwa jika orang tersebut sehat maka
secara akal berarti semua makanan asalkan sehat dan halal dan toyyiban pasti
akan terasa enak (lezat). Dengan demikian nafsu untuk selalu menginginkan hal
hal yang enak enak akan dapat dikurangi atau dilawan dengan kondisi sehat. Al
Gazali juga berpendapat bahwa ilmu yang diperoleh dalam hati akan memiliki
kekuatan untuk melihat dan dapat membedakan aneka bentuk. Pandangan batin dan pandangan
lahir sesungguhnya sama sama memiliki kebenaran, tetapi berbeda derajatnya.
Hati laksana pengendara sedang akal laksana kendaraan. Buruknya hati atau
pengendara akan lebih membahayakn dari pada buruknya kendaraan itu sendiri.
Namun demikian akal tetap diperlukan untuk menyelesaikan problem-problem
kehidupan. Akal yang sehat akan mempengaruhi tindakan dan emosi seseorang juga
kepribadiannya.
Akal terbagi menjadi dua yaitu akal dharuri dan akal muktasabah. dharuri
yaitu akal yang dapat mengetahui secara mudah. Akal muktasabah ialah akal yang
baru mengetahui dengan cara diusahakan, akal muktasabah terbagi dua yaknu
muktasabah duniawi ialah akal yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang
berhubungan dengan keduniawiyan. Akal muktasabah ukhrawi yakni akal yang
digunakan untuk mencapai akhirat. [36][36]
Secara psikologis orang-orang yang memiliki jiwa yang bersih dan akal yang
sempurna maka ia akan mampu mengaktualisasikan diri dalam hidup dan kehidupan,
yakni melihat realitas secara cermat, tepat apa adanya dan lebih efisien.[37][37] Ia dapat menerima
keadaan dirinya dan orang lain secara professional, yakni mengakui segala
kelebihan dan keterbatasan masing-masing, dengan demikian ia akan bisa menerima
masukan-masukan dari orang lain secara alamiah tanpa paksaan[38][38]
3.
Nafsani
Nafsu merupakan
daya nafsani, ia memiliki dua kekuatan
yaitu, al-Ghadhabiyah dan al-Syahwaniyah.
Al-Ghadhabiyah adalah suatu daya yang berpotensi untuk menghindari
segala hal yang membahayakan. Ghadab dalam psikoanalisa disebut
defenci (pertahanan, pembelaan dan penjagaan), yaitu suatu tindakan untuk
melindungi egonya sendiri terhadap kesalahan, kecemasan, dan rasa malu atas
perbuatannya sendiri, sedang syahwat dalam psikologi disebut appetite yaitu
hasrat atau keinginan atau hawa nafsu, prinsipnya adalah kenikmatan.
Apabila
keinginannya tidak dipenuhi maka terjadilah ketegangan, prinsip kerjanya adalah
sama dengan prinsip kerja binatang, baik binatang buas yang suka menyerang
maupun binatang jinak yang cenderung pada nafsu seksual. Nafsu merupakan
struktur di bawah sadar dalam kepribadian manusia, apabila manusia didominasi
oleh nafsunya, maka ia tidak akan dapat bereksistensi baik di dunia maupun
diakhirat. Karena itu apabila kepribadian seseorang didomonasi oleh nafsu maka
prinsip kerjanya adalah mengejar kenikmatan dunia, tetapi apabila nafsu
tersebut dibimbing oleh kalbu cahaya ilahi maka ghadabnya akan berubah menjadi
kemampuan yang tinggi derajatnya.[39][39]
Jika nafsu
tersebut dikuasai oleh cahaya ilahi yang muncul adalah sifat-sifat kebaikan,
tetapi jika nafsu itu dikuasai oleh syaitan maka yang muncul adala sifat-sifat
syaitaniyah dan ini disebut hati yang sakit ,hati yang sakit bisa sembu
apabila ia kembali kepada cahaya ilahi tetapi akan lebih sakit apabila ia
dikuasai oleh nafsu syaitan.
Dalam ilmu jiwa
orang yang terganggu mentalnya tidaklah mudah diukur atau diperiksa dengan
alat-alat kesehatan, untuk mengetahuinya biasanya hanya bisa dilihat gejalanya
seperti tindakannya, tingkah laku dan pikirannya, seperti gelisah, iri hati,
sedih yang tidak beralasan, hilangnya rasa kepercayaan diri, pemarah, keras
kepala, merosot kecedasannya, suka memfitnah, mengganggu orang lain dan
sebagainya.
Kesehatan
mental juga berpengaruh terhadap kesehatan badan, akhir-akhir ini dalam ilmu
kedokteran ditemukan istilah psychomtic yaitu penyakit yang disebabkan oleh
mental, misalnya tekanan darah tinggi, tekanan darh rendah, exceem, sesak
nafas, dan sebagainya.[40][40] Obat
dari berbagai penyakit mental dan yang disebabkan oleh mental adalah
berfungsinya system kerja yang harmonis antara kalbu, akal, dan nafsu. Dan ini hanya bisa dilakukan melalui latihan-latihan kejiwaan secara terus
menerus.
Harmonisnya jiwa memungkinkan seseorang dapat berhubungan
secara harmonis ditengah masyarakat. Untuk itu diperlukan The Art of Interction yaitu
seni berhubungan yang baik menuju akhlak yang baik, sebagai landasan utama
kebahagian umat, akhlak yang baik juga merupakan faktor utama dalam memperbaiki
kepribadian seseorang.[41][41] Dalam ilmu tasawuf jiwa
yang bersih dan jiwa kotor termasuk dalam katagori nafsu. Dan mereka
membagi nafsu menjadi 3 bagian :
1. Nafsu amarah, ia senantiasa cenderung maksiat,
baik maksiat lahir maupun maksiat bathin. Orang yang didominasi oleh nafsu amarah
maka wujud kepribadiannya ialah tamak, serakah, keras kepala, angkuh, dan
perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji lainnya seperti free sexs, suka
berkelahi dan sebagainya.
2. Nafsu lawamah, ia sudah mendapat nur ilahi dan
suka beribadah tetapi masih sering melakukan maksiat bathin kemudian bersegera
beristighfar dan berusaha memperbaikinya. Orang yang berkepribadian lawamah
maka senantiasa akan mengevaluasi diri (self correction) untuk menjadi lebih
baik.
3. Nafsu muthmainah, suatu
kepribadian yang bersumber dari kalbu manusia, di dalamnya selalu terhindar
dari sifat-sifat yang tercela dan tumbuh sifat-sifat yang terpuji dan selalu
tenang. Kecenderungannya ialah beribadah, mencintai sesama, bertambah tawakal,
dan mencari ridho Allah dan bersifat teosentris. Menurut Ibnu Kholdum bahwa ruh
kalbu itu disinggahi oleh ruh akal. Ruh akal ini
substansinya mampu mengetahui apa saja di alam amar. Ia menjadi tidak mampu
mencapai pengetahuan disebabkan adanya hijab, apabila hijab itu hilang maka ia
akan mampu menemukan pengetahuan.[42][42] Bahkan sebagian ahli tasawuf yang lain membagi nafsu menjadi 7 bagian,
yaitu : nafsu amarah, nafsu lawamah, nafsu malhamah, nafsu muthmainah, nafsu al
rodhiyah, nafsu mardhiyah, dan nafsu kamilah.
7. Manfaat
Psikologi Pendidikan Terhadap Perkembangan Dan Keperibadian
Ilmu pendidikan
sebagai suatu disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir
sampai mati, pendidikan tidak akan pernah berhasil dengan baik bila tidak
berdasarkan kepada psikologi perkembangan, demikian pula watak dan kepribadian
seseorang. Rober menyebut psikologi pendidikan sebagai sub disiplin ilmu
psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan memiliki
kegunaan dalam hal-hal sebagai berikut.[43][43]
a. Perkembangan
jiwa peserta didik yang diikuti dengan memberikan didikan psikologi pendidikan
islam yang memadai akan dapat melahirkan peserta didik yang memiliki
keperibadian yang jauh lebih baik dari sekedar menanamkan pendidikan biasa
b.Tenaga pendidik
dapat melakukan usaha dalam upaya Pengembangan dan pembaruan kurikulum
pembelajaran
c. Sosialisasi
proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif
d.
Penyelenggaraan pendidikan keguruan
Menurut
Rifai Achmad dan Tri Anni, Catharina
Psikologi pendidikan bermanfaat untuk:
a) Membantu
peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b) Membantu
pendidik dalam memahami karakteristik peserta didik.
c) Memahami proses
belajar peserta didik.
d) Memilih dan
menggunakan berbagai strategi dalam pembelajaran.
e) Membantu
pendidik untuk melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar atau perolehan
hasil belajar yang telah dicapai peserta didik.[44][44]
BAB III
KESIMPULAN
Psikologi pendidikan islam adalah satu bagian
kajian psikologi secara menyeluruh, yang membahas masalah-masalah kejiwaan yang
berkaitan dengan pendidikan yang mendasarkan seluruh bangunan teori-teori dan
konsep-konsepnya kepada Islam islam”
Aspek-aspek
psikologis dalam fitrah manusia adalah merupakan komponen dasar yang bersifat
dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh
pendidikan.anatara lain:
1.
Bakat, suatu
kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan akademis dan keahlian
dalam bidang kehidupan.
2.
Insting atau
gharizah adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa
melalui proses belajar.
3.
Nafsu dan
dorongan-dorongan. Dalam tasawuf dikenal nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong
kearah perbuatan mencela dan merendahkan orang lain. Nafsu ammarah yang
mendorong kea rah perbuatan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain. Nafsu
berahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntutan
akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah
ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4.
Karakter adalah
merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir. Karakter ini berkaitan
dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang.
5.
Hereditas atau
keturunan adalah merupakan factor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri
psikologis dan fisiologis yang diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang
terdekat maupun yang telah jauh.
6.
Intuisi adalah
kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan.
Kepribadian atau watak, ciri khas atau karakter seseorang yang secara eksis
dan terus menerus dipertahankan, meskipun demikian kepribadian bisa berubah
ubah sesuai dengan faktor yang mempengaruhi. Dalam Islam kepribadian Muslim
identik dengan akhlak Islam, ia merupakan perpaduan harmonis antara system
kalbu, akal dan nafsu yang menimbulkan tingkah laku dan merupakan ciri khas
umat Islam. Karena itu ciri khas kepribadian Muslim ialah yang selalu menjaga
hatinya untuk taat kepada Allah sehingga senantiasa mendapat sinarnya dan
menjauhi segala larangannya yang merupakan kotoran-kotoran manusia.
Struktur kepribadian Muslim meliputi tiga substansi, yaitu jasad atau
jasmani, ruh atau ruhani dan nafsani atau jiwa, jiwa itu sendiri terdiri dari
kalbu, akal dan nafsu. Sedangkan nafsu terdiri dari nafsu amarah, lawamah dan
muthmainah. Semuanya ini merupakan struktur kepribadian Islam, yang jika system
kerjanya bagus semua akan membentuk kepribadian kamil atau manusia paripurna
yang tenang, selalu berbuat kebaikan, tawakal dan terhindar dari sifat sifat
tercela.
DAFTAR
PUSTAKA
A.Arifin filsafat Pendidikan islam,
jakarta:Bumi Aksara 2004
Adolf S.J
Heuken,. Tantangan Membina Kepribadian PedomanMengenal Diri.
Yogyakarta.Kanisius 1979,
Alex Sobur, , Psikologi Umum,
Bandung:Pustaka setia, 2003
Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:
Bumi Aksara, 1991
Branca Psychology: The science of Behavio r 1964
Dirgagunarsa Singgih, Pengantar Psikologi.
Jakarta : BPK Gunung Mulia. 1978
Ernest Hilgert Introduction to Psychology
1957
H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan
Islam, 1998
http://www.perkuliahan.com/apa-pengertian-pendidikan-islam
diakses 20/10/2012 http/ciebad wordpress/keterkaitan psikologi
umum dan psikologi perkembangan diakses 20/10/2012
Langgulung
Hasan, Manusia dan Pendididikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1992
Koeswara, E. Teori-teori Kepribadian.
Bandung:Eresco,2001
Muzayyin Arifin, Filsafat
Pendidikan Islam Jakarta:PT Bumi Aksara, 2000 Pustaka Al-Husna, 1992
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam,
Bandung: Remaja Rosdakrya, 2002
M. Suyudi, Pendidikan
Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani,Irfani, dan dan
Burhani Yogyakarta: Mikraj, 2005
Rifai, Achmad
dan Tri Anni, Catharina. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press
2009
[50][6] M. Suyudi, Pendidikan Dalam Perspektif
Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani,Irfani, dan Burhani (Yogyakarta:
Mikraj, 2005), 55.
[52][8] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendididikan
Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan,( Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1992 ), 33.
[53][9] Kata Kholifah di ambil dari kata Khalafa yang
berarti mengganti / mengikat. Jadi kholifah adalah
seorang yang
menggantikan orang lain. Berkenaan dengan siapa mengganti siapa,
disini ada tigapendapat. Pertama, mengatakan bahwa umat manusia sebagai makhluk
menggantikan makhluk yang lain dapat yang telah menempati bumi ini. Kedua,
bahwa kata kholifah hanya berarti setiap kumpulan yang lain dapat mengganti
kumpulan lain. Ketiga, kholifah bukan sekedar seorangmengganti orang lain, akan
tetapi manusia adalah sebagai wakil Allah, hasan Langgulung,
teoriteoriKesehatan Mental, ( Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1986 ), 42.
[59][15] Heuken, Adolf S.J. Tantangan Membina
Kepribadian : PedomanMengenal Diri. (Yogyakarta.Kanisius (1979), 10.
[60][16] http/ciebad wordpress/keterkaitan psikologi
umum dan psikologi perkembangan diakses 20/10/2012
[63][19] Imam al Gazali, Ihya Ulumuddin, Bab
Keajaiban Hati, terj. H. Ismail Yakub, Jakarta,
Faisan, 1984, hlm.5
[70][26] Lihat. De Bali Tj, The History of The
Philosophy in Islam, New York, Dowh Publication Inc, 1967, 131
[71][27] Abdul Mujib, M.Ag, Pemikiran
Pendidikan Islam, Kajian Filasofik Kerangka Dasar Operasio nalisa sinya ,
Bandung, Tri Genda Karya, 1993, 11
[74][30] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi
Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta , Pustaka
Pelajar, 1997, 78
[75][31] Ibn Abd Allah Muhammad Ibn Ismail Ibn al
Mughirah Ibn Bardhahal al ya’fi al Bukhary, Imam, Shahih al Bukhary, Semarang,
Thaha Putra, TT, Juz I, 19
[77][33] Maan Zidadat, dkk, al Mansu’at al
Falasafiyah al Arabiyah, Arab, Imam al Araby, 1986, 465-466
[81][37] Maslaw, Abraham, Motivasi dan
Kepribadian, terj Nurul Iman, Bandung, Pustaka Binaan Pressindo, 1993,
jilid I, 6
[82][38] asyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf
dan Psikologi, Telaah atas Pemikiran
Psikologi Humanistik Abraham Maslaw, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, 88.
[83][39] Afifi, AE, Filsafat Mistik Ibnu Arabi, terj
Syahrir Mawi dan Nandi Rahman, judul: A Mystical Philosophy of Muhyidin
Ibnu Arabi, Jakarta, Media Pratama, 1995,176-177
[86][42] Lihat Abd Rahman Ibn
Kholdum, Muqaddimah min Kitab al Ibar wa Diwan al Mubtada’ wa al Khabar
fi Ayyam al Arab wa al Ajam wa al Bar bar, Beirut, Dar al Fikr, TT,
hlm. 476
[88][44] Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. Psikologi
Pendidikan. (Semarang: Unnes Press2009),43.
[6][6] M. Suyudi,
Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an Integrasi Epistemologi Bayani,Irfani, dan
Burhani (Yogyakarta: Mikraj, 2005), 55.
[8][8] Hasan
Langgulung, Manusia dan Pendididikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan,(
Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1992 ), 33.
[9][9] Kata Kholifah
di ambil dari kata Khalafa yang berarti mengganti / mengikat. Jadi kholifah
adalah
seorang yang menggantikan
orang lain. Berkenaan dengan
siapa mengganti siapa, disini ada tigapendapat. Pertama, mengatakan bahwa umat
manusia sebagai makhluk menggantikan makhluk yang lain dapat yang telah
menempati bumi ini. Kedua, bahwa kata kholifah hanya berarti setiap kumpulan
yang lain dapat mengganti kumpulan lain. Ketiga, kholifah bukan sekedar
seorangmengganti orang lain, akan tetapi manusia adalah sebagai wakil Allah,
hasan Langgulung, teoriteoriKesehatan Mental, ( Jakarta : Pustaka Al-Husna,
1986 ), 42.
[15][15] Heuken, Adolf S.J. Tantangan Membina Kepribadian :
PedomanMengenal Diri. (Yogyakarta.Kanisius (1979), 10.
[16][16] http/ciebad wordpress/keterkaitan psikologi umum dan psikologi
perkembangan diakses 20/10/2012
[19][19] Imam al
Gazali, Ihya Ulumuddin, Bab Keajaiban Hati, terj. H. Ismail Yakub, Jakarta, Faisan, 1984, hlm.5
[26][26] Lihat. De Bali
Tj, The History of The Philosophy in Islam, New York, Dowh
Publication Inc, 1967, 131
[27][27] Abdul Mujib,
M.Ag, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filasofik Kerangka Dasar
Operasio nalisa sinya , Bandung, Tri Genda Karya, 1993, 11
[30][30] Hanna Djumhana
Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami,
Yogyakarta , Pustaka Pelajar, 1997, 78
[31][31] Ibn Abd Allah
Muhammad Ibn Ismail Ibn al Mughirah Ibn Bardhahal al ya’fi al Bukhary, Imam, Shahih
al Bukhary, Semarang, Thaha Putra, TT, Juz I, 19
[33][33] Maan Zidadat,
dkk, al Mansu’at al Falasafiyah al Arabiyah, Arab, Imam al Araby,
1986, 465-466
[37][37] Maslaw,
Abraham, Motivasi dan Kepribadian, terj Nurul Iman, Bandung,
Pustaka Binaan Pressindo, 1993, jilid I, 6
[38][38] asyim
Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, Telaah atas Pemikiran Psikologi Humanistik Abraham
Maslaw, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, 88.
[39][39] Afifi, AE, Filsafat Mistik Ibnu Arabi, terj
Syahrir Mawi dan Nandi Rahman, judul: A Mystical Philosophy of Muhyidin
Ibnu Arabi, Jakarta, Media Pratama, 1995,176-177
[42][42] Lihat Abd Rahman Ibn Kholdum, Muqaddimah
min Kitab al Ibar wa Diwan al Mubtada’ wa al Khabar fi Ayyam al Arab wa al Ajam
wa al Bar bar, Beirut, Dar al Fikr, TT, hlm. 476
[44][44] Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. Psikologi Pendidikan.
(Semarang: Unnes Press2009),43.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar